Ilustrasi: Foto: Dok. ANTARAJAKARTA - Gejolak politik dalam dua hari terakhir menjadi sinyal buruk bagi pasar keuangan maupun sektor riil di Indonesia. Kepercayaan berkurang akan sikap pemerintah membuat investor ogah berinvestasi di Indonesia. Direktur Ekonomi Digital, Center of Economic and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menilai situasi ini tidak bisa dilepaskan dari sikap pemerintah yang dianggap acuh terhadap realitas masyarakat. Kondisi tersebut membuat kepercayaan investor berkurang. Terutama di sektor riil. “Investor sektor riil juga akan mengurungkan niatnya untuk masuk ke Indonesia. Melihat kekacauan yang terjadi ditimbulkan dari sikap pemerintah yang acuh terhadap realitas masyarakat, saya yakin investor tidak akan percaya lagi,” tuturnya kepada VOI, Jumat, 29 Agustus. Nailul meyakini investor tidak akan percaya untuk menanamkan modalnya di Indonesia dengan situasi seperti saat ini. Kecuali, sambung dia, investor tersebut dekat dengan lingkaran kekuasaan. “Akibatnya investor akan mengurungkan niat berinvestasi di Indonesia. Kecuali investor yang memang bagian dari oligarki pemerintah,” kata Nailul. Di samping itu, Nailul bilang gejolak politik belakangan ini membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpaksa bergulat di zona merah. Kata dia, investor membaca situasi saat ini sebagai ketidakpastian politik yang langsung berimbas ke stabilitas ekonomi. “Investor pasti akan melihat kejadian dalam dua hari ini sebagai sentimen negatif yang akan menyebabkan capital outflow. Bahkan investor ritel juga akan melakukan tindakan serupa,” tuturnya. “Ketidakstabilan politik akan menciptakan ketidakstabilan ekonomi. Pada akhirnya akan mempengaruhi kondisi usaha Indonesia. IHSG pasti akan memerah,” sambung Nailul. Sebelumnya, Sebelumnya diberitakan, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup turun 1,53 persen atau 121,59 poin ke 7.830,49 hingga akhir perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI), pada Jumat, 29 Agustus, seiring meningkatnya eskalasi demonstrasi. Sepanjang hari ini, IHSG bergerak pada level terendahnya di 7.765,59 atau 2,34 persen dibandingkan penutupan sebelumnya. Sedangkan, level tertingginya ada di 7.913,86. Dari seluruh indeks sektoral, hanya sektor perindustrian yang mampu bertahan di zona hijau dengan kenaikan sebesar 0,73 persen. Sementara itu, sektor-sektor lainnya kompak melemah seiring dengan penurunan IHSG.Pelemahan terdalam tercatat pada sektor barang konsumen siklikal yang merosot 3,06 persen, disusul oleh sektor infrastruktur yang turun 2,27 persen, serta sektor teknologi yang melemah 2,25 persenSelanjutnya, total volume transaksi bursa mencapai 50,86 miliar saham dengan nilai transaksi Rp22,29 triliun.Serta sebanyak 122 saham naik, 610 saham turun, dan 70 saham stagnan.