Ilustrasi Obesitas. Foto: ShutterstockPernyataan seorang konten kreator yang menyamakan orang gemuk dengan anjing baru-baru ini memantik kemarahan publik. Bisa jadi, niatnya adalah memotivasi. Namun dalam praktiknya, pernyataan seperti itu justru memperkuat stigma yang sudah lama melekat pada individu dengan obesitas. Di tengah meningkatnya kesadaran tentang kesehatan, cara kita berbicara justru kerap tertinggal, masih penuh label, merendahkan, dan menyederhanakan masalah yang sebenarnya kompleks. Bahasa yang seharusnya menjadi alat edukasi justru berubah menjadi alat penghakiman. Lebih jauh, normalisasi ujaran seperti ini di ruang publik dapat membentuk persepsi kolektif bahwa mempermalukan tubuh orang lain adalah sesuatu yang dapat dibenarkan.Fenomena ini bukan hal baru. Dalam kajian psikologi kesehatan, stigma terhadap tubuh atau weight stigma telah lama diidentifikasi sebagai faktor yang memperburuk kondisi kesehatan. Teori Labeling dari Howard S. Becker menjelaskan bahwa label negatif yang dilekatkan pada individu dapat membentuk identitas sosialnya. Ketika seseorang terus-menerus disebut “malas” atau “tidak punya kontrol diri”, maka label itu perlahan diinternalisasi. Alih-alih mendorong perubahan, stigma justru memperkuat perilaku yang ingin diubah. Dalam konteks obesitas, ini berarti stigma dapat memperparah pola makan tidak sehat dan menjauhkan individu dari layanan kesehatan. Bahkan, berbagai studi menunjukkan bahwa individu yang mengalami stigma berat cenderung menghindari pemeriksaan kesehatan karena takut dihakimi, sehingga kondisi kesehatannya semakin tidak terkontrol.Bukan Hanya Soal “Kebanyakan Makan”Salah satu kekeliruan paling umum dalam memahami obesitas adalah menyederhanakannya sebagai akibat dari perilaku makan semata. Dalam perspektif ilmu gizi, obesitas merupakan kondisi multifaktorial. Faktor genetik memainkan peran penting dalam menentukan bagaimana tubuh menyimpan dan menggunakan energi. Selain itu, gangguan hormonal seperti resistensi insulin dan leptin juga berpengaruh besar.Secara fisiologis, insulin mengatur kadar gula darah, sementara leptin berfungsi sebagai sinyal kenyang. Ketika terjadi resistensi terhadap kedua hormon ini, tubuh kehilangan kemampuan untuk mengatur rasa lapar secara normal. Inilah yang menjelaskan mengapa sebagian individu dengan obesitas tetap merasa lapar meskipun kebutuhan energinya telah terpenuhi.Teori Energy Balance Model dalam gizi memang menjelaskan bahwa obesitas terjadi ketika asupan energi melebihi pengeluaran. Namun pendekatan modern mengakui bahwa keseimbangan ini dipengaruhi oleh banyak faktor lain, termasuk metabolisme basal, kondisi hormonal, kualitas tidur, stres, hingga lingkungan obesogenic, lingkungan yang mendorong konsumsi makanan tinggi kalori dan rendah aktivitas fisik.Kondisi medis tertentu seperti hipotiroidisme, sindrom ovarium polikistik (PCOS), serta efek samping obat-obatan juga dapat memicu peningkatan berat badan. Oleh karena itu, menyederhanakan obesitas sebagai “pilihan gaya hidup” adalah bentuk reduksi yang tidak hanya keliru secara ilmiah, tetapi juga berpotensi menyesatkan kebijakan publik.Dalam konteks Indonesia, Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan menegaskan bahwa setiap individu berhak memperoleh pelayanan kesehatan yang adil dan tanpa diskriminasi. Artinya, individu dengan obesitas seharusnya dipandang sebagai subjek yang membutuhkan pendekatan kesehatan, bukan objek stigma.Bahasa yang Menyembuhkan, Bukan MelukaiCara kita berbicara memiliki dampak nyata terhadap perilaku kesehatan. Dalam teori Health Belief Model, persepsi individu terhadap ancaman kesehatan dan manfaat perubahan sangat dipengaruhi oleh lingkungan sosial, termasuk bahasa yang digunakan di sekitarnya. Jika komunikasi yang diterima bersifat merendahkan, maka yang muncul bukan kesadaran, melainkan resistensi.Pendekatan lain yang relevan adalah Self-Determination Theory yang dikembangkan oleh Edward L. Deci dan Richard M. Ryan. Teori ini menekankan bahwa perubahan perilaku yang berkelanjutan hanya dapat terjadi ketika individu merasa dihargai, memiliki otonomi, dan didukung secara sosial. Stigma dan penghinaan justru merusak ketiga elemen tersebut.Sebaliknya, komunikasi empatik atau compassionate communication terbukti lebih efektif dalam mendorong perubahan. Mengajak dengan data dan pemahaman jauh lebih berdampak dibandingkan mempermalukan di ruang publik. Dalam konteks obesitas, pendekatan ini tidak hanya lebih manusiawi, tetapi juga lebih ilmiah.Data dan fakta ini menegaskan bahwa keluar dari obesitas adalah proses yang membutuhkan pendekatan komprehensif. Perubahan pola makan harus dilakukan secara bertahap dan realistis, mengurangi asupan gula dan makanan ultra-proses, meningkatkan konsumsi serat dan protein, serta menjaga keseimbangan energi. Aktivitas fisik, manajemen stres, dan kualitas tidur juga merupakan komponen penting yang tidak bisa diabaikan.Namun semua intervensi ini akan sulit berhasil jika individu terus berada dalam lingkungan yang penuh stigma. Tidak ada perubahan yang lahir dari rasa dipermalukan. Yang ada justru penarikan diri, makan emosional, dan keengganan untuk mencari bantuan profesional. Pada akhirnya, kita perlu merefleksikan kembali tujuan kita dalam membicarakan obesitas. Apakah kita ingin membantu, atau sekadar menghakimi? Jika tujuan kita adalah kesehatan masyarakat yang lebih baik, maka pendekatan kita harus berbasis ilmu, empati, dan penghormatan terhadap martabat manusia.Obesitas adalah isu kesehatan, bukan bahan olok-olok. Mereka yang mengalaminya bukan “masalah”, melainkan manusia yang membutuhkan dukungan. Dalam upaya keluar dari obesitas, perubahan gaya hidup memang penting. Namun yang tidak kalah penting adalah perubahan cara kita berbicara. Karena pada akhirnya, bahasa bisa melukai, tetapi juga bisa menyembuhkan. (MAR)