Pada 11 Maret 2026, menteri Olahraga Iran, Ahmad Donyamali, menyatakan bahwa “kecil kemungkinan” bagi tim nasional sepak bola negaranya untuk berpartisipasi dalam Piala Dunia 2026. Turnamen dunia itu akan digelar di Amerika Serikat (AS), Kanada, dan Meksiko pada Juni dan Juli mendatang.Prediksi suram tersebut muncul menyusul eskalasi serangan militer AS dan Israel terhadap Iran, yang memicu krisis keamanan hebat di kawasan Timur Tengah.Belum pernah sebelumnya, negara tuan rumah Piala Dunia terlibat dalam peperangan langsung dengan salah satu negara peserta turnamen.Kegagalan diplomasi dalam menyelesaikan ketegangan multilateral yang telah berlangsung lama ini tidak hanya melumpuhkan pasokan minyak dan jalur perdagangan global, tetapi juga mengacaukan salah satu perhelatan olahraga terbesar di dunia. Baca juga: Trump’s war language is aggressive and extreme. It also offers some insight into his thinking Menjunjung perdamaian, menabuh peperanganPada 2025 lalu, Gianni Infantino, Presiden induk organisasi sepak bola dunia—Fédération Internationale de Football Association (FIFA)—mengumumkan peluncuran perdana penghargaan ‘FIFA Peace Prize’ (Penghargaan Perdamaian FIFA).FIFA, ujarnya, bermaksud untuk memberikan pengakuan terhadap: “Upaya luar biasa dari individu-individu yang mempersatukan umat manusia, serta membawa harapan bagi generasi mendatang.”Pada Januari 2026, FIFA menilai Presiden AS Donald Trump sebagai sosok yang paling layak menerima penghargaan tersebut karena perannya dalam gencatan senjata Israel-Hamas serta mediasi konfik seperti Kongo-Rwanda dan lainnya.Berbagai kelompok pembela hak asasi manusia mengkritik pemberian trofi mengingat rentetan perilaku Trump yang justru bertolak belakang dengan nilai penghargaan tersebut, seperti kemitraan AS dengan Israel dalam konflik Gaza, serta “pergeseran otoritarian yang cepat” di bawah pemerintahan Trump yang telah menggerus kebebasan sipil secara drastis di dalam negerinya sendiri.Hanya berselang dua bulan setelah Trump menerima “penghargaan perdamaian” tersebut, AS bahkan bekerja sama dengan Israel untuk memicu peperangan melawan Iran.Tak heran jika sejumlah kritikus berargumen bahwa penghargaan untuk Trump tersebut sepatutnya dicabut kembali.Akankah Iran tetap bermain di Piala Dunia?Usai bertemu Infantino pada 10 Maret, Trump menjamin tim Iran akan “disambut untuk bertanding”.Namun tak lama kemudian, melalui platform media sosial Truth Social, Trump menuliskan pernyataan yang justru berlawanan: tidak akan ada karpet merah bagi Iran:Menurut saya kehadiran mereka di sana tidak tepat, demi kelangsungan hidup dan keselamatan mereka sendiri.Peringatan terselubung ini memicu kecaman keras dari tim nasional Iran, yang menegaskan bahwa: “Tidak ada satu individu pun yang bisa mengeluarkan sebuah negara dari Piala Dunia,” dan merupakan tanggung jawab negara tuan rumah untuk memberikan jaminan keamanan bagi setiap peserta.Para pemain berkeras untuk berpartisipasi, meski menteri olahraga mereka menganggap hal tersebut sebagai harapan yang sia-sia.Pada tahap ini, jadwal pertandingan persahabatan melawan Nigeria dan Kosta Rika di Turki, sebagai ajang persiapan menuju Piala Dunia, tetap berjalan sesuai rencana.Dinamika di dalam dan luar lapanganSesuai jadwal, Iran akan melakoni tiga pertandingan babak penyisihan grup di California dan Seattle. Pertandingan di AS ini menjadi kendala utama bagi Federasi Sepak Bola Iran (FFIRI) yang menaungi tim tersebut.Ketua FFIRI, Mehdi Taj menyatakan:“Kami akan bersiap untuk Piala Dunia. Kami akan memboikot Amerika Serikat, tetapi tidak Piala Dunia.”Oleh karena itu, pihak Iran berharap tim mereka diizinkan bertanding di Kanada atau Meksiko, yang merupakan tuan rumah bersama AS.Meksiko tampak bersedia menyambut usulan tersebut. Pada 17 Maret, Presiden Claudia Sheinbaum menyatakan bahwa negaranya siap menjadi tuan rumah bagi laga fase grup Iran jika situasi mendesak.Namun, FIFA menyatakan keberatan untuk memindahkan pertandingan Iran ke luar wilayah AS.Bagi Iran, kesempatan berpartisipasi tampaknya lebih penting daripada sekadar mengejar trofi. Pasalnya, tim yang melaju ke final akan bertanding di Stadion MetLife, New Jersey. Sementara Iran berkukuh tidak ingin bermain di tanah AS.Di sisi lain, FIFA secara tertutup mulai mempertimbangkan rencana darurat jika Iran benar-benar batal berpartisipasi.Opsi yang muncul mencakup membiarkan posisi Iran kosong—yang berarti kemenangan WO (walkover) bagi lawan—atau menggantikannya dengan tim dari Irak atau Uni Emirat Arab (UEA). Kedua negara tersebut sebelumnya gagal tipis dalam kualifikasi zona Asia (AFC).Meski demikian, Irak saat ini sudah resmi lolos ke Piala Dunia 2026 sebagai negara ke-48 (terakhir) setelah mengalahkan Bolivia 2-1 dalam babak play-off.UEA sebelumnya kalah dari Irak di babak kualifikasi Asia. Kemenangan atas Irak dalam laga play-off antarkonfederasi membuat tim dari Emirat tersebut kemungkinan akan mendapatkan “durian runtuh” dari FIFA untuk melenggang ke Piala Dunia.Politik sepak bolaFIFA menyatakan bahwa mereka adalah lembaga yang “netral secara politik”.Namun, klaim tersebut tidak menghentikan langkah mereka untuk mencoret Rusia dari laga kualifikasi Piala Dunia 2026. FIFA berkeras bahwa keputusan tersebut diambil atas alasan operasional: banyak negara menolak bertanding melawan Rusia. Jika pertandingan tetap dijadwalkan, akan muncul kekhawatiran serius mengenai faktor keamanan.Secara pribadi, Infantino mungkin merasa lega karena Israel tidak lolos ke Piala Dunia kali ini. Pasalnya, kedua pertimbangan tersebut kemungkinan besar akan kembali mencuat menyusul perang di Gaza serta serangan-serangan terbaru terhadap Lebanon dan Iran.Pengunduran diri (atau pelarangan) sebuah tim dari Piala Dunia maupun babak kualifikasi telah terjadi dalam beberapa kesempatan:Pada 1950, biaya perjalanan ke AS menjadi kendala bagi India, Turki, dan Prancis, yang semuanya mundur dari turnamen tersebut. Sementara itu, Skotlandia menolak berpartisipasi setelah kalah dalam British Home Championship dari Inggris.Pada 1958, Indonesia mundur dari babak kualifikasi setelah menolak bertanding melawan Israel.Pada 1994, Yugoslavia dilarang mengikuti babak kualifikasi setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menetapkan boikot olahraga terhadap Serbia dan Montenegro terkait konflik Balkan.Dalam setiap kasus tersebut, FIFA tidak menjatuhkan sanksi lanjutan.Jika Iran mundur dari Piala Dunia kali ini, akankah FIFA menjatuhkan sanksi kepada FFIRI dan, secara tidak langsung, kepada tim nasional putra mereka?Hukuman “kartu kuning” berupa denda finansial sangat mungkin terjadi. Namun, hukuman “kartu merah” juga dimungkinkan—seperti larangan tampil di Piala Dunia 2030.Kendati demikian, FIFA memiliki diskresi untuk tidak menjatuhkan penalti apa pun, terutama karena situasi ini telah melampaui ranah olahraga dan belum pernah memiliki preseden dalam sejarah Piala Dunia.Daryl Adair tidak bekerja, menjadi konsultan, memiliki saham, atau menerima dana dari perusahaan atau organisasi mana pun yang akan mengambil untung dari artikel ini, dan telah mengungkapkan bahwa ia tidak memiliki afiliasi selain yang telah disebut di atas.