Bahaya Gas Air Mata, Memicu Gangguan Pernapasan hingga Risiko Kematian

Wait 5 sec.

Ilustrasi gas air mata. (dok. VOI)JAKARTA - Beberapa hari ini, aparat kembali menggunakan gas air mata untuk membubarkan demonstrasi di depan Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta. Zat kimia ini memang dirancang sebagai pengendali massa, namun efeknya pada tubuh bisa sangat menyakitkan, mulai dari rasa perih, terbakar, hingga kesulitan bernapas.Sayangnya, masih banyak mitos seputar penanganan paparan gas air mata. Misalnya, sebagian peserta demo mengoleskan pasta gigi ke wajah untuk mengurangi rasa perih. Padahal, cara ini tidak memberikan perlindungan sama sekali, hingga merusak kulit.Meskipun disebut 'gas', gas air mata sebenarnya bukan gas murni. Dilansir dari laman Medical News Today, gas air mata berbentuk zat kimia padat atau cair yang disebarkan dalam bentuk bubuk atau larutan.Ketika bereaksi dengan kelembapan, zat ini memicu rasa sakit dan iritasi, terutama pada bagian tubuh yang lembap seperti mata, mulut, tenggorokan, dan paru-paru.Jenis bahan kimia yang umum dipakai antara lain CN (chloroacetophenone), CS (chlorobenzylidenemalononitrile), PS (chloropicrin), CA (bromobenzylcyanide), CR (dibenzoxazepine), dan campuran zat kimia lain.Gas air mata juga dikenal dengan nama lain seperti mace, pepper spray, capsicum spray, atau riot control agents. Awalnya dikembangkan untuk militer, penggunaannya kini dilarang dalam perang, namun masih sering dipakai aparat keamanan untuk mengendalikan kerumunan.Efek Jangka PendekPaparan gas air mata biasanya menimbulkan gejala langsung, seperti:- Mata berair, perih, dan merah- Pandangan kabur- Sensasi terbakar di mulut dan hidung- Mual atau muntah- Batuk, sesak, hingga dada terasa tercekik- Iritasi dan ruam kulitSebagian besar gejala mereda dalam 15–20 menit setelah menjauh dari sumber paparan. Namun, tabung gas air mata itu sendiri juga berbahaya karena bisa menimbulkan luka bakar, cedera kepala, wajah, atau mata akibat benturan.Efek Jangka Panjang dan Risiko KematianPenelitian masih terbatas, tetapi paparan yang intens, terutama di ruang tertutup bisa menimbulkan:- Glaukoma atau kebutaan- Luka bakar kimia- Gagal napasSebuah studi (2017) menganalisis 5.910 kasus paparan gas air mata selama 25 tahun. Hasilnya:- 2 kematian akibat gagal napas dan cedera kepala dari tabung gas- 58 cacat permanen, meliputi gangguan pernapasan kronis, masalah mental akibat trauma, kebutaan, cedera otak, amputasi dan kehilangan fungsi anggota tubuh, hingga masalah kulit berkepanjangan.Faktor Risiko yang Memperparah Dampak dari Gas Air MataBeberapa kondisi dapat membuat efek gas air mata lebih parah, antara lain:- Penyakit pernapasan seperti asma atau PPOK- Paparan di ruangan tertutup- Konsentrasi zat yang tinggi akibat banyaknya tabung gasCara Penanganan saat TerpaparLangkah darurat yang perlu dilakukan:- Menjauh dari sumber paparan dan cari udara segar, sebaiknya di tempat lebih tinggi.- Tutupi mulut dan hidung dengan kain bersih atau bagian dalam pakaian. Masker debu dan kacamata pelindung dapat membantu.- Lepas pakaian terkontaminasi, hindari melepasnya lewat kepala. Lalu, simpan dalam kantong plastik tertutup.- Cuci tubuh dan wajah dengan sabun lembut serta air mengalir sebanyak mungkin.- Bilas mata dengan air bersih 10–15 menit. Jika memakai lensa kontak, segera melepasnya.- Jika ada luka bakar kimia, bilas dengan air, dinginkan, lalu tutup perban steril.Tidak ada bukti ilmiah bahwa metode 'rumahan' seperti pasta gigi, kain cuka, atau menghirup bawang efektif melawan gas air mata.Segera cari pertolongan medis jika muncul gejala serius, seperti sesak napas berat, luka bakar kimia, gangguan penglihatan, hingga reaksi kulit parah.