Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, melakukan kunjungan ke Teluk Kabui, Pulau Waigeo, Raja Ampat, untuk meninjau langsung situs gambar cadas (rock art). (IST)RAJA AMPAT - Dalam rangkaian kunjungan kerja ke Provinsi Papua Barat Daya, Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, melakukan kunjungan ke Teluk Kabui, Pulau Waigeo, Raja Ampat, untuk meninjau langsung situs gambar cadas (rock art) yang menjadi jejak peradaban kuno di Nusantara. Situs ini berusia puluhan ribu tahun, merupakan warisan geologi–arkeologi, dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya dalam kawasan Geosite Geopark Raja Ampat.Dalam kunjungan tersebut, Menteri Kebudayaan menelusuri lima titik sebaran gambar cadas dari utara hingga selatan Teluk Kabui. Masing-masing titik menampilkan karakter unik, dengan titik paling utara menghadirkan gambar paling kompleks, beragam motif, serta variasi warna—mulai dari pigmen putih hingga merah.“Situs ini memiliki gambar rock art dengan pigmen putih, memperlihatkan representasi manusia, perahu, gunung, hingga simbol-simbol yang mungkin memiliki makna tertentu. Ada juga bentuk telapak tangan, meski beberapa sudah memudar. Pigmen merahnya sangat mencolok, namun perlu penelitian lebih lanjut untuk menentukan usia dan konteksnya,” ujar Menbud di lokasi kunjungan.Hingga kini, masih diperlukan penelitian komprehensif untuk menentukan secara pasti umur maupun tafsir makna dari simbol-simbol tersebut. Kondisi ini menegaskan pentingnya riset lanjutan untuk memahami lebih dalam seni cadas prasejarah di Teluk Kabui, serta kaitannya dengan dinamika budaya masa lalu di kawasan Pasifik.Selain nilai arkeologis, keberadaan situs gambar cadas Teluk Kabui memperkuat posisi Raja Ampat sebagai geopark dunia dan menambah kekayaan khazanah budaya Indonesia. Jejak peradaban kuno ini mencerminkan hubungan erat manusia purba dengan alam, sekaligus menjadi warisan penting yang harus dijaga bersama.Dalam kunjungan tersebut, Menteri Kebudayaan didampingi oleh Direktur Jenderal Perlindungan Kebudayaan dan Tradisi, Restu Gunawan; Staf Khusus Menteri Bidang Protokoler dan Rumah Tangga, Rachmanda Primayudha; Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah XXIII, Nahar Cahyandaru; Kepala Dinas Kepemudaan, Olahraga, Pariwisata, dan Parekraf Provinsi Papua Barat Daya, Yusdi Lamatenggo; Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Barat Daya, Adolof Kambuaya; serta Arkeolog UGM, Daud Aris Tanudirjo.Kementerian Kebudayaan menegaskan komitmen pemerintah dalam melindungi serta mengembangkan cagar budaya di seluruh Nusantara, termasuk di wilayah timur Indonesia. Upaya pelestarian, penelitian, dan promosi internasional akan terus dilakukan agar warisan budaya bangsa tidak hanya terjaga, tetapi juga dikenal luas oleh dunia.