Suasana rumah duka almarhumah Vica pada Rabu (29/04/2026). Foto: Sarah Tri Wulandari/kumparanMimpi terburuk yang tak pernah terbayangkan oleh orang tua mana pun harus dialami keluarga Vica Acnia Fratiwi (24). Kehilangan seorang anak menjadi kenyataan pahit yang datang begitu cepat, bahkan di saat mereka baru saja pulang melayat anggota keluarga yang meninggal di Pagaralam, Sumatera Selatan.Setibanya di Jakarta, duka itu bertambah. Putri ketiga mereka, Vica, diketahui menjadi salah satu korban dalam tabrakan KRL dan KA Argo Bromo Anggrek di Bekasi Timur pada Senin (27/4),Vica tumbuh di keluarga yang hangat dan penuh kasih. Sehari-hari, ia menjalani rutinitas sederhana, berangkat dan pulang kerja menggunakan KRL, dan biasanya tiba di rumahnya di Cikarang sekitar pukul 18.30 hingga 19.00 WIB.Pencarian Dimulai dari Tas yang DitemukanPetugas mengevakuasi korban kecelakaan KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi pascakecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTONamun pada hari kejadian, Vica tak kunjung pulang. Keluarga mulai cemas. Kakak, adik, hingga keluarga Vica berusaha mencari ke berbagai titik, termasuk Stasiun Bekasi Timur. Di sana, mereka menemukan tas milik Vica.Pencarian kemudian berlanjut ke sejumlah rumah sakit. Keluarga menyusuri satu per satu, berharap Vica masih bisa ditemukan dalam keadaan selamat. Namun, harapan itu pupus setelah mereka diminta melakukan tes DNA di RS Polri untuk proses identifikasi korban.“Kami rasakan itu pada saat kami sudah mendapatkan informasi resmi di RS Polri. Jadi, waktu itu ada informasi kurang lebih 10 jenazah di sana sedang dilakukan identifikasi. Dan sementara kami dari keluarga itu sudah diminta data, tes DNA,” ujar Kabul Aman, keluarga Vica.Hasil tes tersebut memastikan bahwa Vica menjadi salah satu korban meninggal dalam tragedi tersebut.Duka yang Dirasakan KeluargaKabar ini menjadi pukulan berat bagi kedua orang tua Vica. Mereka baru saja kembali usai menghadiri pemakaman anggota keluarga lain, namun harus kembali menerima kehilangan.Sang ayah tak kuasa menahan tangis dan histeris saat mengetahui putri yang sangat ia cintai telah tiada. Sementara sang ibu sempat tak percaya, bahkan meluapkan emosinya karena sulit menerima kenyataan tersebut hingga akhirnya sempat pingsan.Tim penyelamat dan teknisi bekerja bahu-membahu di lokasi kejadian pascatabrakan maut antara kereta komuter (Commuter Line) dan kereta api jarak jauh di Bekasi, pinggiran Jakarta, Selasa (28/04/2026). Foto: Willy Kurniawan/REUTERSVica merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Ia baru sekitar enam bulan tinggal di Bekasi setelah menyelesaikan kuliahnya di Universitas Lampung (Unila), dan sempat bekerja di Palembang.“Dia bekerja di tempat yang terakhir ini baru kurang lebih 5 bulan atau 6 bulan. Bertemannya secara baik dengan teman-teman, dari kalangan beliau bekerja, keluarga, tetangga,” ucapnyaKini, Vica telah dimakamkan. Kepergiannya meninggalkan duka mendalam bagi keluarga dan orang-orang terdekat, menjadi kehilangan yang tak mudah terobati.