Dekat dengan Makanan, Jauh dari Gizi: Ketika Kota Berubah Jadi Food Swamp

Wait 5 sec.

Ilustrasi anak makan ayam goreng fast food. Foto: ShutterstockAneh nggak sih, di kota yang katanya serba lengkap ini, kita justru lebih gampang nemuin kopi susu kekinian atau ayam goreng crispy dibanding sayur segar?Sekilas, hidup di perkotaan terasa seperti surga pilihan makanan. Mau makan apa saja tinggal buka aplikasi, pilih menu, lalu tunggu beberapa menit sampai makanan datang. Di sepanjang jalan, deretan gerai makanan cepat saji, minimarket, dan kafe modern seakan tidak pernah habis. Kota terlihat seperti ruang yang “ramah” terhadap kebutuhan pangan.Namun jika diperhatikan lebih dalam, yang melimpah itu bukan selalu yang menyehatkan. Pilihan makanan yang tersedia di sekitar kita justru didominasi oleh produk tinggi gula, garam, dan lemak, sementara akses terhadap makanan segar sering kali terasa lebih terbatas, baik dari segi harga, lokasi, maupun kemudahan mendapatkannya.Fenomena ini dikenal sebagai food swamp, yaitu kondisi ketika suatu lingkungan memiliki kelebihan akses terhadap makanan, tetapi mayoritas berupa makanan tidak sehat. Berbeda dengan food desert yang menggambarkan keterbatasan akses pangan, food swamp justru menunjukkan situasi sebaliknya: makanan ada di mana-mana, tetapi kualitasnya dipertanyakan. Kondisi ini semakin umum terjadi, seiring dengan perubahan gaya hidup dan perkembangan sistem pangan global.Ilustrasi masyarakat. Foto: Dmitry Nikolaev/ShutterstockPerubahan pola hidup masyarakat kota menjadi salah satu faktor utama. Mobilitas yang tinggi, tuntutan pekerjaan, dan keterbatasan waktu membuat banyak orang memilih makanan yang praktis dan cepat. Dalam situasi seperti ini, makanan instan dan ultra-proses menjadi solusi yang paling masuk akal.Selain mudah diakses, makanan jenis ini juga relatif murah dan memiliki rasa yang sudah disesuaikan dengan preferensi konsumen. Sementara itu, makanan segar sering kali membutuhkan waktu lebih untuk diolah serta biaya yang tidak selalu terjangkau oleh semua kalangan.Jika dilihat lebih jauh, kondisi ini tidak lepas dari bagaimana sistem pangan bekerja. Industri makanan modern mampu memproduksi makanan dalam jumlah besar dengan biaya rendah, sehingga produk olahan dapat dijual dengan harga yang kompetitif. Ditambah dengan strategi pemasaran yang masif—mulai dari iklan hingga promosi digital—makanan tidak sehat menjadi semakin menarik dan sulit dihindari. Lingkungan perkotaan pun secara perlahan berubah menjadi ruang yang mendorong konsumsi makanan tinggi kalori, atau yang sering disebut sebagai obesogenic environment.Yang menarik, kita sering merasa bahwa pilihan makan sepenuhnya berada di tangan kita. Padahal, lingkungan memiliki peran besar dalam membentuk preferensi tersebut. Ketika seseorang setiap hari terpapar pada makanan cepat saji, minuman manis, dan camilan olahan, pilihan itu perlahan menjadi kebiasaan. Apa yang awalnya hanya konsumsi sesekali berubah menjadi rutinitas. Food swamp tidak bekerja secara memaksa, tetapi secara halus membentuk pola konsumsi melalui ketersediaan dan kemudahan akses.Ilustrasi ultra processed food. Foto: ShutterstockNamun, persoalan ini tidak bisa dilepaskan dari aspek ketimpangan sosial. Tidak semua orang memiliki akses yang sama terhadap pilihan makanan sehat.Di beberapa kawasan perkotaan—terutama dengan tingkat ekonomi rendah—keberadaan pasar tradisional atau toko bahan pangan segar sangat terbatas. Sebaliknya, makanan olahan yang murah dan tahan lama justru lebih mudah ditemukan. Bagi kelompok masyarakat ini, makanan tidak sehat bukan sekadar preferensi, melainkan juga menjadi pilihan yang paling realistis dalam kondisi yang ada.Akibatnya, muncul paradoks dalam sistem pangan perkotaan. Di satu sisi, makanan tersedia dalam jumlah melimpah. Namun di sisi lain, kualitas konsumsi masyarakat justru mengalami penurunan. Tubuh mungkin mendapatkan cukup energi, bahkan berlebih, tetapi kekurangan zat gizi penting.Kondisi ini berkontribusi terhadap meningkatnya risiko penyakit tidak menular, seperti obesitas, diabetes, dan penyakit jantung. Dalam jangka panjang, fenomena ini juga berkaitan dengan munculnya beban gizi ganda, di mana kelebihan berat badan dapat terjadi bersamaan dengan kekurangan mikronutrien.Ilustrasi timbangan berat badan. Foto: ShutterstockLebih jauh lagi, fenomena food swamp memperlihatkan bahwa persoalan pangan tidak hanya berkaitan dengan individu, tetapi juga dengan sistem yang lebih luas. Pilihan makan seseorang tidak bisa dilepaskan dari lingkungan tempat ia tinggal, kondisi ekonomi, dan struktur distribusi pangan. Oleh karena itu, menyederhanakan masalah ini sebagai kurangnya kesadaran individu menjadi pendekatan yang kurang tepat.Sebaliknya, diperlukan upaya yang lebih komprehensif untuk menciptakan lingkungan pangan yang lebih sehat. Hal ini dapat dilakukan melalui berbagai cara, seperti meningkatkan akses terhadap bahan pangan segar, memperkuat sistem pangan lokal, dan mengatur distribusi dan pemasaran makanan tidak sehat. Selain itu, kebijakan publik juga memiliki peran penting dalam membentuk lingkungan yang mendukung pilihan makan yang lebih baik.Pada akhirnya, kota yang terlihat penuh dengan makanan tidak selalu menjamin kualitas konsumsi masyarakatnya. Ketersediaan pangan bukan satu-satunya indikator keberhasilan sistem pangan, melainkan juga bagaimana pangan tersebut dapat diakses dan apakah ia benar-benar mendukung kesehatan masyarakat. Food swamp menjadi pengingat bahwa persoalan pangan di perkotaan bukan hanya tentang jumlah makanan, melainkan juga tentang kualitas, distribusi, dan keadilan akses.Mungkin kita memang hidup di kota yang tidak pernah kehabisan makanan. Namun pertanyaannya: Apakah kita benar-benar hidup di lingkungan yang memudahkan kita untuk makan dengan lebih sehat?