● Gejolak di Timur Tengah bisa memicu krisis energi di Indonesia. Sepeda bisa jadi solusi.● Perlu dukungan infrastruktur yang memadai agar sepeda bisa menjadi opsi moda transportasi utama.● Bersepeda bukan lagi gaya hidup, tetapi strategi bertahan dan hidup berkelanjutan.Memanasnya situasi geopolitik di kawasan Timur Tengah bisa berdampak langsung ke Indonesia, terutama lewat kenaikan harga minyak dunia.Indonesia masih sangat bergantung pada bahan bakar minyak (BBM) dan kita masih mengimpornya dalam jumlah besar.Sektor transportasi menjadi paling rentan karena merupakan pengguna BBM terbesar. Pada 2025, sektor ini menggunakan BBM sebanyak 276,6 juta barel atau sekitar 52% dari konsumsi BBM nasional.Parahnya lagi, sekitar 97% konsumsi BBM di sektor transportasi digunakan untuk kendaraan pribadi, terutama sepeda motor dan mobil. Sehingga ketika terjadi krisis, mobilitas harian masyarakat langsung terdampak.Di tengah kondisi tersebut, sepeda bisa menjadi solusi mengurangi ketergantungan energi. Tapi mengapa solusi ini sering diabaikan? Baca juga: Serangan ke Iran semakin menegaskan betapa mendesak kita beralih dari bahan bakar minyak bumi Infrastruktur: kunci agar sepeda tidak sekadar wacanaMendorong masyarakat beralih ke sepeda tidak cukup hanya dengan imbauan. Tanpa dukungan infrastruktur yang memadai, sepeda sulit menjadi opsi moda transportasi utama.Pemerintah perlu menyediakan jalur khusus sepeda untuk menjamin keselamatan pesepeda dari lalu lintas kendaraan bermotor. Ini adalah faktor utama yang menentukan apakah masyarakat bersedia beralih ke sepeda sebagai moda harian.Selain itu, fasilitas pendukung seperti parkir sepeda yang aman serta rambu dan marka khusus harus disediakan secara sistematis. Integrasi dengan transportasi publik menjadi faktor penting. Berbagai studi menunjukkan bahwa sepeda ideal untuk perjalanan jarak pendek (kurang dari 5 km). Maka dari itu, sepeda bisa berperan sebagai moda first mile (dari rumah ke hub transportasi umum) dan last mile (dari hub transportasi umum ke tujuan akhir).Pengguna bisa bersepeda dari rumah menuju halte atau stasiun, lalu melanjutkan perjalanan dengan angkutan umum. Integrasi ini mampu menekan ketergantungan pada kendaraan pribadi sekaligus meningkatkan efisiensi sistem transportasi.Kota seperti Kopenhagen dan Utrecht telah membuktikan bahwa keberhasilan bersepeda bukan hanya soal budaya, tetapi hasil dari investasi infrastruktur yang konsisten dan terintegrasi.Di Indonesia, inisiatif pembangunan jalur sepeda memang sudah mulai muncul di beberapa kota, termasuk Jakarta, Bandung, Bogor, Solo, hingga Palembang. Namun, tak jarang jalur sepeda masih sering diterobos pengendara sepeda motor.Implementasinya juga masih parsial dan belum menjadi bagian dari strategi transportasi nasional yang utuh.Padahal, dalam konteks krisis energi, setiap kilometer jalur sepeda yang dibangun adalah investasi untuk mengurangi konsumsi BBM. Baca juga: Bagaimana ‘booming’ tren bersepeda pecah lalu meredup Momentum untuk berbenahAncaman krisis energi seharusnya dilihat sebagai momentum untuk berbenah. Fenomena ini sudah terlihat di berbagai negara.Di Australia, misalnya, lonjakan harga energi dan meningkatnya biaya hidup dalam beberapa tahun terakhir mendorong sebagian masyarakat beralih ke sepeda sebagai moda transportasi harian, terutama untuk perjalanan jarak pendek di kawasan perkotaan.Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan pola mobilitas bukan hal yang mustahil, melainkan respons rasional terhadap tekanan ekonomi dan energi. Indonesia pun berada pada titik yang sama: ketika sektor transportasi menyumbang hampir separuh konsumsi BBM nasional, maka perubahan di sektor ini akan memberikan dampak paling signifikan.Selama ini, penggunaan sepeda masih dianggap sekadar gaya hidup atau aktivitas rekreasi. Namun dalam situasi krisis energi, sepeda harus dipandang sebagai bagian dari solusi sistemik.Perubahan cara pandang ini penting. Ketika sepeda menjadi bagian dari sistem transportasi utama, maka ketahanan energi nasional akan semakin kuat.Dorongan untuk mengembangkan transportasi berkelanjutan, termasuk sepeda, sejatinya sejalan dengan arah kebijakan nasional. Dalam dokumen RPJMN 2025-2029, pemerintah mengakui pentingnya pembangunan transportasi yang efisien, terintegrasi, dan rendah emisi.Di tingkat global, penguatan peran sepeda juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ke-11 (kota berkelanjutan) dan tujuan ke-13 (penanganan perubahan iklim).Lebih jauh, Indonesia telah menetapkan target mencapai Net Zero Emissions Indonesia 2060. Dalam konteks ini, sektor transportasi menjadi salah satu sektor kunci yang harus ditekan emisinya. Mendorong peralihan ke moda rendah karbon seperti sepeda merupakan langkah konkret yang dapat dilakukan dalam jangka pendek dengan biaya relatif rendah.Artinya, pengembangan infrastruktur bersepeda bukan hanya respons terhadap krisis energi, tetapi juga bagian dari strategi besar pembangunan berkelanjutan.Angga Marditama Sultan Sufanir tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.