Linearitas atau Malapraktik? Mengapa Pendidik Wajib Lahir dari Rahim Keguruan

Wait 5 sec.

Ilustrasi kegiatan belajar dan mengajar di kelas. Foto: iStockDalam dunia medis, kita tidak akan pernah membiarkan seorang ahli teknik mesin (secerdas apa pun dia tentang struktur logam) untuk membedah jantung manusia hanya berbekal kursus singkat selama beberapa bulan. Kita sepakat bahwa itu adalah malapraktik.Mengapa? Karena dokter bukan sekadar pemegang pisau bedah; mereka adalah produk dari proses panjang yang mengasimilasi ilmu anatomi, fisiologi, hingga etika medis ke dalam sumsum tulang mereka.Namun, dalam dunia pendidikan kita hari ini, logika serupa seolah diabaikan. Muncul sebuah tren kebijakan yang memandang profesi pendidik (guru dan dosen) sebagai keterampilan teknis yang bisa "ditempelkan" pada siapa saja. Asalkan menguasai subjek materi, lalu ditambah sedikit polesan pelatihan profesi instan, jadilah mereka pendidik.Inilah awal dari bencana kualitas yang sedang kita tuai: Instanisasi Pendidik.Pendidikan Bukan Sekadar "Transfer File"Banyak pembuat kebijakan terjebak pada sesat pikir bahwa mengajar hanyalah soal memindahkan isi buku ke kepala siswa. Jika hanya itu standarnya, YouTube dan Artificial Intelligence (AI) sudah lama menggantikan peran guru.Ilustrasi guru. Foto: ShutterstockSeorang lulusan prodi keguruan yang ditempa selama empat tahun tidak hanya belajar "apa" yang akan diajarkan, tetapi juga yang paling krusial adalah "bagaimana" dan "mengapa". Mereka belajar psikologi perkembangan untuk memahami bahwa cara bicara pada anak usia 7 tahun tidak bisa disamakan dengan remaja 15 tahun. Mereka belajar pedagogi untuk mendiagnosis mengapa seorang siswa sulit memahami konsep, bukan sekadar menghakimi si siswa bodoh.Inilah yang saya sebut sebagai "Insting Pedagogis". Insting ini tidak bisa lahir dari program instan. Ia lahir dari habituasi, dari kegagalan praktik lapangan yang dievaluasi, dan dari filosofi pendidikan yang mendalam.Bahaya Malapraktik IntelektualKetika ruang-ruang kelas diisi oleh mereka yang tidak lahir dari rahim keguruan, kita sedang mempertaruhkan masa depan generasi. Tanpa fondasi ilmu pendidikan yang kuat, proses belajar-mengajar terjebak menjadi rutinitas administratif. Guru hanya mengejar ketuntasan kurikulum, bukan ketuntasan pemahaman.Hasilnya? Kita melihat degradasi kualitas pendidikan yang kian bobrok. Lulusan kita mungkin punya nilai di atas kertas, tapi rapuh dalam karakter dan kemampuan berpikir kritis. Ini adalah dampak nyata dari malapraktik intelektual yang dilakukan oleh tenaga pendidik yang "dipaksa" jadi guru karena tuntutan pasar kerja, bukan karena panggilan jiwa yang dibentuk sejak awal di bangku kependidikan.Mengembalikan Marwah KeguruanGuru menyampaikan materi pelajaran kepada siswa dalam kegiatan belajar mengajar di SDN Gotong Royong, Bandar Lampung, Lampung, Jumat (29/11/2024). Foto: Ardiansyah/ANTARA FOTOJika kita ingin memperbaiki kualitas bangsa, kita harus berani bersikap tegas pada aturan linearitas. Pendidik haruslah mereka yang memang sejak awal memilih jalan kependidikan.Standarisasi Eksklusif: Sebagaimana dokter harus dari Fakultas Kedokteran, pendidik (guru dan dosen) pun harus mutlak dari prodi keguruan.Menolak Jalur Pintas: Program profesi seharusnya menjadi ajang spesialisasi bagi lulusan keguruan, bukan "pintu belakang" bagi jurusan lain untuk mencari peruntungan di dunia pendidikan.Profesionalisme Bermartabat: Menjadikan profesi guru sebagai profesi tertutup akan meningkatkan wibawa dan harga diri profesi tersebut di mata masyarakat.Kita harus berhenti menjadikan posisi guru sebagai "pekerjaan cadangan" bagi mereka yang tidak terserap di sektor industri. Pendidikan adalah urusan membentuk manusia, dan manusia bukanlah benda mati yang bisa dikelola dengan proses instan.Sudah saatnya negara sadar: mengelola kelas tanpa ilmu pedagogi yang matang adalah malapraktik yang daya rusaknya jauh lebih luas daripada malapraktik medis. Jika kita terus berkompromi dengan proses instan, jangan heran jika kualitas bangsa ini pun akan terus berjalan di tempat.Kembalikan guru dan dosen ke rahim keguruan. Karena pendidikan bukan tentang seberapa cepat kita mengajar, melainkan tentang seberapa dalam kita membentuk jiwa.