Ilustrasi sekumpulan orang yang sedang berdialektika. Foto: PixabaySebagai mahasiswa semester dua jurusan Manajemen Bisnis, saya datang ke kampus dengan kepala yang penuh ekspektasi. Di bayangan saya, kehidupan kampus—terutama organisasi tingkat jurusan seperti Himpunan Mahasiswa (Hima)—adalah kawah candradimuka. Tempat di mana ide-ide besar dibenturkan, tempat berdiskusi bebas soal isu kenaikan Uang Kuliah Tunggal (UKT), ketimpangan ekonomi masyarakat, hingga dinamika pasar global yang memengaruhi hajat hidup orang banyak.Namun, baru beberapa bulan bergabung dengan Hima, ekspektasi itu hancur berantakan. Jangankan berdiskusi soal isu nasional atau internasional, waktu kami justru habis terkuras untuk rapat membahas warna banner acara, mencari sponsorship ke perusahaan yang seringnya berujung penolakan, dan pusing memikirkan menu konsumsi. Tanpa sadar, organisasi mahasiswa hari ini telah bergeser fungsi: dari wadah intelektual menjadi tidak lebih dari agensi Event Organizer (EO) gratisan berkedok pengabdian kampus.Kampus atau Agensi Event Organizer?Sebagai mahasiswa Manajemen Bisnis, belajar soal manajemen proyek, perancangan anggaran (budgeting), dan kepemimpinan memang sangat penting. Namun, ada perbedaan besar antara mempraktikkan ilmu bisnis dan menjadi "pekerja kasar" tanpa bayaran atas nama program kerja (proker).Siklus di dalam Hima saat ini rasanya sangat monoton dan dangkal: bentuk panitia, buat proposal, cari dana dengan berjualan makanan ringan atau menunggu dana turun dari BEM, jalankan acara, lalu bubar. Begitu terus sepanjang tahun. Kita terlalu sibuk memikirkan rundown acara sampai lupa memikirkan esensi mengapa kita menjadi mahasiswa. Kita dilatih untuk menjadi pelaksana (eksekutor) yang patuh, bukan pemikir (kreator) yang kritis.Paulo Freire dan "Gaya Bank" di Organisasi MahasiswaKonsep ini nyatanya hidup subur di dalam Hima. Para anggota baru diperlakukan layaknya bawahan yang hanya perlu menerima instruksi. “Ini proker tahunan, kalian sebagai anggota baru wajib jadi panitia,” begitu kira-kira doktrinnya. Kami dijejali tugas-tugas administratif. Mengapa proker ini harus ada? Apa dampak konkretnya?Sebenarnya, bertanya itu tidak dilarang, tetapi jawaban yang diterima sungguh mengecewakan. Belum lagi saya sempat berdiskusi dengan teman saya dan mengatakan: "Yah, memang proker Hima tuh dari dulu kayak gini, harus jadi panitia event, bukan tempat diskusi, apalagi kampus kita bukan kampus besar."Ilustrasi mahasiswa. Foto: ShutterstockJawaban ini menunjukkan bahwa esensi organisasi telah hilang. Organisasi bukan lagi menjadi wadah untuk berdialektika untuk membedah isu-isu panas—seperti dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap lapangan kerja masa depan atau analisis kebijakan ekonomi lokal—melainkan hanya menjadi mesin pembuat acara.Padahal, jika kita merujuk pada buku The Fifth Discipline karya Peter Senge, sebuah organisasi yang sehat seharusnya menjadi learning organization (organisasi pembelajar).Senge menekankan bahwa esensi organisasi adalah tempat di mana orang-orang terus-menerus memperluas kapasitas mereka untuk menciptakan hasil yang benar-benar mereka inginkan, di mana pola pikir baru dipelihara, dan orang-orang belajar bagaimana belajar bersama melalui dialog.Mereka mengubah mahasiswa dari pemikir menjadi sekadar "baut" dalam mesin acara. Kita kehilangan ruang untuk mendiskusikan masalah realitas karena waktu kita habis untuk mengurus teknis acara yang hasilnya sering kali hanya sekadar angka di laporan pertanggungjawaban.Lebih ironis lagi jika kita melihat dari kacamata karier masa depan. Sebagai mahasiswa Manajemen Bisnis, kita harus melek realitas: HRD perusahaan besar saat ini sudah tidak lagi tertarik hanya dengan label "aktif organisasi". Di era sekarang, perekrut lebih mencari pengalaman yang relevan (relevant experience) dan skill nyata yang bisa dibuktikan melalui portofolio atau magang, bukan sekadar sertifikat "panitia event" di kampus.Menjadi panitia event selama setahun penuh di Hima tidak akan membuat profil LinkedIn kita dilirik jika kita tidak memiliki kemampuan analisis atau teknis yang dibutuhkan industri.Ilustrasi aplikasi pencari kerja, LinkedIn. Foto: MARTIN BUREAU/AFPJika Hima tidak memberikan ruang diskusi dan pengembangan intelektual, aktif di sana sebenarnya adalah pemborosan waktu yang sangat mahal bagi masa depan profesional kita. Dunia korporat butuh orang yang bisa berpikir strategis, bukan sekadar orang yang jago memastikan snack pembicara tersedia tepat waktu.Krisis Esensi: Relevansi "Kuli Event" dengan Dunia KerjaDan saya sempat bertanya-tanya ketika sedang di rumah: Kenapa kita harus memaksakan membuat acara lomba bisnis nasional dan seminar motivasi berbayar yang menyedot energi serta anggaran jutaan rupiah? Bukankah dana dan waktu itu lebih baik dipakai untuk kajian ekonomi rutin yang mempertajam otak kita? Apakah ini terjadinya degradasi kualitas intelektualisme di pendidikan kita?Mari kita bedah secara logika bisnis menggunakan konsep Biaya Peluang (opportunity cost). Sebagai mahasiswa Manajemen Bisnis yang nantinya (sebagian besar) akan mengincar posisi profesional di korporat—seperti analis keuangan, manajer pemasaran, atau HR—investasi waktu kita di Hima seharusnya menghasilkan skill yang relevan.Data dari World Economic Forum (WEF) dalam laporan Future of Jobs menyebutkan bahwa kemampuan yang paling dibutuhkan di dunia korporat masa depan adalah pemikiran analitis, berpikir kritis, dan strategi pembelajaran.Sayangnya, menjadi panitia lomba atau seminar lebih banyak melatih kemampuan teknis-operasional rendah: seperti memesan makanan, mengantar surat birokrasi, atau menjadi pagar ayu/bagus di depan pintu seminar.Kita bukan sedang sekolah di jurusan event management. Jika kita menghabiskan 80% waktu kuliah untuk menjadi "kuli event", kita sebenarnya sedang melakukan malapraktik terhadap masa depan kita sendiri. Dunia korporat membutuhkan orang yang bisa memecahkan masalah kompleks, bukan orang yang hanya jago memastikan "snack peserta jangan sampai telat". Kita terjebak dalam kesibukan yang tidak meningkatkan market value kita di industri.Madilog: Matinya Logika dan DialektikaTan Malaka Muda. Foto: IstimewaTan Malaka melalui mahakaryanya—Madilog (Materialisme, Dialektika, dan Logika)—mengajarkan betapa pentingnya bagi kita untuk melepaskan diri dari "logika mistika" atau kepercayaan buta. Dialektika adalah proses membenturkan satu pemikiran dengan pemikiran lain untuk menemukan kebenaran.Sayangnya, dialektika di dalam Hima sudah mati suri. Mengerjakan sesuatu hanya karena "tradisi warisan senior" tanpa ada landasan logika atau manfaat nyata adalah sebuah kemunduran berpikir yang ditentang keras oleh Tan Malaka. Hima kehilangan tajinya karena terlalu sibuk melestarikan event megah (seperti lomba dan seminar) yang sering kali hanya menjadi ajang pamer, tetapi kosong secara nilai intelektual.Catatan Seorang Demonstran: Mahasiswa dan ApatismeSoe Hok Gie dalam Catatan Seorang Demonstran sangat muak dengan mahasiswa yang hanya peduli pada buku teks dan urusan perut, tetapi buta terhadap sekitar. Hima hari ini terjebak dalam "apatisme yang sibuk".Kita terlihat sangat sibuk rapat sampai malam, tetapi secara substansial, kita apatis terhadap isu yang benar-benar penting, seperti kebijakan UKT yang mencekik teman seangkatan kita. Hima telah berubah menjadi zona nyaman yang menjauhkan mahasiswa dari realitas sosialnya.Birokrasi Konyol: Sebuah Pengakuan dari DalamPuncak dari rasa muak saya adalah ketika saya berniat untuk mundur. Suatu malam, saya mengirim pesan (chat) kepada salah satu kakak tingkat (kating) yang menjabat pengurus inti. Saya bertanya, "Kak, sebenarnya kalau mau keluar dari Hima itu boleh dan bisa nggak, sih?"Jawaban yang saya terima sungguh ironis. Kating tersebut bukannya melarang, malah curhat balik. Ternyata, dia sendiri pun sudah lama ingin sekali keluar dari Hima! Dia merasa lelah dan muak dengan rutinitas EO yang mengorbankan kuliahnya. Namun, dia bertahan karena satu alasan: proses keluarnya sangat rumit.Ilustrasi kampus. Foto: ShutterstockKating ini mengakui bahwa di awal periode, dia sebenarnya tidak mau bergabung. Namun, ia dipaksa dan diintimidasi secara halus oleh pimpinan Hima dengan dalih "kebutuhan SDM" dan "solidaritas angkatan". Ini sungguh menyedihkan. Hima bukan lagi dibentuk atas dasar kesadaran, melainkan paksaan dan rasa ewuh-pakewuh (sungkan).Saat ada anggota yang ingin keluar, birokrasinya dibuat serumit mungkin: interogasi mental, surat bermaterai, hingga bertemu dengan dekan fakultas. Meminjam kacamata Paulo Freire, mempersulit anggota untuk keluar dengan ancaman sosial maupun birokrasi adalah bentuk hegemoni yang nyata.Ironisnya, hambatan ini sering kali justru datang dari pihak fakultas atau program studi yang membuat aturan keluar menjadi begitu rumit dan berbelit. Dengan dalih menjaga profesionalitas dan integritas sebagai mahasiswa, mereka seolah "menyandera" kebebasan individu dan memaksa orang-orang yang sudah muak untuk tetap tinggal.Narasi profesionalitas ini sering disalahgunakan untuk membungkam kelelahan mental mahasiswa; seolah jika kita keluar dari organisasi, kita dianggap tidak profesional dan tidak siap menghadapi dunia kerja. Padahal, sistem ini justru memaksakan "loyalitas semu" hanya demi memastikan roda panitia event kampus tetap berputar dengan tenaga kerja yang sebenarnya sudah kehilangan gairah.Revolusi Paradigma: Merombak Struktur Penindasan menjadi Ruang MerdekaHimpunan Mahasiswa bukanlah sekadar pabrik pencetak panitia event organizer. Esensi mahasiswa adalah sebagai agent of change (agen perubahan). Bagaimana kita bisa menjadi calon pekerja korporat yang andal, penggerak sosial hingga entrepreneur, jika waktu kita habis hanya untuk mengurus surat menyurat seminar dan mencari peserta lomba?Hima perlu segera dikembalikan ke khitahnya. Jadikan Hima sebagai ruang yang berisik oleh perdebatan ide dan analisis kritis. Keluar dari organisasi yang tidak lagi sejalan dengan hati nurani—apalagi jika masuknya karena unsur paksaan—bukanlah sebuah pengkhianatan. Itu adalah langkah paling rasional untuk menyelamatkan kewarasan dan nalar kritis kita sendiri.