Habiburokhman soal Inflasi Pengamat: Klaim Kritik, tapi Malah Propaganda Hitam

Wait 5 sec.

Ketua Komisi III DPR RI sekaligus Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Habiburokhman di Gedung DPR Ri, Senayan, Jakarta Pusat pada Jumat (15/8). Foto: Argya Maheswara/kumparanKetua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, menilai pernyataan Sekretaris Kabinet Letkol Teddy Indra Wijaya soal fenomena inflasi pengamat ada benarnya. Menurutnya, ada pihak yang mengeklaim pengamat tetapi yang disampaikan justru propaganda hitam."Ada pengamat yang mengeklaim sebagai pengkritik, tetapi yang disampaikan lebih merupakan propaganda hitam, kebohongan dan kebencian," kata Habiburokhman kepada wartawan, Senin (13/4)."Bisa saja motif mereka hanyalah merebut kekuasaan baik dengan jalur konstitusional maupun dengan jalur inkonstitusional," sambungnya.Sementara, lanjut Habiburokhman, banyak juga pengamat yang menyampaikan kritik kepada pemerintahan Prabowo. Kritik-kritik yang benar sudah banyak ditindaklanjuti. "Namun demikian tidak semua kritik bagus, ada juga kritik yang tidak membangun dan bahkan merusak alias toxic," kata dia.Tak Boleh MenggeneralisirMeski demikian, Habiburokhman menilai tidak boleh menggeneralisir semua kritikan itu tidak bagus. Begitu juga menggeneralisir semua kritikan bagus."Kritikan yang bagus kita tindaklanjuti, sementara kritikan yang tidak bagus kita sikapi dengan edukasi kepada rakyat agar jangan sampai justru menjadi racun bagi demokrasi," ucapnya.Dia menyinggung kritikan yang disampaikan oleh Saiful Mujani kepada Presiden Prabowo yang dinilai sebagai ajakan untuk menjatuhkan. Hal itu, perlu dikritisi."Kita tahu bahwa Saiful Mujani adalah elite politik kaya raya yang selama ini berseberangan dengan Presiden Prabowo, termasuk pada Pilpres lalu. Apakah kritik Saiful Mujani murni disebarkan untuk perbaikan, atau hal tersebut hanya operasi politik partisan," kata dia."Kalau toh Saiful Mujani bernafsu untuk merebut kekuasaan, itu merupakan hak beliau. Namun terlalu besar ongkos politik yang harus dibayar oleh rakyat jika ada pihak yang menginginkan perebutan kekuasaan secara inkonstitusional," sambungnya.Saiful Mujani. Foto: SMRCMenurut Habiburokhman, Prabowo punya waktu setidaknya lima tahun untuk memenuhi janji politiknya. Rakyat, kata dia, bisa mengevaluasi pada pemilu 2029."Jika kinerja Pak Prabowo tidak memuaskan rakyat bisa hentikan mandat, namun jika dianggap memuaskan rakyat bisa lanjutkan memberi mandat untuk 5 tahun berikutnya," ucapnya."Yang jelas Presiden Prabowo berkomitmen menjaga demokrasi, Itulah sebabnya, hingga saat ini setelah hampir 1,5 tahun Presiden Prabowo berkuasa, tidak ada seorang pun warga negara Indonesia dijatuhi hukuman karena mengkritik atau bahkan menghina Presiden Prabowo," lanjutnya.Fenomena Inflasi PengamatSeskab Teddy Indra Wijaya di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (10/4/2026). Foto: Zamachsyari/kumparanSebelumnya, Seskab Teddy menyoroti fenomena yang ia sebut sebagai “inflasi pengamat” di tengah maraknya opini publik dari berbagai kalangan.Ia menilai, jumlah pengamat saat ini meningkat pesat, tapi tidak semuanya memiliki latar belakang maupun data yang relevan. Menurut Teddy, banyak pengamat menyampaikan analisis yang tidak berbasis fakta.Ia mencontohkan munculnya pengamat di berbagai bidang, mulai dari pangan hingga militer, yang dinilai tidak sesuai dengan keahliannya.“Kemudian yang ketiga, saya mau jawab juga. Sekarang ini, ada satu fenomena. Apa itu? Ada yang namanya inflasi pengamat. Jadi, banyak sekali pengamat. Ada pengamat beras, tapi dia background-nya bukan di situ. Ada pengamat militer, ada pengamat luar negeri. Dan pengamat-pengamat itu, datanya tidak sesuai fakta. Datanya keliru,” ujar Teddy di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta Pusat, Jumat (10/4).Teddy menyebut, sebagian pengamat telah lama berupaya membentuk opini publik, bahkan sebelum Prabowo Subianto menjabat Presiden.“Dari sebagian besar, pengamat-pengamat itu adalah pengamat-pengamat yang sejak dulu sudah berusaha memengaruhi warga, membentuk opini publik. Bahkan sejak Pak Prabowo belum menjadi presiden. Jadi pengamat-pengamat itu sudah memengaruhi warga,” kata Teddy.Meski demikian, Teddy mengeklaim tingkat kepercayaan publik terhadap Presiden Prabowo tinggi. Ini menjadi bukti masyarakat tidak sepenuhnya terpengaruh opini para pengamat tersebut.“Tapi faktanya apa? Faktanya, lebih dari 96 juta warga lebih percaya Pak Prabowo. Tidak percaya mereka. Nah, itu adalah bukti nyata kepercayaan publik. Bukan suatu asumsi,” katanya.Teddy menegaskan perbedaan pendapat tetap diperbolehkan dalam demokrasi. Ia mengingatkan agar kritik disampaikan secara bertanggung jawab dan tidak menimbulkan kecemasan di masyarakat.