Penyebab Stroke di Usia Muda, Waspadai Gejala Ringan yang Sering Diabaikan

Wait 5 sec.

Ilustrasi stroke di usia muda. (Freepik)JAKARTA – Selama ini stroke kerap dianggap sebagai penyakit usia lanjut. Namun, kenyataannya kondisi ini juga banyak menyerang kelompok usia muda. Lantas, apa sebabnya?Di Indonesia sendiri beban penyakit stroke terbilang tinggi. Data Riskesdas 2023 mencatat prevalensi stroke mencapai 8,3 persen, atau sekitar delapan dari setiap 100 penduduk. Sementara laporan Institute for Health Metrics and Evaluation (IHME) 2019 menunjukkan stroke menyumbang 19,42 persen dari total kematian nasional. Dari sisi ekonomi, biaya penanganan stroke bahkan mencapai Rp5,2 triliun pada 2023.Menurut dokter spesialis saraf Primaya Hospital Bekasi Timur, dr. Yusi Amalia, faktor gaya hidup menjadi penyebab dominan meningkatnya stroke pada usia muda."Untuk saat ini kita nggak bisa bilang akibat faktor keturunan, ya. Mungkin faktor genetik ada, tapi paling sering lebih ke gaya hidup. Gaya hidup anak muda sekarang kita bisa bilang jauh dari kata sehat,” jelasnya dalam acara pembukaan Brain and Spine Center, baru-baru ini.Kebiasaan kurang bergerak, konsumsi makanan tinggi lemak dan gula, begadang, serta stres berkepanjangan disebut menjadi kombinasi yang memperbesar risiko gangguan pembuluh darah otak.Selain itu, dr. Yusi menekankan pentingnya skrining kesehatan untuk mendeteksi risiko yang sering tersembunyi."Jadi sama ditambah tadi makanya kita perlu screening juga, ada atau tidak masalah lain di luar gaya hidup yang memang bisa menjadi potensi atau risiko terjadi stroke,” tambah dokter Yusi.Kemudian masyarakat juga perlu memahami adanya fenomena silent stroke, yaitu kondisi ketika seseorang sebenarnya sudah mengalami stroke ringan tanpa disadari karena gejalanya sangat halus atau bahkan tidak terasa sama sekali.Adapun gejala stroke yang perlu diwaspadai antara lain senyum tidak simetris, kelemahan separuh tubuh, bicara tidak jelas, rabun mendadak, gangguan pendengaran tiba-tiba, hingga sakit kepala hebat tanpa sebab.Silent stroke ini berbahaya karena kerusakan kecil di otak bisa menumpuk dan berisiko memicu stroke yang lebih berat di kemudian hari. Karena itu, generasi muda disarankan untuk tidak mengabaikan pola hidup sehat dan rutin memeriksakan kesehatan, terutama bila memiliki faktor risiko seperti hipertensi, kolesterol tinggi, obesitas, atau diabetes."Silent stroke inilah yang sering kali membuat kita nggak ngerasa kalau kita ternyata ngalamin stroke. Ciri-cirinya sebenarnya mudah dikenali, seperti mendadak tidak bisa melihat dalam waktu tertentu, itu berarti ada gangguan sumbatan di pembuluh darah sekitar mata. Begitu pula dengan gejala yang terkesan mendadak lainnya,” katanya.Di era saat ini, salah satu tantangan terbesar adalah rendahnya kesadaran terhadap gejala ringan. Banyak kasus tidak terdeteksi sejak awal, sehingga pasien kehilangan kesempatan mendapat perawatan tepat waktu."Makanya perlu dilakukan skrining stroke untuk bisa melihat dan preventif pasien yang berisiko supaya bisa dilakukan tatalaksana agar tidak terkena stroke,” papar dia.Skrining stroke biasanya dapat meliputi wawancara medis, pemeriksaan fisik, hingga pemeriksaan penunjang seperti CT Scan atau MRI jika fasilitas memadai. Dengan begitu, masalah pembuluh darah otak bisa terdeteksi sebelum berkembang menjadi kondisi serius.Tak hanya itu, penanganan yang cepat pada pasien disebut sebagai kunci utama. Semakin dini pasien mendapat perawatan, semakin kecil risiko kecacatan permanen.Primaya Hospital Bekasi Timur sendiri menghadirkan layanan Brain & Spine Center dengan sistem Code Stroke yang diakui oleh World Stroke Organization (WSO). Sistem ini memungkinkan intervensi dilakukan dalam golden period, yakni kurang dari empat jam sejak gejala pertama muncul.Kecepatan intervensi, lanjut dr. Yusi, bisa menyelamatkan lebih banyak nyawa sekaligus menjaga kualitas hidup pasien di masa depan."Faktor lain yang tak kalah penting adalah peran care giver maupun orang di sekitar pasien. Pasien hanya bisa mendapatkan perawatan dalam golden period jika segera dibawa ke rumah sakit. Keterlambatan beberapa jam saja dapat memperburuk kondisi, meningkatkan risiko kecacatan, bahkan berujung pada kematian," tutupnya.