Ironi Defisiensi Vitamin D di Indonesia

Wait 5 sec.

Ilustrasi vitamin D. Foto: Elias Shariff Falla Mardini/PixabayHari ini saya baru saja membaca mengenai riset mengenai asupan nutrisi di Indonesia. Menurut penelitian tersebut, Indonesia termasuk negara dengan tingkat defisiensi vitamin D yang cukup tinggi. Estimasi masyarakat yang mengalami defisiensi vitamin D berada di angka 40—70%.Membaca angka tersebut sejujurnya cukup mengherankan sekaligus juga agak lucu. Sebagai perbandingan, masyarakat di negara-negara yang berada di belahan bumi utara—seperti Finlandia, Swedia, atau Norwegia—memiliki kadar vitamin D yang lebih baik daripada di Indonesia. Padahal, negara-negara tersebut termasuk negara dengan tingkat paparan sinar matahari yang rendah dan lebih banyak mengalami musim dingin serta tertutup salju.Mengapa perbandingan ini agak unik? Karena tubuh manusia sebenarnya punya kemampuan untuk menghasilkan vitamin D secara alami. Tubuh dapat menghasilkan senyawa yang disebut sebagai 7-dehydrocholesterol. Senyawa ini adalah vitamin D dalam bentuk yang tidak aktif serta diproduksi oleh kelenjar sebum dan disekresikan di dalam kulit manusia.Ilustrasi perempuan di bawah sinar matahari. Foto: Maridav/ShutterstockKetika terpapar dengan sinar matahari, senyawa 7-dehydrocholesterol akan diubah menjadi Cholecalciferol—senyawa inilah yang kemudian akan dikonversi oleh tubuh menjadi vitamin D dalam bentuk yang aktif. Perubahan ini terjadi karena sinar matahari mengandung sinar ultraviolet B (UVB) dengan panjang sinar antara 290 sampai 315 nanometer. Paparan sinar UVB inilah yang membuat tubuh untuk mampu menghasilkan vitamin D secara alami.Berdasarkan penelitian terkini, puncak sinar UVB paling optimal terjadi di antara pukul 10.00—14.00. Meskipun Indonesia adalah negara tropis yang tidak kekurangan paparan sinar matahari seperti negara-negara di Eropa Utara, tetapi nyatanya defisiensi vitamin D ini justru lebih banyak dialami di Indonesia.Ada beberapa alasan utama mengapa defisiensi vitamin D ini lebih banyak dialami di Indonesia. Pertama, meskipun orang sudah mengetahui bahwa paparan sinar matahari yang cukup itu penting, suhu yang panas dan terik di Indonesia membuat orang enggan untuk melakukan aktivitas outdoor. Kedua, pola kerja kantoran dan sedentary lifestyle yang lebih banyak menggeser aktivitas masyarakat untuk terus berada di dalam ruangan.Ilustrasi Vitamin D. Foto: Shutterstock Ketiga, kurangnya asupan makanan yang tinggi vitamin D, seperti susu, ikan, kuning telur, dan sejenisnya. Keempat, masyarakat Indonesia umumnya memiliki kadar melanin yang lebih tinggi (kulit yang lebih gelap) sehingga mengurangi penetrasi UVB pada kulit.Namun demikian, perlu digarisbawahi, meskipun dapat disediakan melalui diet, kadar vitamin D dalam makanan umumnya sedikit dan tubuh memerlukan vitamin D dari sumber lain.Lalu, mengapa masyarakat di negara-negara eropa Utara memiliki kadar vitamin D yang lebih tinggi daripada di Indonesia? Itu karena makanan yang diproduksi di sana umumnya diberikan tambahan atau fortifikasi dengan vitamin D, sehingga meskipun paparan sinar mataharinya minim, mereka tetap mampu memenuhi kebutuhan vitamin D-nya.Ilustrasi Vitamin D. Foto: Shutterstock Uniknya, di Indonesia sekarang mulai banyak suplemen vitamin D yang dijual di pasaran. Entah karena kebutuhan pasar atau berangkat dari data epidemiologi tersebut, cukup banyak masyarakat yang sekarang mengkonsumsi suplemen vitamin D. Hanya saja, sering kali orang mengonsumsi suplemen vitamin D tanpa terlebih dahulu mengecek kadar vitamin D dalam tubuhnya.Bagi orang-orang yang mengalami defisiensi vitamin D, konsumsi suplemen ini tentu tidak masalah. Namun, kalau suplemen dikonsumsi oleh orang yang sudah memiliki kadar vitamin D yang cukup atau berlebih, konsumsinya justru tidak menyehatkan, tetapi justru dapat menimbulkan risiko penyakit.Vitamin D termasuk vitamin yang larut dalam lemak dan dimetabolisme dalam waktu yang lama. Jika tubuh kelebihan kadar vitamin D, ia akan menyimpannya dalam jaringan lemak dan organ hati. Ketika kelebihan ini berlangsung berkepanjangan, orang dapat berisiko mengalami mual, pusing, kalsifikasi (pengapuran) jaringan dan pembuluh darah, hingga terbentuknya batu ginjal.Ilustrasi batu ginjal. Foto: Anbu-Creations/ShutterstockMengingat Indonesia adalah negara tropis dengan paparan sinar matahari yang cukup, dibandingkan dengan mengkonsumsi suplemen yang harganya juga cukup mahal, sebenarnya cara paling mudah, murah, dan cepat untuk mengatasi defisiensi vitamin D adalah dengan rutin beraktivitas outdoor secara cukup dalam waktu singkat, sekitar 15—30 menit saja.Namun, jika memang ada batasan tertentu yang menghalangi untuk beraktivitas outdoor, suplemen dapat digunakan untuk mengatasi defisiensi vitamin D, dengan catatan bahwa sebelumnya sudah ada pengukuran vitamin D dalam tubuh dan konsultasi dengan tenaga kesehatan sebelumnya.Jika ada solusi yang lebih murah, mengapa harus memilih solusi yang lebih mahal bukan?