Zizi dan Zozo

Wait 5 sec.

Zizi (kiri) dan Zozo (kanan). Foto: Gemini AIDi sebuah sudut galaksi yang dipenuhi debu bintang berwarna merah muda, hiduplah dua makhluk kecil bernama Zizi dan Zozo.Zizi adalah seorang pemimpi yang tubuhnya berpendar cahaya biru lembut, sementara Zozo adalah seorang praktisi yang tubuhnya sekeras batu meteor, tetapi memiliki hati sehangat inti planet. Mereka tinggal di atas sebuah asteroid kecil bernama Astro-9, yang hanya cukup luas untuk sebuah rumah pohon perak dan kebun bunga kristal.Peluit Angin yang HilangSuatu pagi, Zizi terbangun dan menyadari bahwa Angin Melodi tidak lagi bertiup di Astro-9. Biasanya, angin itu melewati lubang-lubang di tebing kristal dan menghasilkan musik yang menenangkan. Tanpa musik itu, bunga-bunga kristal mereka mulai meredup."Zozo! Musiknya hilang!" seru Zizi panik, cahayanya berkedip-kedip tidak stabil.Zozo yang sedang memperbaiki teleskopnya menoleh. Ia tidak bicara banyak, tapi langsung mengambil tas perkakasnya. "Kita cari lubangnya. Mungkin tersumbat debu kosmik," jawabnya tenang.Perjalanan ke Sisi GelapMereka berjalan menuju Puncak Bersiul, bagian tertinggi di asteroid mereka. Di sana, mereka menemukan bahwa lubang-lubang resonansi tertutup oleh gumpalan Kabut Hitam yang lengket—sisa-sisa dari badai komet semalam.Zizi mencoba meniupnya dengan napas cahayanya, tapi kabut itu terlalu berat.Zozo mencoba mencongkelnya dengan linggis besi, tapi kabut itu malah makin lengket.Zizi terduduk lemas. "Kalau musiknya tidak kembali, kebun kita akan membeku, Zozo."Zozo terdiam sejenak, lalu ia melihat ke arah Zizi. "Zizi, kau ingat apa yang membuat kabut takut? Kabut hanya ada di tempat yang sepi. Kita harus membuat suara sendiri."Kekuatan DuetZozo mulai memukul-mukul badannya yang keras seperti drum—tuk, tak, dung! Ritmenya kuat dan stabil. Zizi memahami maksud sahabatnya. Ia mulai bernyanyi, suaranya melengking tinggi dan jernih, berpadu dengan ketukan perkusi Zozo.Keajaiban terjadi. Getaran dari suara mereka membuat Kabut Hitam itu bergetar hebat. Sedikit demi sedikit, kabut itu pecah dan menguap menjadi butiran cahaya kecil. Begitu lubang terakhir terbuka, Angin Melodi kembali masuk dengan siulan yang lebih merdu dari sebelumnya.Pelajaran dari BintangMalam itu, bunga kristal mereka bersinar lebih terang dari biasanya. Zizi dan Zozo duduk di dahan rumah pohon mereka, memandang galaksi yang luas."Ternyata," bisik Zizi, "alat tercanggihmu dan cahaya terindahku tidak berguna kalau kita bekerja sendiri-sendiri."Zozo mengangguk kecil, memberikan Zizi sepotong biskuit luar angkasa. "Tepat. Kau musiknya, aku detak jantungnya."Dan di tengah kesunyian semesta, Astro-9 tetap bernyanyi, menjaga dua sahabat itu dalam simfoni yang abadi.