Ilustrasi pekerja. Foto: UnsplashSetiap 1 Mei, kita menyebutnya Hari Buruh. Namun pertanyaannya: Apakah kita benar-benar memahami luka sejarah di balik tanggal itu? May Day bukan lahir dari panggung seremoni, spanduk formal, atau ucapan selamat yang dingin. May Day lahir dari tubuh-tubuh buruh yang lelah, dari jam kerja yang panjang, dari upah yang tidak layak, dan dari keberanian pekerja untuk berkata: cukup.Sejarah mencatat, pada 1 Mei 1886, ratusan ribu buruh di Amerika Serikat melakukan mogok besar untuk menuntut jam kerja delapan jam. Peristiwa Haymarket di Chicago kemudian menjadi simbol bahwa hak buruh tidak pernah jatuh dari langit. Hak itu diperjuangkan melalui solidaritas, pengorbanan, dan keberanian melawan ketidakadilan.Karena itu, May Day tidak boleh diperingati sebagai acara tahunan yang selesai setelah pidato, panggung hiburan, atau unggahan media sosial. May Day harus menjadi ruang untuk mengingat bahwa di balik pertumbuhan ekonomi, ada pekerja yang sering kali dibayar murah, mudah diganti, dan tidak selalu terlindungi.Eksploitasi Buruh Tidak Hilang, Hanya Berubah BentukHari ini, eksploitasi terhadap buruh tidak selalu tampil dalam bentuk lama seperti jam kerja ekstrem tanpa batas. Bentuknya berubah menjadi PHK, outsourcing, kontrak pendek, upah yang tidak sebanding dengan biaya hidup, dan ketidakpastian masa depan. Buruh mungkin terlihat bekerja dalam sistem modern, tetapi kerentanannya tetap nyata.Ilustrasi PHK. Foto: ShutterstockData Kementerian Ketenagakerjaan menunjukkan bahwa PHK di Indonesia masih menjadi persoalan serius. Pada 2020, jumlah pekerja terkena PHK mencapai 386.877 orang. Angka ini memang sempat turun pada 2021 dan 2022, tetapi kembali naik pada 2023, 2024, hingga mencapai 88.519 orang pada 2025.Data ini menunjukkan bahwa ancaman kehilangan pekerjaan bukan sekadar cerita sesaat, melainkan juga realitas yang terus menghantui kelas pekerja.Masalahnya, ketika perusahaan bicara efisiensi, buruh sering menjadi korban pertama. Ketika ekonomi sulit, buruh diminta memahami keadaan. Namun ketika keuntungan meningkat, belum tentu kesejahteraan buruh ikut naik. Di sinilah letak ketidakadilannya: pekerja diminta loyal kepada sistem, tetapi sistem belum tentu setia kepada pekerja.Solidaritas Buruh Jangan Berhenti sebagai SeremoniMay Day seharusnya menjadi momentum memperkuat solidaritas buruh, bukan sekadar agenda seremonial. Solidaritas berarti buruh tidak berjalan sendiri-sendiri. Buruh pabrik, guru honorer, pekerja rumah tangga, pengemudi ojek online, pekerja kontrak, buruh perempuan, dan pekerja muda perlu dilihat sebagai bagian dari persoalan yang sama: sama-sama menghadapi ketidakpastian kerja dan lemahnya perlindungan.Aksi buruh pada May Day di Jakarta menunjukkan bahwa suara kolektif masih penting. Jumlah massa buruh mencapai sekitar 50.000 orang pada 2023, sekitar 48.300 pada 2024, dan diperkirakan sekitar 200.000 pada 2025. Angka ini bukan sekadar jumlah peserta demonstrasi. Ia adalah tanda bahwa keresahan buruh belum selesai dan masih membutuhkan ruang perjuangan bersama.Ilustrasi May Day. Foto: Basith Subastian/kumparanKarena itu, May Day harus menjadi ruang konsolidasi. Serikat pekerja perlu diperkuat, pendidikan politik buruh perlu diperluas, dan tuntutan buruh harus terus dikawal setelah tanggal 1 Mei berlalu. Tanpa solidaritas, tuntutan buruh mudah dipatahkan. Tanpa organisasi, kemarahan buruh mudah hilang. Tanpa kesadaran bersama, May Day hanya menjadi perayaan kosong.Tuntutan Buruh adalah Tuntutan Keadilan SosialTuntutan buruh pada May Day 2025 menunjukkan bahwa persoalan buruh tidak sederhana. Mereka menuntut penghapusan outsourcing, pembentukan satgas PHK, upah layak, regulasi ketenagakerjaan yang lebih adil, pengesahan RUU Perlindungan Pekerja Rumah Tangga, dan pemberantasan korupsi. Tuntutan ini bukan permintaan berlebihan, melainkan suara dasar dari warga negara yang ingin bekerja dengan aman dan hidup secara layak.Upah layak bukan kemewahan. Perlindungan kerja bukan hadiah. Kepastian kerja bukan tuntutan manja. Semua itu adalah bagian dari hak dasar pekerja. Negara tidak boleh hanya hadir untuk menjaga iklim investasi, tetapi juga harus hadir untuk memastikan bahwa buruh tidak dikorbankan atas nama pertumbuhan ekonomi.Relevansinya semakin kuat pada May Day 2026. KSPI kembali menyoroti isu outsourcing, ancaman PHK, upah murah, dan lemahnya implementasi kebijakan perlindungan buruh di lapangan.Ilustrasi buruh. Foto: seeshooteatrepeat/ShutterstockArtinya, tuntutan buruh tidak berubah karena masalah dasarnya belum selesai: pekerja masih hidup dalam bayang-bayang ketidakpastian kerja, sementara kebijakan negara belum sepenuhnya mampu menjamin perlindungan yang nyata.May Day akhirnya mengingatkan kita bahwa pembangunan tidak boleh hanya diukur dari angka investasi dan keuntungan perusahaan. Pembangunan harus diukur dari hidup manusia yang bekerja di dalamnya. Jika buruh masih mudah di-PHK, dibayar murah, dan dipaksa hidup dalam ketidakpastian, ada yang salah dalam arah pembangunan kita.May Day Harus Menjadi Gerakan, bukan KenanganMay Day bukan nostalgia masa lalu. May Day adalah peringatan bahwa perjuangan buruh belum selesai. Sejarah Haymarket mengajarkan bahwa perubahan hanya lahir ketika buruh berani bersatu. Data PHK hari ini menunjukkan bahwa ketidakadilan kerja masih terus berulang.Karena itu, posisi kita jelas: May Day harus menjadi momentum memperkuat solidaritas buruh. Jangan biarkan ia berhenti sebagai seremoni tahunan. Jangan biarkan suara buruh hanya ramai pada 1 Mei, lalu sepi setelahnya.May Day harus hidup sebagai gerakan, sebagai kesadaran, dan sebagai keberanian bersama untuk mengatakan bahwa buruh bukan alat produksi. Buruh adalah manusia. Dan manusia yang bekerja berhak hidup layak, aman, dan bermartabat.