Realitas tidak selalu hadir dalam bentuk yang bisa dilihat, disentuh, atau diukur. Manusia sejak lama hidup dengan keyakinan bahwa ada sesuatu yang melampaui dunia fisik, entah itu jiwa, makna, atau kekuatan tak kasatmata. Pertanyaan tentang apa yang "benar-benar ada" menjadi inti dari Ontologi, sekaligus membuka ruang bagi refleksi metafisik tentang dunia tak sepenuhnya dapat dijelaskan oleh indra. Hal-hal tak terlihat justru sering kali paling menentukan arah tindakan manusia.Sumber: ChatGPT (07/04/26)Gagasan tentang realitas tak terlihat mendapatkan bentuk lebih sistematis. Teologi hadir sebagai upaya manusia untuk memahami dan memberi makna terhadap keberadaan Tuhan, jiwa, dan dunia transenden. Melalui ajaran, doktrin, dan praktik ibadah, konsep-konsep metafisik tidak lagi sekadar abstraksi filosofis, namun menjadi keyakinan yang hidup. Dari sinilah hal-hal berupa metafisik memperoleh legitimasi, bukan hanya diyakini, tetapi juga dijadikan dasar dalam menata kehidupan, moralitas, dan hubungan manusia dengan mahluk gaib, hingga dengan yang ilahi.Realitas metafisik tidak berhenti pada ranah pemikiran dan keyakinan, ia juga menjelma dalam praktik budaya yang kongkret. Dalam perspektif Antropologi, kepercayaan terhadap roh, Tuhan, atau kekuatan tak terlihat merupakan bagian dari sistem makna yang dihidupi di tengah masyarakat. Ritual, simbol, dan tradisi menjadi medium menjembatani dunia empirik dan yang tidak. Metafisika, teologi, dan antropologi tidak berdiri terpisah, melainkan saling berkaitan membentuk cara manusia memahami serta menjalani realitas berdampingan dengan hal-hal yang berbau metafisik.Memperkuat gagasan mengenai konsep metafisik ini dapat diambil pandangan tokoh Swami Vivekanda tentang manusia, penting terlebih dahulu memahami dasar ontologis yang menjadi pijakan pemikiran dalam memahami kerangka metafisika. Konteks ini, tidak hanya membahas mengenai "yang ada" tidak hanya menyangkut apa yang tampak secara empiris, tetapi juga realitas yang melampaui pengalaman indrawi, ini juga menegaskan bahwa metafisik bahwa realitas tidak hanya sebatas pada dunia fisik, melainkan mencakup dimensi terdalam justru menjadi dasar bagi seluruh keberadaan. Begitupun Vivekananda memahami manusia merupakan konsekuensi dari cara memaknai realitas metafisik tersebut.Sebagai seorang pemikir dalam tradisi Advaita Vedanta, Vivekananda mengembangkan pandangan ontologis bersifat non-dualistik dan dipengaruhi oleh Adi Shankaracharya. Realitas adalah Brahman, yang dalam kerangka metafisik sebagai dasar dari segala sesuatu yang ada. Dunia empiris tetap diakui keberadaannya, tetapi tidak memiliki status realitas yang sama karena bersifat tidak kekal. Ditegaskan bahwa metafisika Vivekananda tidak menolak dunia, melainkan menempatkannya dalam hierarki realitas berbeda.Pembedaan tiga tingkat realitas, paramarthika, vyavaharika, pratibhasika menunjukkan struktur metafisik yang kompleks dalam pemikirannya. Hanya tingkat pertama yang menunjukkan realitas sejati (sat), sementara dua tingkat lainnya bersifat relatif dan bergantung. Dalam kerangka Ontologi, hal ini menegaskan bahwa tidak semua "tampak ada" memiliki status keberadaan sama. Metafisika di sini berfungsi untuk memilah mana realitas yang bersifat absolut dan fenomenal, serta menjelaskan bahwa keberadaan dunia dengan manusia tidak berdiri sendiri melainkan bersumber dari realitas lebih mendasar, yaitu Brahman (Widya, 99: 2023).Berkaitan dengan konsep neti-neti dan pemahaman tentang Brahman sebagai sat-cit-ananda menegaskan dimensi metafisik melampaui batas pengetahuan rasional dan empiris. Brahman tidak dapat dijadikan objek indra maupun logika biasa, karena ini menjadi dasar dalam membentuk pengetahuan itu sendiri. Berdasarkan metafisika Vivekananda, realitas tertinggi bukan hanya tidak terlihat, akan tetapi tidak dapat sepenuhnya dipahami secara konseptual. Ini menguatkan gagasan sebelumnya bahwa realitas metafisik, meskipun tak kasatmata justru menjadi fondasi utama dalam memahami hubungan manusia, dunia, dengan sesuatu yang gaib.Keyakinan tentang adanya struktur dasar dalam diri manusia tidak diperoleh hanya melalui pengalaman indrawi, melainkan melalui refleksi intelektual bersifat metafisik. Apa harus "diakui" dalam diri manusia dan kebudayaan bukanlah sekadar entitas fisik atau objek yang dapat diamati, melainkan suatu prinsip keberadaan principe d'etre yakni sesuatu yang menjadikan manusia memiliki ciri khas, nilai, dan martabat. Seperti kerangka metafisika yang telah dibahas sebelumnya, prinsip ini tidak hanya dipahami sebagai dimensi terdalam untuk melandasi eksistensi manusia, sejalan dengan itu bahwa realitas tidak hanya terdiri dari sesuatu yang tampak, tetapi juga menjadi dasar dari keberadaan itu sendiri.Perspektif filsafat, tubuh manusia merupakan bentuk fisik yang bisa dilihat atau dijelaskan secara biologis, melainkan menegaskan struktur metafisik dalam memandang manusia sebagai mahluk budaya. Ketika dikatakan bahwa manusia terdiri dari tubuh dan jiwa, hal ini tidak berarti dua substansi terpisah dan kemudian digabungkan, melainkan dua prinsip secara bersamaan membentuk satu kesatuan eksistensial. Ada prinsip manusia bersifat material dan fana, serta ada pula prinsip yang membuat hidupnya sadar, dan mampu berpikir. Kedua dimensi ini merupakan "yang oleh karenanya" manusia dapat dipahami, sekaligus menegaskan bahwa manusia adalah mahluk berada di antara dunia fisik dan realitas metafisik (Faruk, 136: 2016).Kajian tentang manusia ini sebelumnya dikenal sebagai "psikologi rasional" atau "psikologi metafisis". Namun, istilah tersebut dianggap terlalu sempit karena hanya menekan aspek jiwa. Munculnya istilah antropologi juga digunakan dalam ilmu-ilmu empiris mengkaji manusia dari sisi budaya, biologi, dan sosial. Dalam hal ini, antropologi juga mengkaji sisi metafisik dalam kehidupan dalam upaya memahami manusia secara reflektif, rasional, dan kritis untuk memahami manusia dari segi paling mendasar, sebagaimana pembahasan sebelumnya tentang keterkaitan antara metafisika, teologi, dan pengalaman manusia.Tujuan dari antropologi metafisik adalah menemukan dasar terdalam dari keberadaan manusia. Filsafat tidak hanya berhenti pada pengalaman yang dangkal, namun berusaha membuka apa yang menjadi hakikat dalam menerangi pengalaman manusia. Dari pemahaman ini mendasar ini, manusia dapat melihat dirinya secara lebih utuh, sekaligus memahami posisinya di antara mahluk lain. Dalam kerangka lebih luas, ini sejalan dengan pandangan metafisik Vivekananda yang memandang Brahman sebagai realitas tertinggi, di mana manusia dipahami bukan hanya entitas biologis, namun menjadi bagian realitas lebih mendalam dan mendasar.Asumsi-asumsi mengenai antropologi metafisik dapat dipahami melalui berbagai kategori relasional, universal dan unik, serta tetap dan berubah. Lain hal, dimensi historisitas juga menjadi penting, di mana manusia dipandang sebagai roh yang terjelma, sebagai mahluk yang hidup dalam korelasi antar-subjek, dan wujud yang terikat ruang dan waktu sekaligus memiliki kebebasan. Kategori-kategori ini menunjukkan bahwa manusia dapat eksis dari aspek metafisik, historis, dan relasional. Demikian, pemahaman tentang manusia selalu terkait dengan realitas lebih luas, meskipun tidak dapat dilihat, tetapi menjadi dasar dari segala yang tampak.