Peninjauan jargas oleh BPH Migas di Tarakan, Kalimantan Utara pada Jumat (27/3). Foto: Argya D. Maheswara/kumparan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) memastikan pasokan BBM untuk wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T) tetap terjaga. Selain itu, aspek harga dengan penerapan BBM satu harga dan kualitas juga menjadi hal yang diperhatikan.Salah satunya adalah SPBU 66.772.05 yang berada di Tanjung Palas, Bulungan, Kalimantan Utara. Untuk itu, Kepala BPH Migas, Wahyudi Anas juga melakukan pengecekan langsung terhadap kualitas BBM di SPBU 3T tersebut.“Ini penting untuk diketahui bagaimana kita menjaga layanan kepada masyarakat, baik memastikan kualitas dari BBM sama dari kiriman Pertamina yang dijual atau disalurkan kepada masyarakat, serta takaran dari nozzle ini sangat akurat,” kata Wahyu di SPBU 66.772.05 yang berada di Tanjung Palas, Bulungan, Kalimantan Utara pada Sabtu (28/3).Pengecekan dilakukan melalui metode bejana ukur 20 liter. Ketika BBM dituangkan dari nozzle dengan set 20 liter, jumlah BBM yang keluar dari nozzle di SPBU tersebut plus 5 mililiter (ml) atau menunjukkan hasil yang baik.“Hasilnya adalah plus 5 mililiter. Secara standar Pertamina untuk melakukan tes bejana ukur 20 liter dari nozzle ini, yang diizinkan plus minus 60 mililiter. Sementara meteorologi adalah toleransi plus minusnya adalah 100 mililiter. Artinya ini sangat bagus, apalagi toleransinya plus. Ini masyarakat yang diuntungkan secara kondisi ini,” ujarnya.Peninjauan SPBU 66.772.05 yang merupakan salah satu SPBU 3T di Tanjung Palas, Bulungan, Kalimantan Utara pada Sabtu (28/3/2026). Foto: Argya Maheswara/kumparanWahyu mengakui penyaluran BBM di daerah 3T memang memiliki tantangan tersendiri. Meski demikian, prosesnya terus dilakukan bahkan diterapkan BBM satu harga sehingga masyarakat di daerah 3T dapat merasakan BBM dengan harga yang sama dengan wilayah lainnya“Harganya sama untuk Solar Rp 6.800 dan untuk Pertalite harganya Rp 10.000, walaupun proses pengirimannya adalah merupakan pengambilannya dari terminal yang ada di Berau dan perjalanannya kurang lebih membutuhkan waktu 6-7 jam,” kata Wahyu.Dalam sehari, SPBU 66.772.05 melayani kebutuhan masyarakat yakni biosolar sebanyak 2.400 liter per hari dan 800 liter per hari untuk Pertalite.Peninjauan jargas oleh BPH Migas di Tarakan, Kalimantan Utara pada Jumat (27/3). Foto: Argya D. Maheswara/kumparan “Kebutuhan memang banyak untuk Solar. Tadi sudah kita saksikan masyarakat yang di sini dominasi adalah untuk angkutan perkebunan rakyat yaitu tadi kelapa sawit, kemudian untuk kirim air, kemudian kirim barang-barang dari sembako dan lain-lain dan merupakan kendaraan-kendaraan kecil yang pembeliannya kurang lebih maksimum hanya sekitar Rp 200.000,” ujarnya.Alung (38), salah satu pelanggan yang kumparan temui mengatakan memang di sekitar wilayah tersebut hanya terdapat 1 SPBU yang mudah dijangkau. Selain itu, jika dibandingkan sebelum BBM satu harga diterapkan, kondisi saat ini sangat membantu.“Kadang di sini, satu-satunya di sini. Sangat terbantu, dulu lebih tinggi (harganya),” kata Alung.