Tes jenis kelamin atlet untuk melarang trasgender justru berisiko menggagalkan perempuan interseks ikut olimpiade

Wait 5 sec.

Tes jenis kelamin di olahraga elite memiliki sejarah panjang yang tidak konsisten. anton5146/iStock via Getty Images PlusPada 26 Maret 2026, Komite Olimpiade Internasional (IOC) mengumumkan kebijakan baru bagi kategori lomba perempuan: mewajibkan semua atlet menjalani tes gen SRY (gen yang umumnya ditemukan pada kromosom Y milik laki-laki). IOC menyebutkan, tes ini dilakukan untuk mengecualikan “laki-laki biologis” dari kategori lomba perempuan. Namun, pernyataan IOC ini sebenarnya menutupi kompleksitas yang ada mengenai jenis kelamin secara biologis. Langkah tersebut dinilai melanjutkan tradisi panjang organisasi IOC selama satu abad terakhir.Catatan menunjukkan kebijakan olahraga IOC seringkali tidak konsisten dan tidak memiliki dasar biologis yang kuat. Sebagai seorang profesor biologi dan penulis buku “The Binary Delusion: How Biology Defies the Myth of Two Sexes”, saya berpendapat bahwa kebijakan yang bertujuan mengecualikan perempuan transgender dari kompetisi atletik perempuan justru berisiko merugikan lebih banyak perempuan lain yang bukan transgender.Ini karena aturan tersebut dapat menyebabkan mereka ikut tersingkir atau mendapat sorotan negatif akibat standar biologis yang terlalu sempit.Sedikit atlet elite yang transgenderOrang-orang transgender menghadapi serangan hukum serta politik yang terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengeluarkan perintah eksekutif pada 20 Januari 2025 yang menegaskan bahwa jenis kelamin bersifat biner—hanya laki-laki atau perempuan—serta perintah lain yang melarang laki-laki mengikuti kompetisi olahraga perempuan.Setidaknya 29 negara bagian di Amerika Serikat (AS) telah melarang partisipasi transpuan dalam kompetisi olahraga perempuan.Aturan ini dibuat berdasarkan anggapan bahwa laki-laki rata-rata memiliki kemampuan fisik yang lebih unggul dibanding perempuan dalam berbagai cabang olahraga. Karena itu, banyak pihak menilai atlet perempuan perlu dilindungi dari persaingan yang dianggap tidak adil. Banyak rancangan undang-undang (RUU) di tingkat negara bagian berupaya melarang atlet transgender berpartisipasi dalam ajang olahraga. Oliver Contreras/AFP via Getty Images Namun, jumlah atlet elite transgender sebenarnya sangat sedikit.Dalam sidang Senat AS pada 2024, Presiden NCAA memberikan kesaksian bahwa dari 510 ribu atlet kampus di AS saat itu, ia hanya mengetahui kurang dari 10,Artinya, jumlah mereka bahkan tidak sampai 0,002%.Sejak perempuan pertama kali ikut serta pada 1900, hanya ada satu transpuan yang tercatat pernah bertanding di kategori perempuan sepanjang sejarah Olimpiade.Ia adalah Laurel Hubbard, atlet angkat besi asal Selandia Baru. Ia berlaga pada 2021, tapi gagal meraih medali.Jarangnya atlet transgender dalam kompetisi olahraga di tingkat yang elite menunjukkan bahwa larangan terhadap mereka hanyalah solusi yang mengada-ada untuk masalah yang sebenarnya tidak ada.Jenis kelamin biologis yang rumitTes genetik yang diwajibkan oleh IOC justru lebih berisiko menyasar perempuan interseksual.Orang-orang interseksual adalah mereka yang memiliki campuran ciri biologis laki-laki dan perempuan–yang meliputi kromosom seksual, organ reproduksi bagian dalam dan luar, hingga hormon serta cara tubuh merespons hormon tersebut.Ada banyak variasi ciri interseksuak, tapi tiga di antaranya yang paling relevan dalam kompetisi atletik perempuan adalah androgen insensitivity (ketidakpekaan androgen), 5-alpha-reductase deficiency (kekurangan enzim 5-alpha), dan mozaikisme genetik.Orang dengan kondisi ketidakpekaan androgen tidak merespons hormon androgen seperti testosteron ((hormon pembentuk otot dan kekuatan fisik) secara maksimal. Selama ini, ada anggapan bahwa kadar testosteron yang tinggi memberi keuntungan bagi atlet saat bertanding. Namun, atlet dengan kondisi ini justru mendapat sedikit atau bahkan tanpa keuntungan fisik sama sekali, misalnya dalam pertumbuhan otot. Hal ini juga membuat ciri fisik luar mereka, termasuk alat kelamin, terlihat sepenuhnya atau sebagian besar seperti perempuan.Kebijakan baru IOC memang mengecualikan kondisi ketidakpekaan androgen “total”. Sayangnya, aturan tersebut tidak menjelaskan bagaimana cara atlet membuktikan kondisi mereka.Kebijakan tersebut juga tidak menyinggung kondisi ketidakpekaan androgen parsial. Dalam kondisi ini, tubuh merespons testosteron, tapi kemungkinan besar tidak cukup kuat untuk memberikan keunggulan performa yang berarti.Meski begitu, para atlet dengan kondisi ini kemungkinan tetap akan gagal dalam tes tersebut. Alhasil, mereka terancam dicoret dari kompetisi di bawah aturan baru IOCOrang dengan kondisi kekurangan enzim 5-alpha sebenarnya memproduksi dan merespons testosteron. Namun, tubuh mereka hanya menghasilkan sedikit (atau bahkan tidak sama sekali) hormon androgen lain yang lebih kuat, yaitu dihidrotestosteron atau DHT (hormon pembentuk ciri fisik laki-laki).Tanpa DHT yang cukup, alat kelamin mereka akan terlihat lebih seperti perempuan. Mereka juga tidak mendapatkan keuntungan fisik yang signifikan dari hormon androgen saat berolahraga.Meski begitu, orang dengan kondisi ini—yang memiliki kromosom Y dipastikan akan gagal dalam tes jenis kelamin yang baru. Akibatnya, mereka akan dicoret dari kompetisi.Ada juga orang dengan kondisi mozaikisme yang terlahir dengan sel tubuh dengan memiliki kromosom Y dan sel lain yang tidak.Perempuan juga bisa mengalami mozaikisme selama masa kehamilan. Hal ini terjadi ketika sel janin dengan kromosom Y masuk melalui plasenta ke dalam tubuh ibu.Sel-sel dengan kromosom Y ini bisa menetap di tubuh sang ibu, bahkan mungkin seumur hidupnya. Sel-sel inilah yang bisa menyebabkan seorang atlet yang pernah hamil gagal dalam tes baru IOC tersebut.Sejarah tes jenis kelamin di lomba atletik perempuanIOC dan berbagai federasi olahraga memiliki sejarah yang panjang mengenai tes jenis kelamin, terutama di cabang atletik. Metode tes ini terus berubah. Awalnya melalui pemeriksaan alat kelamin, lalu beralih ke tes genetik, kemudian kadar testosteron, dan kini kembali lagi ke tes genetik. Meski tujuan resminya adalah untuk mengungkap laki-laki yang menyamar sebagai perempuan, kebijakan ini tidak pernah menemukan satu pun kasus seperti itu.Sebaliknya, tes tersebut justru menyasar dan mencoret atlet perempuan interseksual dari kompetisi.Selama sebagian besar abad ke-20, pengelola olahraga akan memeriksa alat kelamin jika seorang peserta dicurigai sebagai laki-laki.Pada pertengahan 1960-an, mereka mulai memeriksa alat kelamin semua perempuan yang berpartisipasi dalam kompetisi Federasi Atletik Amatir Internasional. Praktik ini dikenal dengan sebutan “parade telanjang”.Praktik “parade telanjang” ini sangat mempermalukan para atlet dan federasi olahraga. Akhirnya, pada akhir 1960-an, metode ini digantikan dengan tes kromosom atau gen yang baru tersedia saat itu.Sayangnya, tes-tes ini sering kali dilakukan tanpa persetujuan para atlet. Mereka justru diberi tahu bahwa tes tersebut dilakukan untuk memeriksa penggunaan obat peningkat performa (doping).Parahnya lagi, hasil tes tersebut sering kali diungkap ke publik tanpa izin dari atlet yang bersangkutan.Sebagai contoh, pada 1967, pelari cepat asal Polandia Ewa Klobukowska yang telah memenangkan tiga medali emas dan mencetak tiga rekor dunia, dinyatakan sebagai “laki-laki” melalui tes kromosom. Padahal, ia memiliki alat kelamin perempuan pada umumnya.Akibatnya, ia dicoret dari kompetisi dan dipaksa mengembalikan medali-medalinya. Namun, setahun kemudian, Klobukowska melahirkan seorang anak. Hal ini membuktikan bahwa ia kemungkinan besar memiliki kondisi mozaikisme genetik. Ewa Klobukowska (nomor dada 3) kehilangan medali-medalinya setelah secara keliru dinyatakan sebagai laki-laki melalui tes genetik. S&G/PA Images via Getty Images Pada 1985, pelari gawang asal Spanyol, Maria José Martínez-Patiño, baru mengetahui ia dinyatakan “laki-laki” melalui pengumuman publik setelah menjalani tes genetik. Akibatnya, ia langsung dicoret dari kompetisi.“Saya merasa sangat malu dan terhina,” ungkapnya dalam sebuah catatan pribadi. “Saya kehilangan teman-teman, tunangan saya, serta harapan dan energi. Namun, saya tahu bahwa saya adalah perempuan dan perbedaan genetik ini tidak memberi saya keuntungan fisik yang tidak adil. Saya tidak mungkin berpura-pura menjadi laki-laki; saya memiliki payudara dan vagina.”Martínez-Patiño diketahui memiliki kondisi ketidakpekaan androgen total.Selama beberapa dekade terakhir, tes genetik sebagian besar telah digantikan oleh pemeriksaan kadar testosteron . Namun, metode ini tetap saja mencoret banyak atlet interseks dari kompetisi.Pengumuman IOC tahun 2026 mengeklaim bahwa tidak ada tumpang tindih dalam kadar testosteron antara atlet elite perempuan dan laki-laki. Padahal, hasil penelitian yang memeriksa ratusan atlet elite justru membantah pernyataan tersebut.Pada 2021, IOC sempat mengumumkan kebijakan baru yang menyatakan bahwa “setiap orang berhak untuk berolahraga tanpa diskriminasi dan dengan cara yang menghormati kesehatan, keamanan, serta martabat mereka.”Namun, komite tersebut menyerahkan pengaturan kompetisi kepada masing-masing federasi olahraga. Hal ini memicu kebingungan karena standar yang digunakan berbeda-beda.Ketidakteraturan inilah yang tampaknya membuka jalan bagi IOC untuk mengeluarkan kebijakan tahun 2026 yang jauh lebih sederhana (dan restriktif).Tes gen SRY yang menyesatkanKebijakan IOC tahun 2026 mengisyaratkan kerumitan jenis kelamin biologis dengan menyatakan bahwa seks mencakup “kromosom seks, gonad, dan hormon”.Namun, ada yang janggal karena alat kelamin tidak masuk dalam daftar tersebut. Padahal, alat kelamin luar—seperti vagina dan penis—adalah cara masyarakat umum mendefinisikan laki-laki dan perempuan. Ini juga menjadi dasar bagi dokter untuk menentukan jenis kelamin saat bayi lahir, serta cara IOC sendiri mendefinisikan jenis kelamin selama berpuluh-puluh tahun.Pemeriksaan alat kelamin, meski mempermalukan dan menimbulkan trauma bagi banyak atlet, mungkin merupakan indikator yang lebih akurat mengenai keuntungan fisik dari hormon androgen (seperti testosteron) dibandingkan tes gen SRY.Selama perkembangan janin, hormon androgen menyebabkan struktur tubuh yang awalnya belum terdefinisi berubah menjadi penis dan skrotum. Jika hormon ini tidak ada, atau terjadi ketidakpekaan terhadap androgen, struktur tersebut justru akan berkembang menjadi klitoris dan labia.Dengan kata lain, alat kelamin perempuan pada umumnya menunjukkan rendahnya kadar atau rendahnya kepekaan tubuh terhadap androgen. Hal ini menandakan bahwa performa fisik atlet tersebut tidak didongkrak oleh hormon-hormon ini.Jika IOC tidak benar-benar teliti dalam menyaring pengecualian yang sudah dijelaskan diatas, tes genetik baru mereka kemungkinan besar akan mencoret para atlet yang sebenarnya tidak mendapatkan keuntungan fisik dari hormon androgen.Apalagi, kebijakan baru mereka menyatakan bahwa “kebutuhan akan konsistensi dan keadilan di seluruh cabang olahraga” tidak memungkinkan adanya “pertimbangan kasus per kasus.”Akibatnya, besar kemungkinan generasi perempuan interseks lainnya akan kembali tersingkir dari ajang Olimpiade.Ari Berkowitz menerima dana dari National Science Foundation.