Cinta Pertama Seorang Putri Seharusnya Bernama Ayah

Wait 5 sec.

Ilustrasi ini menampilkan kehangatan pelukan seorang ayah kepada putrinya sebagai simbol cinta pertama yang membentuk rasa aman, harga diri, dan cara seorang perempuan memahami kasih sayang hingga dewasa. Foto: Gemini AIDi tengah maraknya pembahasan tentang hubungan toksik, trauma relasi, dan rendahnya standar anak muda dalam memilih pasangan, ada satu akar persoalan yang sering luput dibicarakan secara jujur: banyak anak perempuan tumbuh tanpa pernah benar-benar merasakan kasih sayang ayah yang sehat. Bukan tanpa ayah secara biologis, melainkan tanpa kehadiran emosional seorang ayah dalam kehidupan mereka.Ayah hadir di rumah, tetapi absen dalam perhatian. Ayah memenuhi kebutuhan finansial, tetapi gagal memenuhi kebutuhan afeksi. Akibatnya, tidak sedikit perempuan tumbuh dewasa dengan kebingungan mendasar tentang seperti apa cinta yang layak diterima.Ketika seorang anak perempuan tidak pernah belajar sejak kecil bahwa dirinya layak dicintai dengan hormat, dihargai dengan lembut, dan diperlakukan dengan penuh perhatian, ia akan sangat mungkin terkejut ketika menerima kasih sayang dari orang lain—termasuk dari pasangan.Dalam banyak kasus, keterkejutan itu justru berubah menjadi ketergantungan. Ia merasa siapa pun yang memberinya perhatian adalah penyelamat. Ia menganggap perlakuan dasar sebagai bentuk cinta luar biasa. Ia sulit membedakan antara kasih sayang tulus dan manipulasi emosional. Karena itulah, cinta pertama seorang putri seharusnya bernama ayah.Ilustrasi ayah dan anak perempuan. Foto: TimeImage Production/ShutterstockPernyataan ini bukan romantisasi berlebihan terhadap figur ayah, melainkan pengingat bahwa peran ayah dalam kehidupan anak perempuan jauh melampaui tugas memberi nafkah. Ayah adalah figur laki-laki pertama yang membentuk persepsi seorang anak perempuan tentang bagaimana laki-laki seharusnya memperlakukan dirinya. Dari ayah, seorang putri belajar apakah dirinya pantas dihormati, pantas didengar, dan pantas dicintai tanpa syarat.Penelitian menunjukkan bahwa keterlibatan ayah berpengaruh signifikan terhadap kesejahteraan psikologis anak perempuan. Sebuah studi terhadap remaja putri di Indonesia menemukan bahwa keterlibatan ayah dalam pengasuhan memberikan kontribusi nyata terhadap psychological well-being remaja perempuan, dengan pengaruh statistik sekitar 20 persen terhadap tingkat kesejahteraan psikologis mereka. Temuan ini menegaskan bahwa ayah bukan pelengkap dalam pengasuhan, melainkan fondasi penting bagi kesehatan emosional anak.Lebih jauh, penelitian lain menunjukkan bahwa kelekatan ayah berkontribusi pada meningkatnya rasa percaya diri, kemampuan regulasi emosi, dan keterampilan komunikasi anak. Anak perempuan yang tumbuh dengan ayah yang hadir secara emosional cenderung lebih percaya diri, lebih stabil secara mental, dan memiliki standar yang lebih sehat dalam menjalin hubungan ketika dewasa.Sebaliknya, ketiadaan figur ayah—baik secara fisik maupun emosional—sering meninggalkan kekosongan psikologis yang tidak sederhana. Banyak perempuan dewasa yang sebenarnya tidak sedang mencari pasangan, tetapi sedang mencari validasi yang dahulu tidak pernah mereka dapatkan dari figur ayah.Ilustrasi anak perempuan menangis saat bersama ayah. Foto: ShutterstockMereka mendambakan rasa aman, perhatian, dan afirmasi yang seharusnya mereka kenal pertama kali dari rumah. Ketika kebutuhan emosional masa kecil itu tidak terpenuhi, hubungan romantis kerap menjadi tempat pelarian.Fenomena ini menjelaskan mengapa sebagian perempuan begitu mudah bertahan dalam hubungan yang tidak sehat. Bukan karena mereka tidak tahu hubungan itu menyakitkan, melainkan karena standar kasih sayang mereka sejak awal sudah rendah. Ketika seseorang hanya terbiasa menerima dingin, sedikit kehangatan akan terasa seperti cinta besar.Di sinilah urgensi peran ayah menjadi sangat nyata. Ayah yang memeluk putrinya ketika ia sedih sedang mengajarkan bahwa emosi tidak perlu dipendam sendirian. Ayah yang mendengarkan cerita putrinya tanpa menghakimi sedang mengajarkan bahwa suaranya berharga. Ayah yang menghormati ibu di depan anak sedang memberi contoh konkret tentang bagaimana laki-laki memperlakukan perempuan. Semua interaksi kecil itu membangun cetak biru psikologis dalam diri anak tentang relasi yang sehat.Sayangnya, budaya pengasuhan di banyak keluarga Indonesia masih menempatkan ayah semata sebagai pencari nafkah. Banyak laki-laki merasa tugasnya selesai ketika kebutuhan materi keluarga terpenuhi. Mereka lupa bahwa anak tidak hanya membutuhkan uang sekolah dan makan malam, tetapi juga pelukan, percakapan, validasi, dan rasa aman emosional. Dalam banyak rumah, ayah diposisikan sebagai figur yang ditakuti, bukan didekati. Dihormati, tetapi tidak dirindukan. Hadir, tetapi asing.Ilustrasi ayah memeluk anak. Foto: Prostock-studio/ShutterstockPadahal, anak perempuan tidak membutuhkan ayah yang sempurna. Mereka hanya membutuhkan ayah yang hadir. Ayah yang bertanya tentang harinya. Ayah yang tahu warna favoritnya. Ayah yang menyadari kapan putrinya sedang sedih meski ia tidak berkata apa-apa. Ayah yang tidak menertawakan tangisnya. Ayah yang tidak menganggap kedekatan emosional sebagai kelemahan.Kehadiran semacam itu membangun self-worth anak perempuan sejak dini. Ia tumbuh dengan keyakinan bahwa dirinya layak diperlakukan baik. Ia tidak mudah terpikat oleh perhatian minimum. Ia tidak mengira posesif adalah cinta. Ia tidak salah mengartikan manipulasi sebagai kepedulian. Ia tidak bertahan dalam hubungan hanya karena takut kehilangan satu-satunya orang yang memberinya perhatian.Studi lain bahkan menunjukkan bahwa keterlibatan ayah berkaitan dengan pembentukan standar relasi dan preferensi pasangan anak perempuan ketika dewasa. Keterlibatan ayah dan self-esteem memiliki pengaruh dalam preferensi pemilihan pasangan perempuan dewasa muda. Dengan kata lain, kualitas hubungan ayah-anak dapat membentuk bagaimana seorang perempuan memilih pasangan di masa depan.Namun, penting untuk ditegaskan bahwa peran ayah bukan berarti menjadikan ayah sebagai satu-satunya penentu masa depan psikologis anak. Banyak perempuan tumbuh kuat tanpa figur ayah ideal.Ilustrasi balita bermain dengan ibu. Foto: Ekkasit A Siam/ShutterstockBanyak ibu tunggal berhasil membesarkan anak dengan luar biasa. Kualitas relasi dalam keluarga tetap lebih penting daripada sekadar struktur keluarga. Namun ketika seorang ayah memang hadir dalam keluarga, keterlibatan emosionalnya bukan bonus, melainkan tanggung jawab moral.Menjadi ayah tidak hanya tentang memberi nama belakang kepada anak. Tidak hanya tentang membayar biaya hidup. Menjadi ayah berarti ikut membentuk cara seorang anak memandang dirinya sendiri. Cara ia memahami cinta. Cara ia menerima perlakuan orang lain. Cara ia menentukan batas dalam relasi.Karena itu, para ayah perlu memahami bahwa setiap sikap dingin, setiap janji yang diingkari, setiap momen ketika putrinya diabaikan, meninggalkan jejak psikologis yang lebih dalam daripada yang mereka kira. Anak mungkin lupa detail peristiwanya, tetapi ia mengingat bagaimana dirinya dibuat merasa tidak penting, tidak didengar, atau tidak cukup berharga.Sebaliknya, setiap perhatian kecil yang diberikan ayah juga membekas lama. Pujian sederhana. Pelukan setelah hari yang buruk. Kesediaan mendengar cerita remeh. Kehadiran di acara sekolah. Semua itu bukan momen biasa bagi anak perempuan. Itu adalah bukti bahwa dirinya dicintai.Dan anak yang tumbuh dengan cinta semacam itu akan membawa standar tersebut hingga dewasa.