Petugas menata karung beras di Gudang Bulog Tambak Aji, Semarang, Jawa Tengah, Senin (6/4/2026). Foto: Aprillio Akbar/ANTARA FOTOPerum Bulog mendapat subsidi bunga pinjaman sebesar 2 persen dari pemerintah untuk mendukung penyerapan gabah petani hingga 4 juta ton pada 2026. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhan melihat subsidi tersebut membuat beban bunga yang diterima Bulog dapat ditekan.Menurut dia, kepastian subsidi bunga tersebut telah mendapat persetujuan dari pemerintah. Bulog telah bertemu langsung dengan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang memberikan lampu hijau atas dukungan tersebut."Harapan kami dengan bantuan ini Bulog semakin sehat, tidak terlalu banyak bunga, bunga yang tidak terlalu besar yang harus ditanggung, sehingga ke depan Bulog lebih bisa mandiri,” kata Rizal di Kantor Bulog, Senin (13/4).Bulog mencatat total anggaran penyerapan untuk gabah, kedelai, dan jagung mencapai Rp 68,6 triliun. Dari target penyerapan setara 4 juta ton gabah setara beras, realisasi hingga 13 April 2026 telah mencapai 48,7 persen atau sekitar 1,9 juta ton gabah setara beras.Di sisi stok, Bulog mencatat cadangan beras nasional mencapai 4,27 juta ton per 13 April 2026. Rizal optimistis jumlah tersebut akan terus meningkat dan diproyeksikan menembus 5 juta ton dalam waktu 7 hingga 10 hari ke depan.Bulog Serap 4 Juta Ton Gabah Tanpa KualitasDirektur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani di Kantor Perum Bulog, Senin (13/4/2026). Foto: Widya/kumparanUntuk kebijakan penyerapan, Rizal menjelaskan terdapat perubahan dalam aturan penyerapan gabah melalui penekanan Instruksi Presiden (Inpres) Nomor 4 Tahun 2026 Tentang Pengadaan dan Pengelolaan Gabah/Beras Dalam Negeri serta Penyaluran Cadangan Beras Pemerintah Tahun 2026-2029.Dia menjelaskan, jika sebelumnya penyerapan dilakukan tanpa memperhatikan kualitas (anyquality), namun kini tetap diperbolehkan namun dengan syarat tambahan yaitu dipanen dalam usia panen.Kebijakan ini diterapkan untuk mencegah praktik panen dini yang dapat kualitas hasil produksi. “Karena pengalaman yang lalu masih ada mohon maaf, sebagian kecil yang belum saatnya dipanen harus, dipanen. Mungkin petaninya lihat tetangganya udah panen, dapat uang, mungkin sebelahnya buru-buru mau panen padahal belum usia panen seperti itu,” tutupnya.