Kaspersky Ungkap Tiga Ancaman Besar Komputasi Kuantum di Asia Pasifik

Wait 5 sec.

Ilustrasi kuantum. (Freepik)JAKARTA - Kawasan Asia Pasifik (APAC) masih dianggap sebagai lahan subur bagi teknologi revolusioner, termasuk kecerdasan buatan dan sekarang yang sudah memasuki era komputasi kuantum. Beberapa perusahaan juga menyebutkan bahwa negara-negara seperti China, Jepang, India, Australia, Korea Selatan, Singapura, dan Taiwan diakui sebagai pemimpin global di bidang ini.Menurut Kaspersky, pasar komputasi kuantum di APAC diperkirakan melonjak dari sekitar Rp5,88 triliun pada 2024 menjadi Rp26,7 triliun pada 2032, dengan pertumbuhan tahunan (CAGR) 24,2 persen. Pertumbuhan ini menandai peluang besar, sekaligus tantangan serius.“Komputasi kuantum dapat membuka inovasi-inovasi inovatif, sekaligus mengantarkan kawasan ini ke era baru ancaman keamanan siber,” ujar Sergey Lozhkin, Kepala Tim Riset & Analisis Global untuk META dan APAC di Kaspersky dalam pernyataannya dikutip Minggu, 31 Agustus.Tiga Risiko Utama Komputasi KuantumSimpan Sekarang, Dekripsi NantiAktor jahat sudah mulai mengumpulkan data terenkripsi hari ini, untuk kemudian mendekripsinya di masa depan ketika teknologi kuantum semakin matang. Praktik ini berpotensi membongkar komunikasi diplomatik, transaksi keuangan, hingga percakapan pribadi bertahun-tahun setelah dilakukan.Sabotase dalam blockchain dan aset kripto Algoritma tanda tangan digital berbasis kurva eliptik (ECDSA) yang digunakan Bitcoin dan banyak aset kripto lain rentan terhadap serangan kuantum. Hal ini membuka potensi pemalsuan tanda tangan digital, serangan terhadap ECDSA yang mengamankan dompet kripto, dan manipulasi riwayat transaksi blockchain, yang merusak kepercayaan dan integritas.Ransomware Tahan KuantumDi masa depan, kelompok kriminal siber diperkirakan mulai mengadopsi kriptografi pasca-kuantum untuk melindungi ransomware mereka. Jenis ransomware ini dirancang agar tidak bisa didekripsi, baik oleh komputer klasik maupun kuantum, sehingga membuat pemulihan data tanpa membayar tebusan hampir mustahil.“Perlindungan dan pemulihan data masih bergantung pada solusi keamanan tradisional dan kolaborasi antara lembaga penegak hukum, peneliti kuantum, dan organisasi internasional,” tegasnya.