PM Inggris Desak Instagram dan TikTok Setop Fitur Infinite Scroll pada Anak

Wait 5 sec.

Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menyampaikan pernyataan di 10 Downing Street usai serangan AS dan Israel ke Iran yang diklaim sebagai langkah pencegahan terkait dugaan program nuklir Teheran, di London, (28/2/2026). Foto: Jonathan Brady/REUTERSPerdana Menteri Inggris, Keir Starmer, meminta platform media sosial seperti Instagram dan TikTok mengambil langkah tegas untuk menghentikan kebiasaan anak muda menghabiskan waktu berjam-jam menonton video tanpa henti.Pernyataan tersebut disampaikan pada Senin (13/4), di tengah upaya pemerintah Inggris mempertimbangkan pembatasan akses media sosial bagi anak-anak.Saat ini, Inggris sedang menguji berbagai kebijakan untuk menangani anak kecanduan medsos, mulai dari larangan penggunaan, jam malam digital, hingga pembatasan waktu penggunaan aplikasi, guna melihat dampaknya terhadap kualitas tidur, kehidupan keluarga, dan prestasi sekolah.“Kami sedang berkonsultasi apakah perlu ada larangan bagi anak di bawah 16 tahun,” kata Starmer kepada BBC Radio. “Namun yang sama pentingnya, mekanisme scrolling yang membuat kecanduan ini menurut saya sangat bermasalah. Itu harus dihilangkan.”Dilansir Reuters, Starmer menilai perusahaan media sosial secara sengaja merancang algoritma yang mendorong perilaku adiktif. Ia juga menyebut banyak orang tua kini meminta pemerintah untuk turun tangan.Ilustrasi anak main media sosial. Foto: Frame Stock Footage/ShutterstockLangkah Inggris ini sejalan dengan sejumlah negara yang mulai menaruh perhatian lebih terhadap dampak negatif media sosial. Australia menjadi negara pertama yang melarang penggunaan media sosial bagi anak di bawah 16 tahun pada Desember lalu. Indonesia dan Yunani juga mulai menerapkan kebijakan serupa.Pemerintah Inggris menyatakan lebih dari 45.000 orang telah memberikan tanggapan dalam konsultasi publik terkait keamanan anak di dunia digital. Masyarakat masih dapat menyampaikan pendapat hingga tenggat waktu pada 26 Mei 2026. Menteri Teknologi Inggris, Liz Kendall, mengatakan hal ini dilakukan karena pemerintah ingin mendengar langsung dari berbagai pihak.“Kami ingin mendengar dari para orang tua yang khawatir dengan waktu yang dihabiskan anak-anak mereka di dunia maya dan apa yang mereka lihat,” ujarnya.“Kami ingin mendengar dari remaja yang paling memahami seperti apa tumbuh di era media sosial, serta dari keluarga mengenai pandangan mereka soal jam malam digital, chatbot AI, dan fitur-fitur yang membuat ketagihan.”Langkah yang diambil sejumlah negara termasuk Inggris menegaskan meningkatnya perhatian pemerintah terhadap dampak media sosial terhadap generasi muda, sekaligus membuka peluang regulasi yang lebih ketat di masa depan.