Geopolitik Amerika Menggunakan Konflik Iran untuk Melumpuhkan Pengaruh China

Wait 5 sec.

Source : TheDiplomat.com | Credit : DepositphotosDunia saat ini telah menyaksikan eskalasi militer secara intensif di Timur Tengah yang bukan lagi sekadar konflik yang terisolasi dan perang regional, melainkan sebagai strategi besar Amerika untuk mempertahankan unipolaritasnya. Keterlibatan Washington untuk membela Israel melawan Iran bukan sekadar tentang solidaritas atau negosiasi isu nuklir. Dan tanpa kita sadari, di balik retorika stabilitas kawasan terdapat agenda transaksional Amerika yang secara singkatnya, perlawanan terselubung untuk memberi tekanan secara tidak langsung untuk meruntuhkan ekonomi dan pengaruh China di kawasan tersebut.Akibat serangan ini, Iran resmi menutup selat Hormuz dan menimbulkan peningkatan harga minyak dunia yang melonjak. Pernyataan Trump pada media internasional secara terbuka, " Kepada rakyat Iran, ketika kami selesai dan ambil alih pemerintahan kalian. Ini mungkin satu-satunya kesempatan kalian dalam beberapa generasi. Dari pernyataan Trump tersebut, apakah operasi militer ini hanya sekadar untuk menggulingkan regime atau state regime?Pola Intervensi Global: Energi, Logistik, dan MineralJika kita tarik lagi ke belakang dan mempelajari kembali langkah, pressure dan posisi Amerika sebelum memutuskan untuk ikut membantu Israel untuk menyerang Iran di tengah negosiasi nuklir yang sedang berjalan. Berawal dari terpilihnya Trump menjadi Presiden Amerika dan menerapkan tarif ekstrem terhadap seluruh negara, yang tanpa kita sadari tujuan utamanya untuk menghancurkan strategi pembangunan ekonomi China, Belt Road Innitiative. Ada strategi yang sebenarnya merupakan pola konsisten Amerika di berbagai belahan dunia karena Amerika menyadari satu hal fundamental yang dalam 100 tahun ke depan bahwa China merupakan satu-satunya kompetitor yang akan mengganti Amerika sebagai global leader. Ini merupakan langkah strategis yang fokus pada kelemahan dari semua industrial negara superpower.Kebijakan tarif baru Amerika di bawah kepemimpinan Trump tahun 2025-2026 ini adalah pembuka jalan. Tarif tinggi memaksa perusahaan global untuk memutus kerja sama dengan China. Serangan terhadap negara sekutu bertujuan untuk membuat biaya ekspor energi kebutuhan produksi tinggi, sehingga membuat harga produk buatan China ikut meningkat.Ini adalah strategi pengepungan dua arah yaitu, menghancurkan ekspor melalui tarif dan menghancurkan proses produksi melalui kontrol energi. Tanpa energi murah dari Teheran, mesin manufaktur China akan melambat, inflasi domestik Beijing meroket dan ketergantungan energi mereka terputus.Mengingat kembali isu Panama kanal, Amerika telah menegaskan bahwa kontrol atas jalur Panama kanal untuk mengawasi laju logistik perdagangan China menuju Atlantik agar dapat dibatasi sesuai kebutuhan politik Washington. Seperti yang kita ketahui meningkatnya popularitas transportasi EV buatan China telah berhasil memonopoli pasar dunia. Hal ini juga sebagai langkah Amerika untuk melemahkan margin keuntungan industri Beijing pada perdagangan internasional dan perluasan produk China di pasar internasional.Ambisi Trump lainnya, mengintervensi Greenland dengan tujuan demi keamanan kawasan, yang dibalik itu ternyata ada maksud lain yaitu kekayaan mineral Greenland. Dengan menguasai deposit Rare Earth, Amerika berkeinginan untuk memutus dominasi China yang selama ini sudah memonopoli rantai pasokan EV baterai dan semikonduktor global.Lalu, ada negara latin lainnya yaitu Venezuela untuk kita jadikan rangkaian untuk memahami arah geopolitik Amerika. Dengan mengisolasi dan membatasi pengeksporan minyak, Amerika dapat menghancurkan saluran energi eksternal utama yang telah dikembangkan China bertahun-tahun. Terjalinnya kedekatan Venezuela dengan Amerika sekarang, menjadikan pengeksporan minyak Venezuela di bawah kontrol Amerika.Serangan dan tekanan Amerika terhadap Iran sepintas bukan lagi berbicara tentang nuklir, tetapi pasokan minyak yang dimiliki Iran. China mengimpor minyak dari Iran sekitar 10 juta barel setiap harinya. Dan China juga merupakan pembeli utama ekspor minyak melalui jalur laut, sebanyak satu per lima pemasok minyak global bergerak melewati satu jalur choke point yaitu Hormuz. Singkatnya, pengaruh Iran sama saja pengaruh pada jalur Hormuz, intervensi Venezuela bertujuan untuk mengontrol pasokan ekspor minyak, begitu juga dengan Timur Tengah yang terpantau melalui pangkalan militer Amerika. Dampak kontrol ini, Amerika gunakan untuk melemahkan industri China, seperti pabrik, industri material besar, AI infrastruktur dan sebagainya. Hal ini secara tidak langsung mengilustrasikan langkah Amerika terhadap China yang bertujuan untuk menjatuhkan dominasi global trade tanpa harus menggunakan perang sebagai alat perlawanan.Penutupan Selat HormuzSecara teoritis, tindakan Amerika dapat kita pahami seperti suatu Realisme Offensive, Mearsheimer, J. (2001). The tragedy of Great Power Politics, yang menjelaskan di mana sebuah kekuatan dominan akan melakukan pencegahan aktif pada kompetitor yang setara atau disebut Peer Competitor. Pada analisa ini, Amerika menerapkan strategi Geopolitik Rimland (Spykman) untuk mengunci titik krusial maritim wilayah Eurasia untuk menghambat mobilitas China. Dan serangan terhadap Iran ini merupakan upaya dalam mempertahankan Hegemoni Petrodollar. Washington berupaya untuk memastikan negara-negara pengekspor energi untuk tetap menggunakan mata uang dolar untuk bertransasksi dan menjadikan satu-satunya instrumen likuiditas global. Amerika berupaya untuk menggagalkan sistem perdagangan energi berbasis mata uang Yuan China yang dikhawatirkan dapat menggantikan dominasi dolar. Sebagai respons defensif, Iran menggunakan posisi geografisnya untuk menutup selat Hormuz. Jalur strategis ini merupakan nadi bagi 20% pasokan minyak dunia (EIA, 2025). Iran menggunakan strategi ini untuk menciptakan krisis global dan memaksa dunia untuk sadar pada perilaku agresi Amerika. Akibat penutupan akses jalur Selat Hormuz, harga minyak mentah mencapai $110 per barel. Rusia yang memiliki jalur distribusi independen ke China dapat meraup keuntungan finansial masif (Windfall Revenue). Hal ini secara tidak langsung menstabilkan ekonomi Rusia di tengah banyaknya sanksi ekonomi dan memperkuat posisi militer Rusia pada perang di Ukraina.China terlihat sengaja menghindari pendekatan hard power atau konfrontasi militer untuk menjaga citra sebagai sebuah negara "construction power" untuk melawan AS sebagai negara "destruction power". Sikap tenang Beijing dalam menghadapi konflik ini, terlihat menggunakan strategi soft power dan efektif menantang kekuatan transisi dengan cara memantau dan menghindari jebakan konflik terbuka Thucydides Trap dengan hanya membiarkan Washington terkuras oleh tingginya biaya operasional militer.Melalui perantara perdamaian global, China tetap memposisikan diri sebagai mediator setelah berhasil melakukan rekonsiliasi Saudi-Iran tahun 2023. Di saat Amerika menyuplai bom ke Israel, China mengirimkan bantuan kemanusiaan dan tim rekonstruksi ke wilayah konflik. Retorika Amerika yang menginginkan untuk "mengakhiri" perang di Timur Tengah merupakan paradox berbahaya, yang sebenarnya ingin mengambil kontrol penuh atas distribusi sumber daya global. Israel digunakan sebagai akselator atau pemicu militer, Iran dijadikan alat untuk melumpuhkan energi Cina dan wilayah lain untuk memastikan tidak ada alternatif di bagian Timur. Amerika sedang mempertaruhkan stabilitas dunia untuk satu tujuan akhir yaitu, di abad ke-21 tidak ada satu pun negara yang bisa bangkit dan bertumbuh tanpa izin dari Washington. Apakah transisi kekuasaan ini akan menjadi bumerang yang mungkin dapat mempercepat keruntuhan dominasi Amerika dan melahirkan tatanan dunia multipolar baru?