Suasana bongkar muat peti kemas di Pelabuhan Jiangsu, China, Minggu (18/5/2025). Foto: Stringer/AFPBank Pembangunan Asia (ADB) memprediksi pertumbuhan ekonomi kawasan Asia bakal melambat pada tahun ini, meski harga minyak berangsur stabil.Mengutip Bloomberg pada Sabtu (11/4), berdasarkan laporan Asian Development Outlook yang dirilis Jumat (10/4), ADB memperkirakan pertumbuhan ekonomi Asia melambat menjadi 5,1 persen pada 2026, dari 5,4 persen pada 2025.Perlambatan ini dipicu oleh dampak perang antara AS dan Israel terhadap Iran yang mengguncang stabilitas global, termasuk harga energi dan rantai pasok.“Kebangkitan ekonomi negara-negara berkembang di Asia dan Pasifik menghadapi ujian yang berat,” kata Presiden ADB Masato Kanda."Meskipun paparan langsung kawasan ini terbatas, kawasan ini tetap rentan terhadap kenaikan harga energi dan komoditas lainnya, yang memicu inflasi dan memperketat kondisi keuangan," lanjutnya.ADB menilai, meski harga minyak diasumsikan kembali ke level sebelum perang pada akhir tahun, kondisi pasar masih sangat volatil mengikuti dinamika konflik.Selain itu, ADB memproyeksikan ekonomi China tumbuh melambat menjadi 4,6 persen tahun ini dari 5 persen tahun sebelumnya. Lemahnya konsumsi domestik jadi salah satu faktor utama penahan laju ekonomi.Sementara, pertumbuhan India juga diperkirakan turun menjadi 6,9 persen pada 2026 dari 7,6 persen tahun lalu, meski masih ditopang permintaan domestik yang kuat.Di sisi lain, pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara diproyeksikan relatif stabil, meski tekanan global tetap membayangi.ADB juga memproyeksi inflasi di Asia berkembang meningkat menjadi 3,6 persen dari sebelumnya 3 persen, terutama akibat kenaikan harga energi.Biaya produksi pertanian diprediksi ikut naik karena ketergantungan kawasan terhadap pasokan pupuk dari Timur Tengah, seperti urea dan amonia.Ilustrasi pertanian di Jepang. Foto: ShutterstockGangguan juga diperkirakan terjadi pada industri semikonduktor akibat terganggunya pasokan bahan baku penting seperti helium dan sulfur.Sektor pariwisata pun tak luput dari tekanan, seiring terganggunya perjalanan global akibat konflik. Meski risiko ekonomi meningkat, ADB mengingatkan pemerintah agar tidak merespons dengan kebijakan moneter yang terlalu ketat.“Jika dukungan diperlukan, langkah-langkah fiskal yang tepat sasaran dan terikat waktu harus diutamakan,” kata ADB."Kebijakan moneter seharusnya fokus pada penyediaan likuiditas yang tepat sasaran dan menstabilkan ekspektasi inflasi melalui komunikasi yang efektif, daripada pengetatan yang agresif," lanjut ADB.