Situasi terkini aliran sungai depan mal di kawasan Bundaran HI, Jakarta Pusat, Jumat (10/4) siang. Foto: Nauval Pratama/kumparanPemprov DKI Jakarta berencana memberantas ikan sapu-sapu dengan cara memperluas operasi penangkapan ikan tersebut ke seluruh wilayah. Alasannya, kini sudah terjadi ledakan populasi ikan sapu-sapu hingga dinilai merusak ekosistem sungai dan mengancam ikan lokal.Lantas seperti apa cara paling efektif dalam mengurangi populasi ikan sapu-sapu?Ahli Ikan dan Konservasi Ikan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB, Charles P. H. Simanjuntak, Ph.D, mengatakan metode penangkapan massal dinilai belum cukup efektif untuk mengendalikan ledakan populasi ikan sapu-sapu. Ikan sapu-sapu atau dikenal juga dengan nama umum Amazon sailfin catfish (Pterygoplichthys pardalis), adalah ikan asing introduksi yang mampu berkembang dengan sangat pesat."Ikan sapu-sapu termasuk “a breeding machine” karena memiliki fekunditas (jumlah telur) yang sangat tinggi, bisa mencapai 19,000 telur per satu ekor ikan betina; mereka mampu bereproduksi beberapa kali dalam satu tahun; satu ekor ikan jantan dapat membuahi dua ekor ikan betina; ikan jantan menjaga telur (parental care) di dalam liang yang mereka gali sampai menetas sehingga sintasan bisa mencapai lebih dari 90%; mampu bereproduksi pada ukuran yang masih kecil (23,9–28,99 cm untuk jantan; dan 13,0–25,98 cm untuk betina), sehingga mempercepat siklus infasi," jelasnya.Ikan sapu-sapu termasuk ikan omnivora atau pemakan segala dan memiliki kelenturan (plasticity) dalam memanfaatkan berbagai jenis makanan yang ada di perairan.Menurutnya tidak ada predator alami yang mengendalikan populasi ikan sapu-sapu di sungai-sungai di Jakarta, termasuk di Sungai Ciliwung. Di habitat asalnya, di Sungai Amazon, Amerika Selatan, predator alami ikan sapu-sapu adalah ikan Common Snook (Centropomus undecimalis), ikan Tarpon (Megalops atlanticus), buaya Spectacled Caiman (Caiman crocodilus), dan burung Neotropic Cormorant (Phalacrocorax brasilianus)."Tidak adanya predator spesifik dan efektif di ekosistem non-asli, seperti Sungai Ciliwung di Jakarta, adalah alasan utama mengapa ikan sapu-sapu menjadi spesies asing invasif yang begitu sukses dan sulit untuk dikendalikan," kata Charles dalam keterangannya kepada kumparan, dikutip Minggu (12/4).Ahli Ikan dan Konservasi Ikan dari Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB Charles P. H. Simanjuntak, Ph.D. Foto: Dok. PribadiIa mengungkapkan bahwa cara yang paling efektif adalah menggabungkan beberapa metode secara terpadu. Mulai dari pencegahan, penangkapan, hingga dikontrol secara biologis.“Untuk mengendalikan ledakan populasi ikan sapu-sapu di suatu ekosistem air tawar, diperlukan kombinasi tindakan pencegahan (preventive measures), penyingkiran secara fisik (physical extermination), dan kontrol biologis (biological control),” ucap Charles.Ia menjelaskan, dari sisi pencegahan, Pemprov Jakarta perlu memperkuat regulasi perdagangan ikan hias dan meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak melepas ikan sapu-sapu ke perairan alami.“Tindakan pencegahan meliputi penguatan dan implementasi regulasi melalui memperkuat regulasi perdagangan ikan peliharaan (ornamental fish) untuk mencegah pelepasan ikan sapu-sapu secara sengaja atau tidak sengaja ke perairan alami, serta melaksanakan kampanye kesadaran publik untuk mendidik masyarakat tentang risiko ekologis yang ditimbulkan,” ujarnya.Seorang konten kreator menjaring ikan sapu-sapu di Kali Ciliwung, Jakarta, Senin (6/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparanSelain itu, kata Charles, teknologi pemantauan dini juga dinilai penting untuk menekan penyebaran.“Deteksi dan pemantauan dini melalui DNA lingkungan (eDNA) juga terbukti sangat sensitif dan efektif untuk mendeteksi keberadaan dan penyebaran ikan sapu-sapu sehingga memungkinkan intervensi dini sebelum populasi menjadi tidak terkendali,” ucapnya.Dalam kondisi populasi yang sudah tinggi, penangkapan tetap diperlukan, namun harus dilakukan secara lebih terarah.“Penyingkiran secara fisik dapat dilakukan melalui strategi penangkapan ikan target yang selektif, khususnya terhadap individu muda (ukuran kurang dari 30 cm) yang terbukti dapat menyebabkan keruntuhan populasi,” jelasnya.Ia juga menekankan pentingnya pelibatan masyarakat dalam pengendalian populasi.“Perburuan ikan berbasis komunitas mampu menekan populasi dalam skala lokal, meskipun keberhasilan jangka panjang dapat terbatas oleh imigrasi (masuknya ikan sapu-sapu) dari daerah lain sehingga perlu dilakukan secara sistematis di sepanjang aliran sungai. Ikan sapu-sapu yang telah ditangkap juga perlu dimusnahkan untuk mengurangi jumlahnya,” papar dia.Warga menunjukkan hasil tangkapan ikan sapu-sapu di aliran Kali Bekasi, kawasan Margahayu, Bekasi Timur, Jawa Barat, Rabu (1/4/2026). Foto: Iqbal Firdaus/kumparanDari sisi biologis, Charles menjelaskan, pemanfaatan predator alami seperti ikan baung (Hemibagrus wyckioides) dan betutu (Oxyeleotris marmorata) juga dapat membantu, meskipun hanya efektif pada fase juvenil ikan sapu-sapu dengan ukuran sekitar 0,6–10 cm.“Pengendalian secara biologi dapat dilakukan dengan memanfaatkan predator alami seperti ikan baung dan betutu yang dapat memangsa ikan sapu-sapu pada fase juvenil. Namun, individu yang lebih besar umumnya tidak dimangsa karena memiliki duri pertahanan,” ujarnya.Dia juga mengusulkan upaya pemanfaatan ikan sapu-sapu untuk mengurangi populasi. Namun, tidak dalam konteks untuk dikonsumsi.“Pemanfaatan ikan sapu-sapu sebagai sumber daya dapat didorong, tetapi tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi jika berasal dari perairan tercemar karena berpotensi mengandung logam berat,” ungkapnya.