Di Balik Pertanyaan "Kapan Menikah?", Ada Sejarah Panjang yang Terlupakan

Wait 5 sec.

ilustrasi perempuan ditanya kapan nikah. Foto: Dok. ChatGPTTekanan yang Terlihat BiasaBeberapa waktu terakhir, saya sering menemukan konten di TikTok dan Instagram yang terasa begitu familiar. Video-video singkat dengan nada bercanda, tetapi menyimpan tekanan yang nyata. Perempuan yang belum menikah di usia tertentu dianggap sebagai tanda bahaya, dianggap ada yang salah, atau setidaknya menjadi bahan candaan yang terus diulang.Anehnya, konten seperti ini justru sering viral. Ditonton ribuan bahkan jutaan kali, diberi tanda suka, dibagikan, lalu diproduksi ulang dalam berbagai versi. Seolah-olah tekanan itu bukan sesuatu yang perlu dipertanyakan, melainkan sesuatu yang wajar.Kemudian, datang momen yang hampir selalu berulang setiap tahun, yaitu Lebaran. Setelah bersalam-salaman dan makan bersama keluarga besar, percakapan perlahan berubah arah. Pertanyaan yang sama muncul berulang kali: "Kapan menikah?" "Sudah ada calon atau belum?" "Jangan terlalu memilih, nanti keburu tua." Yang membuatnya terasa berat bukan hanya pertanyaannya, melainkan juga bagaimana ia datang dari banyak arah sekaligus. Satu orang bertanya, lalu yang lain ikut menimpali. Seolah-olah status belum menikah adalah sesuatu yang harus segera diselesaikan.Saya pernah memperhatikan ekspresi seseorang yang menerima pertanyaan itu. Ia tersenyum, tertawa kecil, mencoba menjawab dengan santai. Namun, ada jeda singkat yang sulit dijelaskan, seolah ada sesuatu yang ditahan. Di situlah saya menyadari bahwa tekanan ini tidak hanya hidup di media sosial, tetapi juga hadir dalam ruang keluarga, dalam tradisi, dalam percakapan sehari-hari. Ia menjadi tuntutan sosial yang halus, tetapi terus-menerus.Dari situ saya mulai bertanya: "Sejak kapan menikah menjadi semacam kewajiban sosial bagi perempuan?" "Mengapa hidup perempuan seolah memiliki batas waktu yang tidak tertulis?" Pertanyaan-pertanyaan ini membawa saya menelusuri jejak sejarah yang panjang.Masa Prasejarah: Ketika Perempuan menjadi Pusat KehidupanIlustrasi perempuan zaman dulu. Foto: Everett Collection/ShutterstockJika kita mundur ke masa prasejarah, ada gambaran yang sangat berbeda. Pada masa itu, perempuan justru menempati posisi yang dihormati. Kemampuan perempuan untuk mengandung dan melahirkan dipandang sebagai sesuatu yang sakral. Di masa ketika manusia belum memahami proses biologis kehamilan, kemampuan tersebut terlihat seperti keajaiban. Perempuan diasosiasikan dengan kekuatan alam dan kesuburan.Saya sering membayangkan bagaimana rasa takjub itu hadir dalam kehidupan manusia saat itu. Perempuan bukan sekadar bagian dari masyarakat, melainkan juga pusat dari keberlangsungan hidup. Jejak penghormatan ini terlihat dalam artefak seperti Venus of Willendorf, sebuah patung kecil yang menggambarkan tubuh perempuan dengan ciri-ciri kesuburan yang menonjol. Tubuh yang hari ini sering dinilai secara sempit, pada masa itu justru dirayakan sebagai simbol kehidupan.Masa Neolitik: Awal Perubahan dan Lahirnya KontrolNamun perubahan besar terjadi ketika manusia memasuki masa Neolitik, ketika pola hidup mulai menetap dan pertanian berkembang. Manusia tidak lagi hanya berburu dan mengumpulkan makanan, tetapi juga mulai menghasilkan dan menyimpan. Dari sinilah muncul surplus, dan dari surplus lahir konsep kepemilikan pribadi.Saya merasa di titik inilah semuanya mulai berubah. Ketika manusia mulai memiliki harta, muncul keinginan untuk mewariskan. Namun, pewarisan membutuhkan kepastian. Kepastian tentang siapa yang berhak menerima. Dari sini, perhatian terhadap garis keturunan menjadi sangat penting.Laki-laki mulai ingin memastikan bahwa anak yang lahir benar-benar berasal dari dirinya. Dari kebutuhan ini, perlahan tubuh perempuan mulai dikontrol. Pernikahan bukan lagi sekadar ikatan sosial, melainkan juga mekanisme untuk menjamin kepastian tersebut.Institusionalisasi Patriarki: Tubuh Perempuan dalam SistemIlustrasi patriarki. Foto: Nubefy/ShutterstockDi sini saya merasa ada sesuatu yang bergeser secara mendasar. Perempuan yang sebelumnya dihormati karena kemampuannya melahirkan, justru mulai dikendalikan karena kemampuan yang sama.Friedrich Engels dalam karyanya—The Origin of the Family, Private Property and the State—menyebut kondisi ini sebagai kekalahan historis pertama perempuan. Ketika kepemilikan pribadi berkembang, laki-laki menguasai alat produksi, dan pada saat yang sama mulai menguasai relasi dalam keluarga. Gerda Lerner juga menjelaskan bahwa pengendalian terhadap tubuh dan reproduksi perempuan menjadi fondasi dari sistem patriarki.Dari sini, pernikahan bukan lagi hanya soal hubungan antarindividu, melainkan juga bagian dari sistem ekonomi dan kekuasaan. Perempuan diharapkan menikah dan melahirkan agar harta dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Dalam posisi ini, perempuan secara tidak langsung menjadi bagian dari sistem produksi, baik secara biologis maupun sosial.Mitologi Kuno: Narasi yang MelegitimasiMenariknya, pola pikir ini kemudian diperkuat oleh berbagai narasi dalam sejarah. Dalam dunia Yunani kuno, Hippokrates yang dikenal sebagai bapak ilmu kedokteran pernah berpendapat bahwa rahim perempuan dapat menjadi sumber penyakit.Ia menggambarkan rahim seolah-olah dapat bergerak di dalam tubuh dan menyebabkan gangguan fisik maupun emosional. Dalam pandangan saat itu, kondisi tersebut dianggap dapat ditenangkan melalui pernikahan dan kehamilan. Dengan demikian, menikah tidak hanya dilihat sebagai kebutuhan sosial, tetapi juga dianggap sebagai kebutuhan kesehatan bagi perempuan.Ilustrasi perempuan. Foto: BongkarnGraphic/ShutterstockSaya selalu merasa ada ironi di sini. Sebuah pandangan yang datang dari tokoh besar justru ikut memperkuat tekanan terhadap perempuan. Meskipun kini terbukti tidak ilmiah, pemikiran tersebut pada masanya membentuk cara masyarakat memandang tubuh perempuan, sekaligus melegitimasi anggapan bahwa perempuan harus menikah untuk menjadi normal.Abad Pertengahan: Ketika Perempuan di Luar Sistem menjadi AncamanKetika memasuki Abad Pertengahan, tekanan terhadap perempuan bahkan menjadi lebih ekstrem. Perburuan penyihir menjadi salah satu contoh paling nyata. Banyak perempuan dituduh sebagai penyihir dan menjadi korban kekerasan.Yang menarik sekaligus mengkhawatirkan adalah siapa yang menjadi sasaran utama. Sebagian besar adalah perempuan tua, janda, atau perempuan yang tidak menikah. Perempuan yang hidup di luar perlindungan laki-laki justru menjadi kelompok yang paling rentan.Saya sering membayangkan sosok perempuan yang sebenarnya memiliki pengetahuan tentang pengobatan herbal, membantu persalinan, dan merawat orang sakit. Dalam kondisi normal, mereka adalah sosok yang penting bagi masyarakat. Namun karena mereka mandiri dan tidak berada dalam kontrol laki-laki, mereka justru dicurigai.Di titik ini, saya merasa sejarah menunjukkan wajahnya yang paling keras. Perempuan tidak hanya didorong untuk menikah, tetapi juga dihukum secara sosial ketika tidak melakukannya.ilustrasi penumpasan perempuan yang dituduh penyihir. Foto: Dok. ChatGPTRefleksi Kontemporer: Warisan yang Masih HidupJika ditarik ke masa sekarang, jejak sejarah itu masih terasa. Tekanan untuk menikah, stigma terhadap perempuan yang belum menikah di usia tertentu, semua itu bukan sesuatu yang muncul begitu saja. Ia adalah hasil dari konstruksi panjang yang terus diwariskan, baik melalui tradisi, percakapan keluarga, maupun media sosial.Label seperti perawan tua tidak hanya bersifat merendahkan, tetapi juga menunjukkan bagaimana perempuan masih sering dinilai dari status pernikahannya. Padahal, realitas hari ini sudah jauh berbeda. Perempuan memiliki ruang untuk belajar, bekerja, berkarya, dan menentukan pilihan hidupnya sendiri.Mengurai dan Memutus RantaiSaya pribadi merasa penting untuk mulai mempertanyakan hal ini: Apakah menikah benar-benar harus menjadi ukuran keberhasilan hidup seseorang? Apakah perempuan harus selalu diikat pada peran yang sama seperti ratusan tahun lalu?Memahami sejarah membuat saya melihat bahwa tekanan ini bukan sesuatu yang alamiah. Ia dibentuk, dipelihara, dan terus direproduksi. Dan jika ia bisa dibentuk, ia juga bisa diubah.Mungkin langkah awalnya sederhana. Berhenti mengulang pertanyaan yang sama. Berhenti menganggapnya sebagai candaan biasa. Dan mulai melihat setiap individu sebagai manusia yang memiliki jalan hidupnya masing-masing, tanpa harus tunduk pada tenggat waktu yang ditentukan oleh masyarakat.