BorneoFlash.com, OPINI - Hari Pendidikan Nasional bukan sekadar seremoni tahunan yang diperingati dengan upacara dan pidato formal. Ia adalah momentum reflektif—sebuah jeda yang memberi ruang bagi kita untuk bertanya secara jujur: ke mana arah pendidikan kita, dan sejauh mana generasi muda dipersiapkan untuk menghadapi masa depan yang kian kompleks?Di tengah arus perubahan global yang begitu cepat, generasi muda tidak lagi hanya dituntut untuk cerdas secara akademik. Mereka adalah pilar dan tonggak berdirinya suatu bangsa, fondasi yang menentukan apakah Indonesia akan berdiri kokoh atau goyah di tengah persaingan dunia. Oleh karena itu, generasi muda saat ini benar-benar harus siap menghadapi berbagai tantangan kekinian yang tidak lagi sederhana, melainkan multidimensional.Salah satu wajah paling nyata dari perubahan zaman adalah kehadiran kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI). Teknologi ini telah merambah hampir seluruh aspek kehidupan, mulai dari pendidikan, pekerjaan, hingga interaksi sosial. AI bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan telah menjadi “rekan kerja” yang mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitas manusia. Dalam dunia pendidikan, AI dapat membantu proses belajar menjadi lebih personal, adaptif, dan inklusif.Namun, di balik segala manfaatnya, AI juga menyimpan potensi ancaman yang tidak bisa diabaikan. Ketergantungan berlebihan pada teknologi dapat mengikis daya pikir kritis, kreativitas, bahkan integritas generasi muda. Informasi yang dihasilkan AI tidak selalu netral atau benar, dan tanpa kemampuan literasi digital yang kuat, generasi muda dapat dengan mudah terjebak dalam arus disinformasi.Di sinilah pendidikan memainkan peran yang sangat krusial. Pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada transfer pengetahuan, tetapi harus mampu membentuk karakter, etika, dan kemampuan berpikir kritis. Generasi muda harus diajarkan bukan hanya bagaimana menggunakan teknologi, tetapi juga bagaimana bersikap bijak terhadapnya. Mereka harus mampu membedakan mana informasi yang valid dan mana yang manipulatif, mana yang membangun dan mana yang merusak.Khususnya di Kalimantan Timur, tantangan ini memiliki dimensi yang lebih luas. Sebagai salah satu wilayah strategis yang tengah berkembang pesat, terutama dengan hadirnya Ibu Kota Nusantara (IKN), generasi muda di Kaltim berada di garis depan perubahan. Mereka tidak hanya menjadi saksi, tetapi juga aktor utama dalam transformasi sosial, ekonomi, dan budaya.Namun, perkembangan ini juga membawa konsekuensi. Arus modernisasi yang cepat berpotensi menggerus nilai-nilai lokal jika tidak diimbangi dengan kesadaran identitas dan karakter yang kuat. Generasi muda Kaltim harus mampu berdiri tegak, tidak kehilangan jati diri di tengah derasnya arus globalisasi. Mereka harus tetap berakar pada nilai-nilai budaya, sambil menjulang tinggi dalam kompetensi global.Sikap kritis menjadi kunci utama dalam menghadapi berbagai dinamika ini. Generasi muda tidak boleh hanya menjadi konsumen informasi atau pengikut tren semata. Mereka harus berani bertanya, mengkaji, dan bahkan mengoreksi jika diperlukan. Kritik yang konstruktif adalah bentuk kepedulian, bukan perlawanan. Dalam konteks pembangunan daerah, suara kritis generasi muda sangat dibutuhkan agar setiap kebijakan benar-benar berpihak pada kepentingan masyarakat luas.Lebih dari itu, generasi muda juga harus memiliki semangat juang yang tidak mudah padam. Mewujudkan cita-cita bangsa bukanlah proses instan, melainkan perjalanan panjang yang penuh tantangan. Dibutuhkan ketekunan, keberanian, dan integritas untuk tetap melangkah meski jalan terasa berat. Pendidikan harus mampu menanamkan nilai-nilai tersebut sejak dini, agar generasi muda tidak mudah goyah oleh godaan pragmatisme atau kenyamanan sesaat.Hari Pendidikan Nasional 2026 seharusnya menjadi pengingat bahwa masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa canggih teknologi yang kita miliki, tetapi oleh seberapa siap manusia yang menggunakannya. Generasi muda adalah harapan sekaligus penentu arah bangsa. Mereka harus dipersiapkan tidak hanya untuk menjadi pekerja yang kompeten, tetapi juga warga negara yang sadar, kritis, dan bertanggung jawab.Akhirnya, pendidikan yang kita bangun hari ini akan menentukan wajah Indonesia di masa depan. Jika kita ingin melihat bangsa yang maju, adil, dan berdaya saing, maka kita harus memastikan bahwa generasi muda kita tumbuh dengan kualitas terbaik,cerdas dalam berpikir, kuat dalam karakter, dan bijak dalam bertindak.Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026. Mari kita jaga semangat belajar, rawat nalar kritis, dan terus melangkah bersama menuju Indonesia yang lebih bermartabat. (*)Penulis: Syarkawi Darkasi Jabatan: Komnasdik Bidang Pengawasan dan Hukum Provinsi Kalimantan Timur No WhatsApp: 081346108911 Email: syarkawi11@gmail.com