Ilustrasi vaksin HPV. (shutterstock)JAKARTA - Human papillomavirus (HPV) merupakan virus yang dapat menyebabkan berbagai penyakit, salah satunya adalah kanker serviks atau kanker leher rahim. Kanker yang disebabkan oleh HPV ini masih menjadi ancaman serius bagi populasi dunia, termasuk Indonesia.Indonesia saat ini menjadi negara dengan kasus kanker serviks tertinggi di Asia Tenggara. Kasus infeksi HPV di Indonesia didominasi dengan yang tipe high risk atau risiko tinggi.Seperti diketahui, HPV memiliki lebih dari 200 tipe, dengan kategori risiko tinggi dan risiko rendah. Tipe risiko tinggi (high risk) seperti HPV 16, 18, 52, dan 58, yang bisa memicu berbagai jenis kanker.“Mayoritas HPV adalah virus yang risiko tinggi di Indonesia. Risiko yang tinggi itu adalah yang berisiko mengalami kanker. Ada kanker serviks, kanker vagina, kanker anus,” tutur dokter spesialis penyakit dalam, dr. Anshari Saifuddin Hasibuan, Sp.PD, K-AI, saat temu media di Menteng, Jakarta, ditulis Minggu, 31 Agustus 2025.Untuk yang risiko rendah (low risk) seperti HPV 6 dan 11, yang biasanya menimbulkan kutil kelamin. Meskipun berisiko rendah, HPV jenis ini harus diwaspadai juga karena penyakitnya bisa menurunkan kualitas hidup.“Risiko rendah biasa menyebabkan kutil kelamin. Walaupun risikonya rendah, tetap saja bisa menurunkan kualitas hidup pasien, karena merepotkan sekali untuk terkena kutil tersebut,” jelasnya.Dengan berbagai risiko yang bisa ditimbulkan, masyarakat harus memahami penularan dan pencegahan infeksi HPV. Penularannya biasanya terjadi karena aktivitas seksual dan juga non-seksual, seperti ibu ke bayi saat persalinan atau melalui alat medis yang tidak steril.Dalam pencegahan utama infeksi HPV adalah dengan melakukan vaksinasi. Vaksin generasi terbaru, yaitu nonavalent, kini tersedia dan mampu melindungi sembilan tipe HPV, termasuk HPV 52 dan 58, yang paling sering ditemukan di Indonesia.“Tipe 52 dan 58 yang sering ditemukan di Indonesia tidak tercakup dalam vaksin lama, sehingga revaksinasi HPV dengan vaksin generasi terbaru menjadi sangat penting,” pungkas Dokter Anshari.