Rumah Sakit Umum Pusat Dr. Hasan Sadikin Bandung. Foto: Abisatya Ramdhani/kumparanSeorang bayi nyaris dibawa oleh orang tidak dikenal saat berada di RS Hasan Sadikin (RSHS) Bandung. Peristiwa itu diceritakan ibu sang bayi, Nina Saleha.Nina menceritakan, kejadian bermula saat dirinya menunggu pemeriksaan dokter untuk bayinya. Di sela menunggu, ia sempat berinteraksi dengan seorang perempuan lain yang berada di lokasi yang sama.“Saya tanya, 'mau ngapain ke sini? Mau pulang atau nengok?' Dia bilang mau pulang,” ujar Nina saat dihubungi wartawan, Kamis (9/4).Nina sempat turun ke bawah bersama suaminya untuk makan. Namun, ia mengaku memiliki firasat tidak enak dan memutuskan kembali ke ruangan bayi.“Pas saya kembali ke atas, ternyata anak saya sudah dipegang oleh perempuan itu. Saya tanya, 'Teh, pulang?' Dia bilang, iya. Pas saya perhatikan baju, selimut, dan wajahnya, itu anak saya,” katanya.Nina juga mendapati gelang identitas bayinya sudah tidak ada.“Pas dilihat, gelang namanya sudah tidak ada. Katanya gelangnya sudah digunting oleh suster,” ungkapnya.Nina lalu mencari suster, dan menyebut bahwa anaknya akan dibawa pergi oleh pengunjung itu.“Saya teriak, ‘Sus, Sus, itu anak saya mau dibawa pergi!’”Suami Nina datang dan berdialog dengan suster. Si suster beralih, Nina telah dipanggil namun tidak ada di lokasi.Meski begitu, Nina menduga ada kelalaian dari pihak rumah sakit, bahkan tidak menutup kemungkinan adanya unsur kesengajaan. Nina berharap kasus ini dapat ditindaklanjuti secara serius agar tidak terulang di kemudian hari.“Harapannya ditindaklanjuti. Susternya kalau bisa diberi sanksi tegas, takutnya jadi oknum,” ucapnya.RSHS Bandung Minta MaafManajemen RSHS Bandung menyampaikan permohonan maaf atas peristiwa tersebut.“Sehubungan dengan adanya pemberitaan di media sosial TikTok pada tanggal 8 April 2026 terkait dengan pelayanan kesehatan pada bayi dari Ibu Nina Saleha, maka segenap manajemen RSUP Dr. Hasan Sadikin menyampaikan permohonan maaf yang sedalam-dalamnya atas ketidaknyamanan peristiwa yang dialami oleh anak Ibu Nina Saleha selama mendapatkan pelayanan kesehatan di RSUP Dr. Hasan Sadikin,” demikian pernyataan resmi manajemen.Lebih lanjut, pihak rumah sakit menegaskan komitmennya untuk mengevaluasi layanan, serta meningkatkannya.“Pada prinsipnya, RSUP Dr. Hasan Sadikin akan selalu melakukan evaluasi dan peningkatan kemampuan dalam pemberian layanan kesehatan kepada masyarakat sesuai dengan ketentuan yang berlaku,” lanjut pernyataan tersebut.Menjadi Sorotan KDMGubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi atau KDM diwawancarai wartawan di Kantor Bank Indonesia (BI), Jakarta, Rabu (22/10/2025). Foto: Fadhil Pramudya/kumparanPeristiwa itu turut mendapat perhatian khusus dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi. Pria yang akrab disapa KDM tersebut langsung turun tangan memberikan bantuan kepada Nina dan bayinya.Dalam video yang diunggah di akun YouTube Kang Dedi Mulyadi Channel, Kamis (9/4), KDM menyampaikan keprihatinannya sekaligus menyoroti dugaan kelalaian dalam pelayanan kesehatan yang menimpa Nina dan bayinya.“Yang penting yang pertama itu adalah tindakan yang ceroboh yang dilakukan oleh perawat, dan nanti saya tanya ke manajemen apa tindakan yang dilakukan oleh manajemen. Tapi saya dengar bahwa sudah diberikan sanksi, tapi tidak tahu sanksinya apa,” ujar KDM dalam video tersebut.Selain itu, KDM juga menyampaikan empati dan dukungannya kepada Nina Saleha yang baru saja melewati masa sulit setelah proses kelahiran sang bayi.“Yang kedua, saya mengucapkan selamat atas kelahiran anak teteh, kemudian selamat sudah melewati masa yang berat dalam hidup, yaitu anaknya sempat dibawa orang,” lanjutnya dalam percakapan telepon dengan Nina.Sebagai bentuk kepedulian, KDM juga memberikan bantuan finansial untuk membantu kebutuhan pasca persalinan Nina dan sang bayi.“Yang ketiganya, ini bentuk karena teteh mengalami kesulitan waktu kelahiran, saya nanti titip buat beli popok anak teteh, buat beli gizi dan pemulihan kesehatan teteh ya. Saya nanti (kasih) ke teteh Rp 10 juta ya,” katanya.Polisi SelidikiPeristiwa itu memicu kekhawatiran masyarakat terkait keamanan pasien, khususnya bayi dan anak-anak di fasilitas kesehatan. Terkait peristiwa itu, polisi akan mengusutnya.“Kita akan mendalami hal tersebut. Akan dilakukan penyelidikan,” ujar Kasat Reskrim Polrestabes Bandung, AKBP Anton, saat dikonfirmasi, Jumat (10/4).Menurutnya, penyelidikan dilakukan untuk memastikan secara utuh kronologi kejadian, termasuk mengidentifikasi pihak yang diduga terlibat dalam insiden tersebut.RSHS Nonaktifkan Perawat, Juga Disanksi SP 1Ilustrasi perawat rumah sakit . Foto: THICHA SATAPITANON/ShutterstockManajemen RSHS Bandung mengambil langkah tegas terkait peristiwa ini. Direktur Utama RSHS, dr. Rachim Dinata Marsidi, menyampaikan bahwa pihaknya telah menjatuhkan sanksi terhadap perawat yang terlibat dalam insiden tersebut.“Perawatnya sudah kami nonaktifkan dari pelayanan langsung kepada pasien, dipindahkan ke bagian lain, serta diberikan Surat Peringatan (SP) 1,” ujar Rachim.Selain itu, RSHS juga menyatakan kesiapan untuk dilakukan evaluasi oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia terkait insiden tersebut.“Kami siap untuk dilakukan evaluasi oleh Kementerian Kesehatan, dan kami juga sudah melaporkan kejadian ini ke Kemenkes,” katanya.Ia menegaskan bahwa pihak rumah sakit terbuka terhadap segala bentuk pengawasan dan pembinaan guna meningkatkan kualitas pelayanan serta keamanan pasien.Lebih lanjut, RSHS akan melakukan evaluasi internal secara menyeluruh, khususnya terhadap prosedur operasional standar (SOP) dalam penyerahan bayi kepada orang tua.“Ke depan, kami akan melakukan evaluasi dan pembinaan kembali kepada para perawat terkait kepatuhan dalam melaksanakan SOP, terutama dalam proses penyerahan bayi kepada orang tuanya,” jelas Rachim.