Danantara Pastikan Tak Asal Taruh Investasi, Fokus ke yang Produktif

Wait 5 sec.

Ilustrasi Danantara. Foto: Iljanaresvara Studio/ShutterstockBadan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia memastikan tidak sembarangan dalam mengucurkan investasi. Wakil Ketua Dewan Pengawas Danantara Indonesia, Muliaman Hadad, mengatakan Danantara bakal terus berupaya meningkatkan kinerja.Ia menegaskan Danantara baru berjalan satu tahun. Sehingga kurang tepat kalau langsung dibandingkan kinerjanya dengan Sovereign Wealth Fund (SWF) negara lain, seperti Temasek Singapura dan Khazanah dari Malaysia."Danantara baru satu tahun. Jadi Temasek itu sudah hampir 47-50 tahun, kalau membandingkan dua hal ini, ya rada-rada enggak fair-lah, jadi berikan waktu Danantara untuk menunjukkan konsep yang bagus itu dikelola secara profesional dan lain sebagainya," ujar Muliaman saat Seminar BUMN Research Group, Kamis (30/4).Muliaman mengungkapkan saat ini Danantara memiliki sekitar 500 pegawai dengan pengalaman bekerja di berbagai perusahaan dan lembaga internasional. Menurutnya, selain dari total aset BUMN dan dividen yang besar, satu hal yang perlu diperhatikan dari Danantara adalah kemampuan pengembalian investasi.Muliaman Hadad ketika ditemui di Gedung Danantara, Jakarta Pusat pada Selasa (19/11/2024). Foto: Argya D. Maheswara/kumparan "Isu pertama adalah bagaimana satu sisi ini bisa efektif. Isu kedua tidak kalah pentingnya, bagaimana menginvestasikan hasil jerih payah dari air mata yang dikelola demikian susah itu ke arah sesuatu yang produktif," tegas Muliaman.Muliaman mencatat Danantara saat ini memiliki aset hampir USD 1 triliun, jika bisa mendapatkan Return on Asset (ROA) 3-5 persen saja, maka lembaga itu bisa mendapatkan modal besar untuk berinvestasi lebih lanjut."Kalau ROA yang 5 persen atau itu bisa di alokasikan ke sebelah kanan (investasi) itu, itu potensi untuk menjadi additional engineer luar biasa besar. Oleh karena itu mari kita sama-sama lihat, pantau bersama agar mekanisme atau konsep ini bisa berjalan dengan baik," tutur Muliaman.Sementara itu, Associate Director BUMN Research Group LM FEB UI, Toto Pranoto, mengatakan Danantara merupakan SWF terbesar ke-5 di dunia, dengan total aset kelolaan mencapai USD 900 miliar dengan modal minium Rp 1.000 triliun. Angka tersebut telah melampaui Temasek yang memiliki total aset USD 380 miliar."Angkanya juga akan in terms of asset sudah di atas Temasek. Tapi tentu sebagian besar juga masih berupa potensi yang kita harus segera juga lakukan eksekusi dengan baik sehingga betul-betul potensi ini bisa nyata menjadi kekuatan requirement dan investment dari Danantara ke depan," ujar Toto.Toto mengatakan kinerja konsolidasi BUMN juga selalu meningkat dari 2023, 2024, hingga 2025. Pada 2025, laba bersih berada di kisaran Rp 280 sampai Rp 332 triliun dengan setoran dividen ke negara mencapai Rp 140 triliun.Pengamat BUMN dari FE UI Toto Pranoto memaparkan kondisi BUMN di diskusi soal likuidasi BUMN, Rabu (17/11). Foto: Wendiyanto Saputro/kumparanHanya saja, Toto menegaskan masalah yang perlu digarisbawahi pada pengelolaan BUMN di Tanah Air adalah ROA dan Return on Equity (ROE) yang pada 2025 menurun masing-masing sebesar 2 persen dan 7,8 persen."Mungkin yang kita harus tingkatkan lagi adalah return on asset-nya, bagaimana kita mengutilisasi aset," tegas Toto.Sebagai perbandingan dengan Temasek dan Khazanah, Danantara memang memiliki total aset yang jauh lebih besar, yakni USD 838 miliar per akhir Desember 2025, sementara Khazanah hanya USD 34 miliar dan Temasek USD 324 miliar.Kendati demikian, dari sisi net portfolio, Danantara masih di kisaran USD 180 miliar, masih kalah dari Temasek yang sebesar USD 324 miliar, tetapi lebih baik dari Khazanah yang mencapai USD 23 miliar."Kalau kita mau lihat performance, kenapa kita tidak bisa bandingkan langsung dengan Temasek yang sudah umurnya 47 tahun atau Kazanah yang sudah didirikan sejak tahun katakanlah 1993. Tapi beberapa angka-angka mungkin bisa kita sampaikan," ungkap Toto.Selain itu, angka-angka lain yang menunjukan bahwa Danantara sudah bisa berkompetisi dengan SWF negara tetangga adalah dari sisi laba terkonsolidasi yang mencapai USD 19,9 miliar pada 2024, dividen ke negara sebesar USD 8,4 sampai USD 9 miliar pada 2025, hingga ROE implisit sebesar 9,3 persen dari laba atau ekuitas."Kita bisa bilang bahwa posisi Danantara sudah punya modal yang cukup kuat lah, tinggal nanti mungkin bagaimana kemampuan meng-generate ROE, kemudian juga dividen kalau dikaitkan Danantara atau BUMN dengan Khazanah juga kita berlipat-lipat lebih besar," tegas Toto.