● Deforestasi Indonesia meningkat tajam, terjadi di semua pulau besar, terutama Kalimantan dan Papua.● Lonjakan ekstrem turut terjadi di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, berkorelasi dengan bencana besar 2025 lalu.● Kombinasi deforestasi dan fenomena El Niño akan datang bisa memperparah krisis lingkungan.Indonesia kembali dihadapkan pada kenyataan pelik: hutan kita menyusut dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Data terbaru menunjukkan deforestasi pada 2025 mencapai 433.751 hektare—melonjak 66% dibanding tahun sebelumnya. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi sinyal bahwa bentang alam Indonesia sedang mengalami tekanan besar.Semua hutan-hutan pulau besar tercatat menyusut. Kalimantan konsisten menjadi pulau dengan deforestasi terluas sejak 2013. Tanah Papua juga mengalami lonjakan deforestasi terbesar, yakni bertambah 60.337 hektare (348%) dari luas deforestasi 2024.Selain itu, data mencolok terlihat di tiga provinsi di Sumatera yang mengalami bencana longsor-banjir dahsyat pada penghujung 2025. Ketiga wilayah ini mengalami lonjakan deforestasi luar biasa: Aceh (426%), Sumatera Utara (281%), dan Sumatera Barat (1.034%).Bukti deforestasi di SumatraSebagai ahli ilmu tanah yang banyak meneliti di wilayah Sumatra, saya melihat lonjakan angka deforestasi di wilayah ini dari dua perspektif.Pertama, angka-angka ini berbanding lurus dengan rentetan bencana yang menghantam Sumatra pada akhir tahun lalu. Artinya, ada korelasi yang tak bisa kita nafikan, sebagai bukti langsung bencana dipicu deforestasi di daerah aliran sungai (DAS) bagian atas. Saat banjir Sumatra, kita melihat ada banyaknya gelondongan kayu yang ikut terbawa arus. Meski tidak semua kayu-kayu tersebut hasil penebangan hutan, data ini memperlihatkan hubungan antara deforestasi dan bencana yang sangat jelas.Kedua, lonjakan deforestasi di Sumatra ini penting dicermati. Sumatera bukan hanya kawasan hutan, tetapi juga wilayah dengan tanah vulkanis dan aluvial yang sangat produktif bagi pertanian. Ketika hutan di wilayah ini hilang, yang terancam bukan hanya keanekaragaman hayati, tetapi juga stabilitas sistem pangan kita. Produktivitas lahan pertanian bisa menurun dan dampaknya bisa sampai pada dompet dan meja makan kita. Sumatra termasuk wilayah sentra pangan bersama Jawa dan Sulawesi, sehingga jika produksi pangan (misalnya padi, jagung, sayuran) di Sumatra terganggu, maka kelangkaan berisiko terjadi di pasar nasional. Baca juga: Badai siklon tak harus jadi tragedi berulang jika hutan tidak terus dibabat Deforestasi tingkatkan ancaman El NiñoDeforestasi yang terus meluas ini berisiko memperparah dampak cuaca ekstrem seperti El Niño. Beberapa model global memprediksi El Niño akan mulai terjadi sejak April 2026. Berdasarkan analisis BRIN, El Niño yang akan datang merupakan variasi kuat (Godzilla) yang bisa menyebabkan musim kemarau lebih panjang dan semakin kering.Kombinasi El Niño dengan deforestasi bisa meningkatkan lagi risiko kekeringan dan gelombang panas ekstrem. Musababnya, hutan tropis bukan hanya penyimpan karbon, tetapi juga pengatur siklus air. Melalui proses evapotranspirasi, hutan melepaskan uap air ke atmosfer, membantu pembentukan awan, dan menjaga kestabilan hujan lokal. Ketika hutan sudah terbuka alias gundul, mekanisme ini terganggu. Udara menjadi lebih kering, pembentukan awan berkurang, dan curah hujan lokal menurun.Risiko kebakaran hutan dan lahan pun meningkat karena lahan jadi lebih mudah mengering, panas, dan rawan terbakar. Dengan kata lain, ketika El Niño terjadi, wilayah yang telah mengalami deforestasi akan merasakan dampak yang jauh lebih berat. Sistem bentang alam menjadi lebih sensitif terhadap fluktuasi iklim yang datang dari luar.Selain itu, risiko terbesar tidak selalu terjadi saat El Niño berada di puncak. Justru fase paling berbahaya adalah ketika sistem iklim mulai berubah—menuju kondisi netral dan mengarah ke La Niña.Setelah mengalami periode kering yang lama, tanah mengalami perubahan, menjadi lebih rapuh. Kandungan bahan organik (seperti sisa daun atau humus) berkurang, sehingga tanah kehilangan “lem alami” yang menjaga strukturnya tetap kuat. Akibatnya, tanah bisa retak-retak dan bagian dalamnya (struktur kecilnya) ikut rusak.Saat hujan kembali turun dalam intensitas tinggi, tanah tidak lagi mampu menyerap air dengan baik seperti sebelumnya. Air yang seharusnya meresap berubah menjadi limpasan cepat di permukaan. Inilah awal dari bencana hidrometereologi yang perlu diwaspadai.Pada akhirnya kita terjebak dalam lingkaran setan: deforestasi + El Niño → kekeringan → kebakaran hutan dan lahan → lebih banyak hutan gundul → bencana. Baca juga: Musim hujan masih berlanjut, kapan Indonesia akan memasuki masa kemarau? Membaca risiko bencanaBencana hidrometeorologi di Indonesia tidak lagi bisa dijelaskan dengan satu penyebab tunggal. Ia adalah hasil interaksi antara faktor global dan lokal, antara atmosfer, hutan dan tanah, antara kebijakan dan bentang alam.Oleh karenanya, pendekatan kita dalam membaca risiko bencana juga harus berubah. Tidak cukup hanya memprediksi cuaca. Kita perlu melihat kondisi hutan dan memahami bagaimana seluruh sistem bekerja—mulai dari dalam tanah, air, vegetasi hingga atmosfer.Ketika hutan menyusut dan iklim semakin tidak menentu, yang kita hadapi bukan sekadar banjir atau kemarau. Kita juga akan menanggung akibat dari sistem alam yang kehilangan kemampuannya menahan air, mengatur iklim, dan melindungi kehidupan.Dian Fiantis tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.