Sumber : Pixabay, foto di ambil oleh Shourav Sheikh Di tengah narasi bahwa ekonomi Indonesia tetap stabil, muncul fenomena yang kian nyata: banyak Gen Z ingin bekerja di luar negeri. Dari Jepang hingga Australia, peluang global terlihat lebih menjanjikan dan terus ramai diperbincangkan di media sosial.Secara makro, kondisi ekonomi memang relatif terjaga. Inflasi masih terkendali, pertumbuhan berada di kisaran 5 persen, dan kebijakan Bank Indonesia cenderung berhati-hati dalam menjaga stabilitas.Namun di level nyata, tidak semua anak muda merasakan hal yang sama. Lapangan kerja formal yang berkualitas masih terbatas, sementara jumlah lulusan baru terus meningkat setiap tahun.Akibatnya, persaingan menjadi semakin ketat. Tidak sedikit Gen Z yang bekerja tidak sesuai bidangnya atau masuk ke sektor informal demi bertahan.Di sisi lain, akses informasi global membuat Gen Z lebih sadar peluang. Mereka dengan mudah membandingkan gaji, karier, dan kualitas hidup di berbagai negara.Ketika peluang di luar negeri terlihat lebih menjanjikan, keputusan untuk merantau menjadi rasional, bahkan strategis, bukan sekadar mengikuti tren.Fenomena ini tentu memiliki dua sisi. Di satu sisi, pekerja migran menyumbang devisa melalui remitansi yang membantu ekonomi keluarga dan negara.Namun di sisi lain, jika tren ini didominasi tenaga muda terdidik, Indonesia berisiko mengalami brain drain yang dapat melemahkan daya saing jangka panjang.Pada akhirnya, fenomena ini bukan sekadar tren biasa. Ini adalah sinyal bahwa stabilitas ekonomi perlu diiringi dengan peluang nyata agar generasi muda tidak hanya bertahan, tetapi juga berkembang di negerinya sendiri.