Menambal Kerentanan Ujung Kereta

Wait 5 sec.

Petugas mengevakuasi gerbong KRL Commuterline dan KA Argo Bromo Anggrek relasi Gambir-Surabaya Pasar Turi pascakecelakaan di Stasiun Bekasi Timur, Bekasi, Jawa Barat, Selasa (28/4/2026). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTOBayangkan Anda adalah seorang perempuan yang setiap hari harus bertarung dengan riuh rendahnya Jakarta, khususnya di dalam kereta. Di tengah kepungan polusi, kemacetan, dan tuntutan ekonomi yang kian menjerat di tahun 2026, kereta adalah satu-satunya napas yang tersisa.Dan di dalam rangkaian besi panjang itu, "Kereta Khusus Perempuan" adalah sebuah suaka. Sebuah ruang kecil yang menjanjikan martabat bahwa di sana aman dan Anda tidak perlu khawatir akan tangan-tangan jahil atau himpitan fisik yang melecehkan.Namun, tragedi di Stasiun Bekasi Timur Senin malam kemarin merobek rasa aman itu dengan cara yang paling brutal. Ketika tabrakan terjadi, gerbong yang dianggap sebagai "zona nyaman" itu justru berubah menjadi "zona maut". Fakta bahwa korban jiwa semuanya adalah penghuni gerbong ujung ini memicu debat publik yang panas. Banyak yang berteriak, "Pindahkan gerbong perempuan ke tengah!"Namun, tunggu dulu. Saya mencoba melihat dari sudut pandang sosiologi (dan sesekali merenung sambil menyeruput kopi gula aren di pinggir rel). Saya merasa usulan memindah-mindahkan gerbong itu adalah cara berpikir yang malas. Itu seperti menyuruh orang pindah rumah karena daerahnya rawan banjir, alih-alih memperbaiki sistem drainasenya. Masalah sesungguhnya bukan pada di mana mereka duduk, melainkan pada bagaimana sistem keselamatan kita memperlakukan mereka yang berada di posisi paling rentan.Inklusivitas yang Setengah HatiDalam sudut pandang sosiologi, saya mengenal konsep inklusivitas tidak sekadar memberikan ruang khusus bagi kelompok tertentu, tetapi juga memastikan bahwa ruang tersebut memiliki standar keamanan dan martabat yang setara dengan ruang lainnya.Ilustrasi KRL. Foto: Fanny Kusumawardhani/kumparan Memberikan kereta khusus perempuan di ujung rangkaian kereta adalah sebuah kebijakan inklusif secara sosial—hal itu merespons kebutuhan perempuan akan ruang aman dari pelecehan. Namun, secara fisik-struktural, kebijakan ini menjadi paradoks yang mematikan.Mengapa? Karena dalam arsitektur kereta api, ujung depan dan belakang adalah crumple zone area yang memang dirancang untuk hancur lebih dulu guna menyerap energi benturan agar gerbong-gerbong di tengah tetap utuh. Di sinilah letak ketidakadilannya. Kita menempatkan kelompok yang ingin kita "lindungi" secara sosial ke dalam posisi yang paling tidak terlindungi secara mekanis. Ini bukan inklusivitas, melainkan penempatan tumbal yang dibungkus dengan pita kepedulian.Sosiolog ternama Iris Marion Young dalam bukunya Justice and the Politics of Difference pernah mengingatkan:"Keadilan seharusnya tidak hanya merujuk pada distribusi, tetapi juga pada kondisi institusional yang diperlukan untuk pengembangan dan pelaksanaan kapasitas individu serta komunikasi dan kerja sama kolektif."Jika kita bawa kutipan itu ke atas rel, keadilan bagi penumpang perempuan bukan berarti sekadar "didistribusikan" ke kereta ujung agar tidak diganggu laki-laki. Keadilan berarti negara dan operator kereta api wajib menyediakan "kondisi institusional" (dalam hal ini teknologi keselamatan) yang memastikan bahwa berada di gerbong ujung tidak berarti sedang memesan tiket menuju maut.Ilustrasi gerbong perempuan. Foto: kumparanJangan Pindahkan Orangnya, Perbaiki BentengnyaWacana untuk memindahkan gerbong perempuan ke tengah rangkaian mungkin terdengar logis secara sekilas. Namun, jika kita melihat dari sudut pandang manajemen massa dan sosiologi ruang, pemindahan itu akan menciptakan masalah baru, yaitu penumpukan penumpang di peron tengah, kekacauan arus naik-turun, dan hilangnya fungsi "sekat sosial" yang selama ini sudah terbentuk. Memindahkan mereka hanyalah solusi kosmetik untuk menghindari tanggung jawab teknis yang lebih besar.Fokus publik seharusnya tidak diarahkan pada pemindahan posisi, tetapi pada penguatan sistem keselamatan di area crumple zone tersebut. Di tahun 2026, seharusnya kita tidak lagi bicara soal gerbong yang remuk seperti kaleng kerupuk.Teknologi Advanced Energy Absorbers (penyerap energi tingkat lanjut) dan sistem Anti-Climbing yang mencegah gerbong bertumpuk saat tabrakan seharusnya sudah menjadi standar wajib, terutama untuk gerbong-gerbong yang dialokasikan bagi kelompok rentan.Membangun sistem keselamatan di ujung kereta adalah bentuk nyata dari inklusivitas. Inklusivitas berarti mengakui bahwa ada orang-orang yang memilih berada di sana karena kebutuhan sosial, dan karena itu, sistem teknis harus beradaptasi untuk melindungi pilihan tersebut.Lalu, apabila kita bangga dengan kereta cepat yang bisa melesat ratusan kilometer per jam, mengapa kita begitu pelit berinvestasi pada teknologi buffer (penyangga) yang bisa menyelamatkan nyawa di gerbong komuter?Masyarakat Risiko dan Normalisasi KelalaianIlustrasi masyarakat. Foto: Djem/ShutterstockTragedi ini membawa kita kembali pada pemikiran Ulrich Beck tentang Risk Society (Masyarakat Risiko). Beck berpendapat bahwa di dunia modern, risiko adalah produk sampingan dari kemajuan yang sering kali tidak terkelola dengan baik. Celakanya, risiko ini tidak pernah terbagi secara adil. Kelompok kelas menengah-bawah yang mengandalkan transportasi publik selalu memikul beban risiko yang lebih besar dibandingkan mereka yang duduk nyaman di dalam mobil pribadi yang tahan benturan.Kecelakaan di Bekasi Timur kemarin adalah manifestasi dari "normalisasi kelalaian". Kita sudah terlalu terbiasa melihat perlintasan sebidang yang dijaga oleh sukarelawan dengan peluit seadanya. Kita sudah terlalu maklum melihat kereta jarak jauh dan KRL berbagi jalur yang sama di area yang sangat padat. Ketika kecelakaan terjadi, kita sibuk menyalahkan sopir taksi yang mogok, seolah-olah dia adalah satu-satunya penyebab kiamat kecil itu.Padahal, dalam sosiologi sistem, sopir taksi itu hanyalah pemicu kecil. Kegagalan sesungguhnya ada pada sistem persinyalan otomatis yang tidak intervensi, dan pada desain kereta yang tidak mampu melindungi penghuninya. Kita terjebak dalam apa yang disebut automation bias atau terlalu percaya bahwa teknologi otomatis pasti aman, sampai kita lupa melakukan audit pada "lubang-lubang" kecil yang bisa berakibat fatal.Politik Mobilitas dan Hierarki NyawaAda sebuah kepahitan yang harus kita telan: ada hierarki nyawa dalam kebijakan mobilitas kita. Kita melihat bagaimana jalur-jalur transportasi kelas atas dibangun dengan standar keamanan internasional, sistem pengawasan 24 jam, dan pemisahan jalur yang sempurna. Namun, di jalur Bekasi yang setiap hari mengangkut keringat para buruh dan pekerja kantoran, standar keselamatannya seolah-olah "yang penting jalan".Perlintasan sebidang (JPL) di Bekasi Timur yang menjadi lokasi kejadian adalah bukti nyata betapa lambatnya negara hadir dalam melindungi mobilitas warga. Bertahun-tahun isu ini dibahas, bertahun-tahun pula nyawa dipertaruhkan setiap kali palang pintu turun. Bagi saya, ini bukan sekadar masalah infrastruktur, melainkan juga masalah pengabaian kelas.Sejumlah calon penumpang tengah menunggu jadwal keberangkatan kereta di Stasiun Bekasi Timur, Duren Jaya, Kota Bekasi, Kamis (30/4/2026). Foto: Jeni Ritanti/kumparanMasyarakat yang dipaksa bergerak cepat demi putaran ekonomi negara justru diberi fasilitas yang menempatkan mereka dalam bahaya setiap detiknya. Inklusivitas dalam keselamatan kereta api tidak boleh hanya berhenti pada pemberian ruang khusus gender, tetapi juga harus menyentuh akar masalah, yaitu penghapusan seluruh perlintasan sebidang dan peningkatan kekuatan struktural rangkaian kereta yang melayani rakyat banyak.Mengembalikan Hak untuk AmanPada akhirnya, refleksi dari tragedi ini seharusnya tidak membuat kita takut untuk naik kereta. Kereta api tetaplah moda transportasi paling demokratis dan efisien yang kita miliki. Namun, kita harus berhenti menerima "mati konyol" sebagai bagian dari risiko perjalanan.Inklusivitas sejati dalam transportasi publik adalah ketika seorang perempuan bisa duduk di kereta paling belakang, memejamkan mata sejenak karena lelah, dan merasa yakin bahwa teknologi di bawah lantai dan di ujung rangkaian keretanya akan menjaganya tetap hidup Namun bila sesuatu yang buruk terjadi, keamanan tidak boleh menjadi hak istimewa mereka yang duduk di kereta tengah saja.Kita tidak butuh pemindahan kereta yang hanya akan menambah kerumitan sosiologis di stasiun. Yang kita butuhkan adalah kemauan politik untuk memperkuat "benteng" di ujung-ujung kereta kita. Jangan biarkan kereta khusus perempuan tetap menjadi tempat yang nyaman secara sosial, tapi rapuh secara fisik.Sudah saatnya kita menuntut agar nyawa para komuter dihargai lebih tinggi daripada sekadar angka dalam laporan kecelakaan. Sebab, inklusivitas tanpa keamanan hanyalah sebuah janji palsu yang aromanya amis. Pemerintah harus membangun sistem yang benar-benar melindungi, bukan sistem yang hanya pandai mencari alasan saat tragedi kembali berulang di ujung rel yang sama.