Harga Pasir dan Semen Mulai Naik, REI Ungkap Penyebabnya

Wait 5 sec.

Harga pasir dan semen merangkak naik di sejumlah toko bangunan di Jakarta Selatan dan Bogor, Jumat (1/5/2026). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparanKenaikan harga sejumlah bahan bangunan mulai dirasakan di tingkat pedagang. Berdasarkan pantauan kumparan di beberapa toko material pada Jumat (1/5) di wilayah Jakarta dan Bogor, kenaikan terutama terjadi pada komoditas pasir dan semen.Di kawasan Tanjung Barat, Jakarta Selatan, aktivitas toko bangunan tampak berjalan normal di tengah cuaca cerah. Sejumlah pekerja terlihat lalu-lalang, sementara kendaraan pikap keluar-masuk membawa material seperti pasir, semen, hingga besi.Karyawan TB Surya di Tanjung Barat, Indi, mengungkapkan harga pasir mengalami kenaikan dalam beberapa waktu terakhir.“Pasir lagi naik Rp 10.000, satu colt itungannya Rp 335.000, itu pakai yang kecil mobilnya,” ungkap Indi ketika ditemui kumparan, Jumat (1/5).Indi menjelaskan ada beberapa jenis pasir yang dijual di tokonya, dengan harga yang berbeda. “Pasir yang item, sama pasir bangka. Pasir hitam itu Rp 275.000 satu colt,” terangnya.Selain pasir, harga semen juga mengalami kenaikan meski tidak terlalu signifikan. Harganya kini Rp 52.000 per sak atau naik Rp 2.000. Menurut Indi, kenaikan harga ini dipicu oleh faktor dari pemasok.Harga pasir dan semen merangkak naik di sejumlah toko bangunan di Jakarta Selatan dan Bogor, Jumat (1/5/2026). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparan“Dari sananya (tangan pertama), kan ambilnya di Bogor. Sejak bulan lalu (naik), 2 bulan lalu kita enggak naikin,” jelas Indi.Sementara, harga bahan bangunan lain tidak mengalami kenaikan seperti batu bata dijual mulai Rp 800 per buah, batako sekitar Rp 4.000 per buah atau Rp 600.000 per kubik.Kondisi serupa juga ditemui di wilayah Bogor. Di salah satu toko material, karyawan TB Gallery, Oddi, menyebut harga pasir di wilayahnya relatif lebih stabil karena sumber pasokan lebih dekat.“Pasir satu colt Rp 250.000, normal di sini, ambilnya (pasir) deket sini juga. Satu sak Rp 10.000-an dikasih,” jelas Oddi.Oddi menuturkan harga semen masih tergolong terjangkau seharga Rp 51.000 per sak. Namun, dia mencatat ada kenaikan pada material tertentu seperti baja ringan. “Baja paling naik dikit yang kanal c jadi Rp 85.000 yang 0,75 mm,” terang Oddi.Harga pasir dan semen merangkak naik di sejumlah toko bangunan di Jakarta Selatan dan Bogor, Jumat (1/5/2026). Foto: Muhammad Fhandra Hardiyon/kumparanKenaikan harga semen dan pasir direspons oleh Wakil Ketua Umum Asosiasi Realestat Indonesia (REI), Bambang Ekajaya. Dia mengatakan naiknya harga bahan bangunan di tingkat konsumen bukan semata akibat permintaan dalam negeri, tetapi dipengaruhi oleh sejumlah faktor luar yakni perang di Iran.Bambang menjelaskan, dari sisi pasar properti, kondisi saat ini masih cenderung lesu. Daya beli masyarakat belum pulih sepenuhnya, seiring tekanan ekonomi seperti gelombang Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) dan pertumbuhan yang belum stabil.“Kalau kita bicara mengenai daya beli, lalu market properti sendiri kan sekarang lagi lesu ya, apalagi dengan banyak PHK terus program pemerintah ini kan mungkin berimpact terhadap pertumbuhan yang relatif stagnan atau bahkan agak sedikit negatif kan,” kata Bambang ketika dihubungi kumparan, Jumat (1/5).Menurut Bambang, salah satu komponen utama dalam pembentukan harga bahan bangunan adalah biaya transportasi. Proses distribusi material, mulai dari pengambilan hingga pengiriman, sangat bergantung pada sektor logistik.“Kita juga ngeliat ya, kalau seluruh bahan bangunan itu mungkinlah komponen utamanya adalah salah satunya transportasi, mulai dari misalnya pasir pengambilannya, pengirimannya itu semua kan transportasi,” jelas dia.Katanya, bobot material yang relatif berat turut memperbesar porsi biaya distribusi dalam harga jual. Selain faktor logistik, Bambang juga menyoroti kebergantungan pada bahan baku impor dalam industri material bangunan, seperti semen dan keramik.“Macem-macem, mulai dari kalau untuk yang komponen semen dan sebagainya, ya sebagian ada yang dari China pasti kan, kemudian juga ada yang dari Timur Tengah. Itu semua kan dibeli dengan dolar kan,” terang Bambang.Di sisi lain, Bambang menilai program tiga juta rumah tetap memberikan dampak positif terhadap sektor properti, meski daya beli masyarakat belum sepenuhnya pulih.“Efek itu positif ya, karena dengan kondisi yang sekarang ini, daya beli yang belum ada itu kan ditopang sama rumah-rumah subsidi,” tutur Bambang.