● Nostalgia kenangan indah bisa menjadi “sumber kekuatan psikologis” yang menjaga kesehatan mental dan fisik.● Perasaan ini membantu kita lebih berdaya, merasa dicintai dan berharga.● Orang yang bernostalgia sering kali memiliki daya tahan lebih baik terhadap rasa sakit.Pernahkah kamu tersenyum sendiri saat mendengar lagu lama, melihat foto masa kecil, atau menghirup aroma tertentu? Seketika rasa hangat muncul, ditambah sedikit rindu dan perasaan sedih. Itulah nostalgia.Nostalgia sering kali disalahpahami sebagai kerinduan sentimental yang pasif ke masa lalu. Namun, penelitian dalam Humanities & Social Sciences Communications (2025) mengungkap bahwa cara kerja nostalgia lebih dari itu.Nostalgia dengan mengingat kenangan indah di masa lalu bisa menjadi “sumber kekuatan” psikologis yang membantu menjaga kesehatan mental dan fisik kita.Kenangan baik bikin hidup lebih bermaknaNostalgia adalah emosi campuran yang berpusat pada pengalaman diri. Selain mengandung rasa rindu dan kehilangan, nostalgia juga memberikan kehangatan dan cinta. Saat kita mampu merasakan kedua sisi emosi tersebut sekaligus, artinya kita sudah memiliki kematangan psikologis. Kita tidak lagi menolak rasa kehilangan, tetapi menerima dan menempatkannya sebagai bagian dari hidup. Karena itu, nostalgia lebih dari sekadar mengingat-ingat masa lalu. Nostalgia menjadi proses emosional yang membantu kita memahami pengalaman hidup dengan lebih dewasa. Nostalgia bisa membuat kita kembali termotivasi, merasa berharga, dan dicintai. Dari perspektif psikologi, salah satu fungsi terpenting nostalgia adalah memelihara keberlanjutan diri (self-continuity). Menurut teori narrative identity yang dikembangkan Psikolog Amerika Serikat Dan McAdams, identitas manusia terbentuk dari cerita hidup yang kita susun mengenai diri sendiri.Saat kita mengalami trauma atau stres, identitas diri kita sering kali terancam. Akibatnya, narasi hidup alias pemahaman kita terhadap diri sendiri ikut terganggu. Nostalgia bisa membantu merajut kembali narasi hidup dan identitas kita. Caranya dengan menghadirkan kembali momen-momen yang mengingatkan kita kepada nilai hidup, hubungan yang bermakna, serta pencapaian kita. Ketika kita merasa gagal atau kehilangan arah, nostalgia kenangan indah bisa menjadi semacam “pengingat emosional” bahwa kita pernah merasa berharga, dicintai, dan berdaya. Ini membuat kita tetap merasa utuh dan tidak mudah goyah dalam menghadapi tekanan hidup.Berbagai penelitian menunjukkan bahwa mengingat pengalaman yang indah bisa menyangga kecemasan mendalam, termasuk ketakutan akan kematian (death anxiety). Kenangan manis menghadirkan rasa aman dan keyakinan bahwa hidup kita bernilai. Perasaan ini membantu meredakan rasa sakit psikologis, sehingga membuat kita lebih kuat menjalani masa kini. Baca juga: Konser dangdut koplo: Wadah nostalgia kaum urban Jawa ‘Pengganti’ dukungan sosialBiasanya, saat kita stres, salah satu hal yang paling membantu adalah dukungan dari orang lain.Tapi bagaimana jika hal ini sedang tidak kita miliki? Menariknya, penelitian menemukan bahwa nostalgia bisa menjadi cara mengatasi stres tanpa harus bergantung pada orang lain.Ketika kita mengenang momen indah bersama orang-orang yang berarti, muncul kembali perasaan dicintai dan dimiliki. Perasaan ini membuat kita merasa lebih terhubung, meski sedang sendirian. Itulah sebabnya orang yang merasa kesepian atau dikucilkan bisa merasa lebih cepat membaik saat mengenang kenangan hangat. Hal ini jika dibandingkan dengan mengingat peristiwa biasa tanpa makna emosional. Kenangan mengenai sosok yang suportif, seperti orang tua, sahabat, atau pasangan, menghidupkan kembali rasa aman itu di dalam diri kita.Jadi, meskipun kita sedang sendirian, tubuh dan pikiran tetap menerima “sinyal aman”. Inilah yang membuat nostalgia tidak hanya menghangatkan hati, tetapi juga bisa menurunkan ketegangan dan membuat kita merasa lebih tenang. Baca juga: Album ‘30’ Adele: mengapa lagu-lagu sedih membuat kita merasa lebih baik? Mengurangi rasa sakit lewat emosi positifSecara sederhana, rasa sakit fisik dan emosional diproses di area otak yang saling berkaitan. Itu sebabnya patah hati bisa terasa “sesakit” luka fisik. Nostalgia kenangan indah bekerja dengan memenuhi pikiran kita lewat emosi positif, seperti kebahagiaan, cinta, dan kehangatan—yang membantu menenangkan sistem saraf. Emosi-emosi ini membuat kita tidak terlalu sensitif terhadap rasa sakit.Bahkan, dalam situasi “nyeri empati”, seperti saat melihat orang lain terluka atau sedih, nostalgia dapat membantu otak agar tidak terlalu larut dalam reaksi negatif. Karena perhatian kita sedang terarah pada kenangan yang menguatkan diri, pikiran menjadi lebih stabil dan hangat.Ini menjadi alasan mengapa orang yang sedang bernostalgia sering kali memiliki daya tahan lebih baik terhadap rasa sakit, baik fisik maupun emosional. Seolah-olah, kenyamanan dari masa lalu memberi bantalan lembut bagi pikiran, sehingga beban yang terasa berat menjadi sedikit lebih ringan.Pada akhirnya, nostalgia bukan sekadar ingatan. Perasaan ini bisa menjaga rasa berdaya, rasa syukur, dan optimisme kita. Jessica Christina Widhigdo tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.