Joko Anwar di konferensi pers dan screening Ghost In The Cell, Jakarta Selatan. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparanPoster film Ghost in the Cell sempat ramai dibicarakan di media sosial karena tampilannya yang tak biasa. Visual ‘bolong-bolong’ yang ditampilkan membuat sebagian orang merasa tidak nyaman, terutama bagi mereka yang memiliki trypophobia.Menanggapi hal itu, sutradara Joko Anwar mengaku dirinya juga sebenarnya memiliki kondisi serupa. Namun, ia menegaskan bahwa elemen visual tersebut bukan sekadar estetika, melainkan punya makna yang ingin disampaikan.“Sebenernya aku sama Tia (produser) adalah penderita trypophobia akut,” ujar Joko Anwar saat ditemui di Jakarta Selatan.Konferensi pers dan screening Ghost In The Cell, Jakarta Selatan. Foto: Salsha Okta Fairuz/kumparanJoko kemudian menjelaskan bahwa visual ‘bolong-bolong’ yang muncul di film bukanlah sekadar lubang kosong. Di dalamnya, terdapat elemen lain yang justru menjadi simbol penting dalam cerita.“Kalau teman-teman lihat, itu nggak bolong-bolong tapi ada isinya. Isinya itu seperti bunga seroja,” lanjutnya.Menurut Joko, elemen tersebut merepresentasikan harapan di tengah kondisi yang gelap. Meski film ini menampilkan sisi terburuk manusia, tetap ada pesan optimisme yang ingin disampaikan kepada penonton.“Jadi itu adalah hope. Jadi kita mau semua yang ada di film ini menunjukkan ada arti,” katanya.Tak hanya di film, konsep serupa juga diterapkan pada poster. Joko menyebut, visual tersebut sengaja dibuat untuk memancing reaksi penonton sejak pertama kali melihatnya.“The point is, kita mau membuat penonton ketika melihat posternya immediately mereka merasa ‘What is this? Apaan sih?’” jelasnya.Lebih jauh, ia mengungkap bahwa visual tersebut juga berkaitan dengan gambaran sistem yang ingin dikritik dalam film. Poster itu, menurutnya, merefleksikan kondisi yang mungkin terasa ‘tidak nyaman’ untuk dilihat.“Tapi sebenarnya teman-teman itu adalah orang yang melihat sistem yang busuk dan bagaimana para napi-napi kita ada di dalamnya,” ujarnya.Lewat pendekatan visual ini, Joko ingin mengajak penonton untuk berefleksi. Rasa tidak nyaman yang muncul justru menjadi bagian dari pesan yang ingin disampaikan.“Jadi kalau kita merasa jijik dengan itu, kita jijik sama diri kita sendiri di dalam sistem,” pungkasnya.Ghost In The Cell merupakan film horor komedi Indonesia karya Joko Anwar yang berlatar di Lapas Labuhan Angsana. Para narapidana di sana terpaksa bersatu melawan teror hantu pemangsa energi negatif yang membunuh mereka satu per satu secara mengerikan.Film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 16 April 2026.------------Yang penasaran sama film "Ghost In The Cell" yuk ikut kumparan Hangout Nonton Bareng 🎬 Daftar sekarang: kum.pr/daftarhangout