Penjualan Minyak Saudi ke China Diperkirakan Anjlok 50 Persen akibat Perang

Wait 5 sec.

Logo Saudi Aramco terlihat di luar Khurais, Arab Saudi, 12 Oktober 2019. Foto: REUTERS/Maxim ShemetovPenjualan minyak mentah Arab Saudi ke China diperkirakan akan turun drastis hingga separuh pada bulan depan, seiring perang di Iran yang mengganggu arus pasokan energi global dan mendorong harga minyak naik.Menurut para trader yang mengetahui hal ini, eksportir minyak terbesar dunia tersebut hanya akan mengirim sekitar 20 juta barel minyak ke pelanggan di China untuk pengiriman Mei. Angka ini turun tajam dibandingkan sekitar 40 juta barel yang dialokasikan untuk April.“Pengiriman minyak Saudi ke China diperkirakan hanya sekitar 20 juta barel untuk Mei,” ujar para trader yang enggan disebutkan namanya karena tidak berwenang berbicara secara publik dikutip dari Bloomberg, Selasa (14/4).Penurunan ini terjadi setelah Saudi Aramco menaikkan harga jual resmi (official selling price) minyaknya ke level tertinggi sepanjang sejarah. Kenaikan harga dipicu oleh perang Iran yang menyebabkan penutupan efektif Selat Hormuz, jalur penting bagi distribusi energi global.Meski Arab Saudi masih memiliki jalur ekspor alternatif melalui pelabuhan Yanbu di Laut Merah, kapasitasnya terbatas dan tidak mampu sepenuhnya menggantikan jalur utama di Teluk Persia.Ladang minyak Aramco di Gurun Rub' al Khali, Shaybah, Arab Saudi, 12 Januari 2024. Foto: REUTERS/Hamad I MohammedPerang di Iran kini telah memasuki bulan kedua tanpa tanda mereda. Upaya negosiasi antara Amerika Serikat dan Iran di Pakistan juga gagal mencapai kesepakatan. Dalam eskalasi terbaru, Presiden Donald Trump bahkan mengancam akan memblokade Selat Hormuz.“Presiden Donald Trump mengancam akan memblokade Selat Hormuz, sehingga seluruh lalu lintas kapal menuju dan keluar dari pelabuhan Iran akan terhenti mulai pukul 10 pagi waktu Washington pada Senin,” demikian pernyataan terkait perkembangan tersebut.Amin Nasser CEO Aramco di Energy Asia 2025. Foto: Fayez Nureldine/AFPSaat ini, pelabuhan Yanbu hanya mampu mengekspor sekitar 5 juta barel per hari, jauh di bawah kapasitas pengiriman sebelum perang yang mencapai 7,2 juta barel per hari, yang sebagian besar melalui fasilitas di Teluk Persia.Para trader juga menyebut kilang-kilang di Asia hanya ditawari jenis minyak Arab Light melalui jalur Laut Merah.Sementara itu, harga acuan minyak Dubai dan Oman yang digunakan untuk menentukan harga minyak Saudi menjadi semakin tidak stabil akibat terbatasnya pasokan di tengah konflik yang berkepanjangan.