Jejak pengetahuan astronomi Nusantara sejak lebih dari 1000 tahun lalu: Dari candi hingga prasasti kuno

Wait 5 sec.

● Astronomi Indonesia telah berkembang sejak abad ke-7 dan ke-8 Masehi, jauh sebelum Observatorium Bosscha berdiri pada 1920.● Pendekatan astro-arkeologi mengungkap bahwa orientasi candi erat kaitannya dengan posisi benda langit dan matahari.● Analisis terhadap 80 prasasti membuktikan keahlian ‘wariga’ (ahli astronomi kuno) dalam menghitung konstelasi bintang.Sebagian besar masyarakat mungkin mengira bahwa astronomi di Indonesia baru berkembang pada awal abad ke-20 Masehi, ketika the Dutch East Indies Astronomical Society mendirikan Observatorium Bosscha di Lembang, Bandung pada 1920. Bosscha memang menjadi penanda era astronomi modern. Namun, pengetahuan astronomi di Indonesia sebenarnya telah berkembang jauh lebih awal. Sekitar akhir tahun 1980-an, Hapsoro, seorang arkeolog dari Universitas Indonesia, menggunakan pendekatan astro-arkeologi (arkeoastronomi) untuk mengkaji hubungan antara candi-candi tua dan fenomena langit. Hasilnya menunjukkan bahwa bangunan seperti Candi Gunung Wukir, Kalasan, Sewu, Mendut, Pawon, dan Prambanan di Jawa Tengah dan Yogyakarta tidak dibangun sembarangan. Tata letak candi disesuaikan sejajar dengan arah mata angin atau fenomena langit tertentu. Hal ini membuktikan bahwa pengetahuan astronomi yang dibawa oleh para pendeta dan ilmuwan dari India sudah berpadu dengan kearifan lokal, tercermin dalam arsitektur dan cara pandang masyarakat terhadap alam semesta.Sebagai contoh, bangunan Candi Cetho di Jawa Tengah menghadap ke arah matahari terbenam. Tak heran, banyak orang yang berburu senja di candi ini. Pada waktu tertentu, posisi matahari terbenam bahkan bisa tepat sejajar dengan arah hadap candi—yaitu sekitar 287,88° (diukur searah jarum jam), yang terjadi pada bulan Mei dan Juli setiap tahun dari tahun 1451 hingga 1470. Ini merupakan tahun perkiraan Candi Cetho dibangun. Jejak astronomi pada prasastiSelain pada candi, pengetahuan astronomi para leluhur kita juga terekam dalam prasasti. Prasasti adalah tulisan pada batu atau logam yang biasanya mencatatkan peristiwa penting. Menariknya, prasasti tidak hanya mencatat peristiwa, tetapi juga waktu dengan sangat rinci. Sistem penanggalan yang digunakan dalam prasasti terdiri atas berbagai komponen yang erat kaitannya dengan peredaran benda langit.Sistem penanggalan pada prasasti dibagi menjadi: tahun (śaka), bulan (māsa), tanggal (tīthi), kombinasi hari atau (-warā), siklus 7 hari (wuku), lintasan planet (grahacāra), posisi Bulan (nakṣatra), konstelasi sistem zodiak (rāśi), penguasa konstelasi (dewatā). Ada juga beberapa penyebutan skala waktu kecil, kārana, muhūrtta, dan yoga.Tujuh dari beberapa komponen tersebut ditentukan melalui peredaran benda langit, yaitu: grahacāra, nakṣatra, dewatā, yoga, maṇḍala, parweśa, dan rāśi.Artinya, komponen penanggalan yang tertulis pada prasasti bisa memberikan pengetahuan astronomi terkait penentuan posisi benda langit ketika prasasti tersebut ditetapkan atau dibuat.Saya menganalisis 80 prasasti menggunakan software Hindu Calendar Conversion (HIC) yang bisa diakses secara gratis, untuk menyusun kembali bagian penanggalan pada prasasti yang sudah pudar dan rusak. Hasilnya, prasasti-prasasti Jawa Kuno ternyata menggunakan komponen penanggalan India yang sangat rumit sejak abad ke-7 Masehi. Dengan kata lain, astronomi di Jawa Kuno adalah hasil dari “kejeniusan lokal” dalam mengadopsi sains India.Hal ini sekaligus membuktikan bahwa masyarakat Indonesia pada masa itu sudah punya pemahaman sains yang canggih dan mampu mengelola sistem waktu yang rumit jauh sebelum periode kolonialisme Barat. Baca juga: Mengapa repatriasi prasasti Sangguran dan Pucangan penting untuk membantu Indonesia menghadapi krisis iklim? Keahlian astronomi di masa Jawa KunoDari data yang saya analisis, prasasti tertua yang berhasil teridentifikasi dengan komponen penanggalan nakṣatra berasal dari abad 772 Masehi, yakni Prasasti Tandjong—bernomor XXXV dalam inventaris catatan Brandes—yang ditemukan di Prambanan. Komponen penanggalan prasasti ini tidak dilakukan sembarangan. Para ahli astrologi-astronomi istana masa lalu yang dikenal dengan sebutan wariga menetapkan penanggalan lewat pengamatan atau perhitungan yang disesuaikan dengan kondisi geografis Nusantara.Mereka mengadaptasi teks-teks astronomi dan astrologi Sansekerta seperti Jyotiṣa (sains benda langit) untuk menciptakan sistem penanggalan dan kosmologi lokal yang unik.Dari 80 prasasti yang dianalisis, saya menemukan 80 komponen nakṣatra dan 23 komponen rāśi. Hasil analisisnya dapat dilihat pada gambar berikut:Hasil analisis menunjukkan bahwa kemampuan mereka semakin berkembang dari waktu ke waktu. Pada masa Majapahit, misalnya, penentuan posisi rasi bintang (rāśi) menjadi semakin akurat.Selain itu, hasil analisis saya juga menemukan 26 variasi komponen nakṣatra pada prasasti-prasasti Jawa Kuno yang dianalisis.Artinya, para leluhur kita tidak hanya menyalin teks dari India, tetapi juga mengolah dan menyesuaikannya dengan pengetahuan lokal. Mereka mampu mengembangkan sistem penanggalan, melakukan perhitungan astronomis yang kompleks untuk menentukan hari baik untuk upacara keagamaan dan penetapan tanah simā.Pada akhirnya, semua temuan ini menunjukkan bahwa pemahaman akan pengetahuan astronomi di Indonesia telah ada sejak ribuan tahun silam. Pengetahuan ini dibawa oleh pemuka agama Buddha saat itu dan diadaptasi untuk menyesuaikan dengan pengetahuan lokal.Ini adalah bukti kejeniusan para leluhur kita dalam membaca alam dan mengadopsi budaya luar. Baca juga: Misteri dalam prasasti: Bagaimana perangkat lunak beralgoritma ‘membaca’ batu Singapura Kharisma Nabila menerima dana dari Yayasan Arsari Djojohadikusumo untuk mendukung perkuliahan dan penelitian di S-2 Arkeologi di Universitas Gadjah Mada selama 4 semester. Penulis mengucapkan terima kasih kepada peneliti dari Badan Riset dan Inovasi Nasional, Dewangga Eka Mahardian dan Hedwi Prihatmoko, yang turut membantu penulisan artikel yang dipublikasikan dalam Journal Skycape of Archaeology, dan terima kasih kepada thesis supervisor, Dr. Tjahjono Prasodjo, M.A., yang mendukung penelitian ini. Penulis meng-acknowledge bahwa tulisan ini merupakan bentuk penyebaran pengetahuan dari Thesis S-2 di Universitas Gadjah Mada yang berjudul "Uji Keakuratan Wariga dalam Menentukan Naksatra pada Prasasti Jawa Kuno abad VIII-XV Masehi di Indonesia melalui Pendekatan Arkeoastronomi".