Ilustrasi media sosial. Foto: Vasin Lee/ShutterstockDi era digital seperti sekarang, penggunaan gadget tak lepas dari kehidupan sehari-hari kita. Bagaikan pisau bermata dua, penggunaan gadget di satu sisi dapat membantu menunjang, namun penggunaan berlebihan malah dapat mengganggu kualitas hidup. Salah satunya adalah penggunaan medsos yang berlebihan.Berdasarkan studi milik Chhangani dkk berjudul The Vanishing Attention Span: Exploring Digital Distractions among University Students of India (2025), screen time yang berlebihan dapat mempengaruhi attention span. Studi tersebut dimuat dalam jurnal The International Journal of Psychology. Risetnya dilakukan terhadap 300 mahasiswa dari berbagai universitas di India yang terdiri dari umur 15 hingga 25 tahun.Chhangani dkk menemukan bahwa orang dengan screen time di bawah 4 jam, misalnya 2-4 jam, 33,7 persen orang mengaku kesulitan konsentrasi ketika melakukan satu tugas dalam jangka waktu panjang. Kemudian, pada kelompok screen time tersebut, sebanyak 49 persen orang merasa mudah terdistraksi oleh handphone atau media sosial saat belajar atau kerja.Ilustrasi kesulitan anak belajar di sekolah. Foto: Shutter StockNamun, angka orang-orang yang memilih setuju bahwa dia sulit berkonsentrasi dan mudah terdistraksi bertambah seiring dengan semakin banyaknya screen time.Pada kelompok screen time 4 sampai 6 jam, sebanyak 57,7 persen orang setuju kalau mereka merasa sulit berkonsentrasi saat mengerjakan satu tugas dalam periode yang panjang. Selain itu, 60,6 persen dari mereka juga setuju kalau mereka mudah terdistraksi saat mengerjakan tugas oleh handphone atau media sosial.Berdasarkan data We Are Social 2026, TikTok jadi medsos dengan durasi penggunaan paling lama di Indonesia. Masyarakat Indonesia rata-rata menggunakan medsos ini selama 1 jam 53 menit per hari.Aplikasi pesan singkat WhatsApp menempati urutan ke-2 dengan penggunaan rata-rata selama 1 jam 52 menit per hari. Disusul YouTube selama 1 jam 14 menit, Facebook 1 jam 9 menit, dan SnackVideo 1 jam 9 menit.Angka-angka ini merupakan rata-rata waktu per hari yang dihabiskan oleh pengguna aktif pada masing-masing aplikasi.Berikut rincian durasi penggunaan medsos per hari:NoMedia SosialDurasi per Hari1TikTok1 jam 53 menit2WhatsApp1 jam 52 menit3YouTube1 jam 14 menit4Facebook1 jam 9 menit5SnackVideo1 jam 9 menit6Instagram43 menit7X (Twitter)27 menit8Telegram16 menit9Discord15 menit10Pinterest10 menit11LINE9 menit12Threads8 menit13Messenger7 menit14Snapchat5 menit15LinkedIn4 menitVideo Pendek Bikin Atensi Kita PendekLantas benarkah penggunaan medsos yang berlebihan dapat mempengaruhi kualitas hidup seseorang? kumparan mengkonfirmasi anggapan tersebut kepada Dosen Psikologi Universitas Indonesia (UI) Dicky Pelupessy. Ia merinci dampak penggunaan medsos yang berlebihan, terlebih pada aplikasi video pendek. "Pertama memang kita bicara penurunan konsentrasi karena konsentrasi dalam pengertian rentang atensi gitu ya. Dan itu sebenarnya lebih dipicu karena ada platform-platform yang sekarang memang kemudian membuat atensi kita itu singkat-singkat. Ya itu yang kalau kita bicara tentang TikTok, Reels gitu ya, itu kan memang dia singkat-singkat kan konten itu," terang Dicky saat dihubungi kumparan, Jumat (10/4). Dicky Pelupessy. Foto: Dok. PribadiMenurutnya, kebiasaan yang dibentuk oleh platform membuat rentang atensi sesorang ikut singkat, sesuai konten-konten yang sengaja disediakan berupa video singkat.Namun, Dicky membedakan dampak antara aplikasi berbasis video pendek dengan aplikasi video panjang seperti YouTube. Kata Dicky, aplikasi video panjang dan game online malah membutuhkan rentang atensi yang panjang. "Nah, kebiasaan kita yang dibentuk oleh platform demikian itu yang kemudian membuat rentang atensi kita juga terbiasa untuk mengikuti yang singkat-singkat gitu. Tetapi, ini beda cerita kalau misalnya YouTube atau game online. Game online itu kan orang diharapkan main game-nya tuh terus-menerus kan gitu," imbuhnya. Beda Generasi, Beda Tingkat DampaknyaDicky mengungkap fakta bahwa dampak yang dirasakan dari penggunaan medsos berlebihan dapat berbeda antar generasi. Generasi yang lebih tua akan merasa dampak yang lebih kecil dibandingkan generasi muda yang lahir atau tumbuh di era digital. "Ada perbedaan generasi yang efeknya tidak sama gitu. Itu satu dan memang betul dari studi itu menunjukkan pada kelompok yang lebih muda, bukan pada mereka yang milenial, bukan pada mereka yang lebih senior dari milenial," terangnya. Ilustrasi orang tua dan anak main gadget. Foto: NaMong Productions92/Shutterstock"Kalau pada orang dewasa, jadi misalnya sayalah gitu ya. Saya kan sudah sebelumnya terbiasa baca koran, baca majalah, hanya nonton TV gitu ya. Terus kemudian kalaupun kemudian saya mengonsumsi atau bermain aplikasi TikTok dan lain-lain yang modelnya singkat itu, kebiasaan yang baru ini kan bukan betul-betul sesuatu yang saya bentuk dari awal," tambahnya. Perbedaan paparan medsos antar generasi juga mempengaruhi komunikasi antara orang tua dan anak. Menurutnya, ada kondisi yang incompatible antara generasi terdahulu dengan generasi sekarang. Terlebih saat orang tua berhadapan dengan anaknya."Ada mungkin gesekan, di situ mungkin ada ketidaktahuan, bagaimana mengikuti, bagaimana kemudian mengelola gitu ya kalau kita bicara orang tua, orang dewasa gitu ya berhadapan dengan mereka yang dari sejak mereka lahir," ujarnya. Ia mencontohkan, bila sang orang tuanya juga tumbuh dalam dunia digital yang sama seperti anaknya, cara mereka berkomunikasi, berinteraksi lebih mulus karena keduanya berada di dunia yang sama. Keduanya memahami kondisi yang sama. Bagaimana Menanganinya?Bukan tidak mungkin kita keluar dari dampak negatif penggunaan medsos berlebihan. Dicky membeberkan cara supaya durasi bermain medsos dan screen time bisa tetap on-track. Ilustrasi Digital Wellbeing. Foto: Bendix M/ShutterstockMenurutnya, perlu ada jeda saat bermain gadget. Salah satu cara yakni dengan memasang timer untuk mengingatkan durasi layar gadget menyala dan rutin mengecek weekly report pemakaian gadget. "Mau nggak mau itu prinsipnya adalah kita tuh harus break gitu. Jadi harus menghentikan atau ada jeda supaya tadi kebiasaan kita itu tidak terbentuk atau terus-menerus demikian." -Dosen Psikologi UI Dicky Pelupessy Dicky menyebut, penggunaan medsos berlebihan itu tak lepas dari pola yang telah dibentuk sebelumnya. Penting untuk memastikan pola yang buruk tak dilakukan berkepanjangan. Peran orang tua untuk mengawasi anak juga penting. Baginya, orang tua berperan sebagai penjaga atau gatekeeper untuk menerapkan pola bermain medsos yang sehat untuk anak. "Ada pola yang sehat itu tentu kita bicara berapa lama gitu ya gitu. Dan berapa lama itu bisa kemudian patokannya tergantung nih, kan kita biasanya bicara tentang kalau di rumah itu kapan itu weekdays, kapan itu weekend gitu ya. Tetapi prinsipnya adalah harus ada ya waktu yang kita sebut waktu jeda ya, waktu istirahat," terangnya.Ilustrasi pria main handphone sebelum tidur. Foto: airdone/ShutterstockSelain itu, kesadaran diri sendiri juga penting. Ketika sudah merasa penggunaan gadget sudah berlebihan, kita perlu melakukan digital detoxification. Untuk mereka yang sudah di tingkat adiksi, kesadaran untuk berhenti itu menurun. Dicky menyebut, mereka tidak bisa membedakan, merasakan, dan menyadari bahwa sebenarnya penggunaan sudah terlalu berlebihan. Dicky mengungkap, salah satu pertanda seseorang sudah mulai masuk ke level ketagihan adalah ketika penggunaan gadget mulai mengganggu pola kehidupan sehari-hari. Ia menjelaskan, mengacu pada rumus dasar 24 jam 8-8-8, alokasi waktu ideal dalam sehari yakni 8 jam istirahat, 8 jam untuk sekolah atau bekerja, 8 jam untuk kegiatan lain. Medsos dan game jangan sampai mengganggu pola tersebut. Detox Sosial Media. Foto: Ivan Marc/Shutterstock"Pola aktivitas antara medsos atau main game sudah keluar dari 8-8-8 gitu. 8 jam istirahat yang kurang gitu ya atau terganggu, terus 8 jam sekolah atau bekerja juga sudah terganggu, sementara dia lebih banyak habiskan yang seharusnya itu 8," terangnya. "Berdasarkan pola itulah yang kemudian itu harus dikenali. Dan kalau dia mengenali atau orang lain mengenali, dia harus melakukan intervensi memastikan dia harus break, memastikan dia harus berhenti,dan memastikan dia punya aktivitas lain," tambahnya.