Perang di Iran Picu Lonjakan Biaya Kargo Udara

Wait 5 sec.

Petugas melakukan bongkar muatan logistik MotoGP dari pesawat Qatar Airways Cargo Boeing 777 di Bandara Internasional Lombok (BIL), Praya, Lombok Tengah, NTB, Selasa (30/9/2025). Foto: Ahmad Subaidi/ANTARA FOTOKapasitas kargo udara global yang semula diperkirakan tumbuh sebesar 5,5 persen tahun ini justru mengalami penurunan sebesar 1 persen. Mengutip Reuters, Direktur Pelaksana firma konsultan Aevean, Marco Bloemen, menyatakan kondisi ini terjadi akibat konflik di Iran yang pecah pada akhir Februari 2026.Nasib industri kargo tahun ini sangat bergantung pada pemulihan operasional pesawat penumpang berbadan lebar milik maskapai besar di kawasan Teluk. Pesawat tersebut mencakup kira kira separuh dari total kapasitas kargo udara di wilayah tersebut.Pakar dari platform harga transportasi Xeneta, Niall van de Wouw, memberikan pandangannya mengenai peran vital maskapai di kawasan Teluk bagi perdagangan dunia."Maskapai Teluk seperti Emirates dan Qatar Airways mengoperasikan beberapa jaringan kargo udara paling penting di dunia," kata Niall van de Wouw.Ia menambahkan bahwa pemulihan pariwisata yang terlambat di Teluk setelah perang berakhir dapat memicu maskapai untuk memotong kapasitas penumpang. Langkah tersebut diprediksi akan berdampak langsung pada penurunan kapasitas kargo udara.Di sisi lain, maskapai British Airways telah mengumumkan pengurangan penerbangan ke Timur Tengah sebagai tanda melemahnya permintaan akibat ketegangan regional. Perusahaan kargo seperti UPS juga mulai menerapkan rencana darurat dengan tidak menerbangkan pilot mereka ke pusat transit utama seperti Dubai.Petugas memasukkan bantuan logistik untuk korban gempa bumi Turki ke dalam pesawat Hercules C-130 TNI AU di Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta, Sabtu (11/2/2023). Foto: Galih Pradipta/ANTARA FOTOMasalah utama yang dihadapi saat ini adalah lonjakan biaya operasional yang sangat tinggi. Direktur Kargo Grup di Air Charter Service, Dan Morgan Evans, menyoroti kenaikan harga bahan bakar sebagai beban terberat bagi industri."Isu utama bagi semua orang adalah lonjakan besar pada harga bahan bakar," ujar Dan Morgan Evans.Dampak biaya ini dirasakan nyata oleh para pelaku bisnis. Salah satu klien AIT Worldwide Logistics bahkan harus mengeluarkan biaya 5 hingga 6 kali lipat lebih besar untuk mengirimkan peralatan pengeboran minyak ke Arab Saudi. Pengiriman terpaksa dialihkan melalui udara dan truk setelah pelayaran laut dari Houston dibatalkan karena kondisi perang.Meski harus membayar jauh lebih mahal, banyak perusahaan merasa tidak memiliki pilihan lain demi memastikan logistik mereka tetap berjalan."Terkadang kargo memang harus tetap dikirimkan," tutur Morgan Evans menekankan urgensi pengiriman barang di tengah krisis.