Djibouti: Negara Kecil yang Jadi Rebutan Kekuatan Dunia

Wait 5 sec.

Ilustrasi nama ibu kota Djibouti. Sumber foto: Pexels/Oday Hazeem.Di peta Afrika, Djibouti nyaris tidak terlihat. Luasnya hanya sekitar 23.200 km², lebih kecil dari Provinsi Bali dengan populasi di bawah satu juta jiwa. Tidak ada minyak, tidak ada mineral berharga, tidak ada kekuatan ekonomi yang mencolok. Namun di negara kecil inilah Amerika Serikat, Prancis, China, Italia, dan Jepang menempatkan pangkalan militer mereka secara bersamaan. Tidak ada tempat lain di muka bumi yang memiliki konfigurasi seperti ini. Pertanyaannya bukan sekadar mengapa Djibouti diperebutkan, melainkan siapa sebenarnya yang memegang kendali dalam permainan ini?Lokasi Adalah SegalanyaUntuk memahami Djibouti, lupakan sejenak soal luas wilayah atau kekayaan alam. Yang perlu dilihat adalah peta. Djibouti terletak persis di mulut Teluk Aden, titik pertemuan antara Laut Merah dan Samudra Hindia. Siapa pun yang ingin melintas dari Asia ke Eropa melalui Terusan Suez dan sekitar 30% perdagangan maritim dunia melakukan itu, yaitu harus melewati perairan di sekitar Djibouti.Ini bukan sekadar jalur dagang. Ini adalah urat nadi ekonomi global. Ketika Houthi Yaman mulai menyerang kapal-kapal di Laut Merah sejak akhir 2023, dampaknya langsung terasa pada biaya pengiriman global dan rantai pasok internasional. Dalam konteks itulah posisi Djibouti menjadi semakin tidak ternilai: siapa yang hadir di sini, hadir di persimpangan dunia.Nilai strategis ini sudah dikenali sejak lama. Prancis telah bercokol di Djibouti sejak era kolonial, mempertahankan pangkalan militernya bahkan setelah kemerdekaan pada 1977. Amerika Serikat mendirikan Camp Lemonnier pasca-serangan 11 September 2001, menjadikannya satu-satunya pangkalan militer permanen AS di Afrika. Keduanya memandang Djibouti sebagai titik peluncuran operasi kontraterorisme di Somalia, Yaman, dan kawasan sekitarnya.Ketika China Ikut MasukPerubahan terbesar datang pada 2017, ketika China meresmikan pangkalan militer pertamanya di luar negeri dan mereka memilih Djibouti. Ini bukan kebetulan. Sebelumnya, China telah menanamkan investasi besar-besaran melalui inisiatif Belt and Road Initiative (BRI) yaitu membangun jalur kereta api Djibouti–Addis Ababa, mengembangkan Pelabuhan Doraleh, hingga menyokong kawasan perdagangan bebas terbesar di Afrika.Kehadiran militer China di Djibouti langsung memicu kecemasan Washington. Kedua pangkalan baik AS dan China berjarak hanya beberapa kilometer. Pejabat militer AS melaporkan adanya gangguan laser yang diduga berasal dari sisi pangkalan China, mengganggu operasi penerbangan. Ketegangan sunyi yang jarang diberitakan, tapi nyata di lapangan.Bagi Beijing, Djibouti bukan hanya soal proyeksi kekuatan militer. Ini adalah bagian dari strategi lebih besar yaitu mengamankan jalur laut yang menghubungkan kepentingan ekonomi China di Afrika dengan pasar-pasar di Eropa dan Timur Tengah. Pangkalan militer dan pelabuhan komersial hadir berdampingan kombinasi yang oleh banyak analis disebut sebagai dual-use strategy.Djibouti Bermain Cerdik atau Terjebak?Pemerintah Djibouti di bawah Presiden Ismail Omar Guelleh yang berkuasa sejak 1999 tampak ahli dalam memainkan semua pihak. Mereka menerima sewa pangkalan dari AS, mempertahankan hubungan historis dengan Prancis, sekaligus membuka pintu lebar untuk investasi dan kehadiran militer China. Pendapatan dari sewa pangkalan militer menyumbang porsi signifikan bagi kas negara yang terbatas.Secara permukaan, ini terlihat seperti strategi hedging yang brilian: negara kecil yang berhasil mengekstrak keuntungan maksimal dari rivalitas kekuatan besar tanpa memihak siapa pun.Namun ada sisi lain yang tidak bisa diabaikan. Ketergantungan Djibouti pada utang China untuk membiayai proyek infrastruktur telah menimbulkan kekhawatiran serius. Beberapa laporan menyebut rasio utang Djibouti terhadap PDB sempat melampaui 70%, dengan porsi besar dipegang oleh institusi keuangan China. Ketika Djibouti sempat berselisih dengan perusahaan pelabuhan asal Dubai, DP World, dan mengambil alih operasi Pelabuhan Doraleh secara sepihak pada 2018, banyak yang melihat langkah itu sebagai bagian dari tekanan untuk mengakomodasi kepentingan China lebih jauh.Pertanyaannya menjadi lebih dalam yaitu: apakah Djibouti benar-benar berdaulat atas tanahnya sendiri, atau telah menjadi semacam sovereignty for rent, kedaulatan yang disewakan demi kelangsungan ekonomi?Cermin Tatanan Dunia yang BerubahDjibouti adalah miniatur dari pertarungan geopolitik abad ke-21. Di sini, persaingan AS–China tidak berlangsung lewat retorika di forum PBB, melainkan lewat pembangunan dermaga, penempatan pasukan, dan negosiasi kontrak infrastruktur. Eropa, melalui Prancis dan Italia, berusaha mempertahankan relevansi di kawasan yang semakin didominasi oleh dua kutub besar itu.Bagi negara-negara kecil yang strategis dan Djibouti bukan satu-satunya situasi ini menghadirkan peluang sekaligus bahaya. Peluangnya nyata yaitu pendapatan sewa, investasi infrastruktur, dan leverage diplomatik yang tidak sebanding dengan ukuran negara. Bahayanya juga nyata yaitu terlalu bergantung pada satu kekuatan besar, atau terjebak di tengah rivalitas yang bisa sewaktu-waktu berubah menjadi konflik terbuka.Maka, Djibouti mengajarkan satu hal yang sering dilupakan dalam diskusi geopolitik yaitu ukuran bukan satu-satunya penentu pengaruh. Lokasi, keberanian berdiplomasi, dan kemampuan membaca kepentingan kekuatan besar bisa mengubah negara kecil menjadi pemain yang diperhitungkan.Tapi ada batas dari strategi ini. Ketika sewa pangkalan dan utang infrastruktur mulai menggerus ruang pengambilan keputusan yang mandiri, "bermain di antara kekuatan besar" bisa berubah menjadi "tersandera oleh kekuatan besar." Djibouti belum tentu terjebak, tapi mereka sedang berjalan di atas tali yang sangat tipis.Di dunia yang semakin terfragmentasi antara blok-blok kekuatan, Djibouti adalah pengingat bahwa yang paling rentan bukan selalu yang paling lemah, melainkan yang paling diperebutkan.