Pegawai Kantoran di Tiongkok - via Unsplash (https://unsplash.com/id/foto/pria-menguap-saat-bekerja-di-komputer-di-kantor-NkhrHeESfak?utm_source=unsplash&utm_medium=referral&utm_content=creditShareLink)Di balik pesatnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok yang sering kita kagumi, terdapat sebuah realita kelam yang kerap tertutup oleh gemerlap gedung pencakar langit di Shenzhen atau Beijing. Realita itu bernama 996: sebuah sistem kerja di mana karyawan dituntut bekerja dari jam 09.00 pagi hingga 09.00 malam, selama enam hari dalam seminggu. Totalnya, 72 jam per minggu. Angka ini tidak hanya jauh melampaui standar kesehatan, tetapi juga melanggar batas legal pemerintah Tiongkok sendiri yang menetapkan 44 jam seminggu.Budaya ini bukanlah fenomena baru. Akarnya ditarik ke tahun 1970-an, saat Tiongkok membuka diri terhadap ekonomi global. Pertumbuhan ekonomi menjadi harga mati untuk keluar dari kemiskinan. Dalam konteks itu, lembur bukan lagi soal produktivitas, melainkan simbol dedikasi dan nasionalisme. Ironisnya, budaya ini terus diwariskan hingga ke era startup teknologi. Perusahaan besar, demi mengejar target pertumbuhan yang ambisius namun enggan merekrut lebih banyak staf, justru memeras tenaga karyawan yang ada.Yang lebih menyesakkan adalah bagaimana sistem ini menormalisasi kehadiran fisik di kantor sebagai tolok ukur kesetiaan. Sering kali, karyawan tetap berada di meja kerja bukan karena pekerjaan belum selesai, melainkan karena takut dicap sebagai orang yang "tidak tahu malu" jika pulang lebih awal.Kita sering mendengar narasi dari para petinggi perusahaan, seperti Jack Ma, yang menyebut sistem 996 sebagai "berkah". Namun, realita di lapangan berbicara sebaliknya. Dampak kesehatan fisik dan mental yang ditimbulkan sangat nyata. Kelelahan kronis, gangguan tidur, nyeri otot, hingga tekanan mental yang memicu depresi adalah konsekuensi yang tak terelakkan.Lebih dari itu, sistem ini justru kontraproduktif. Secara medis dan psikologis, otak yang dipaksa bekerja 72 jam seminggu akan kehilangan fokus dan rentan melakukan kesalahan. Alih-alih mendapatkan efisiensi, perusahaan justru menghadapi risiko burnout massal. Bahkan, sejarah mencatat kasus-kasus tragis di mana pekerja nekat mengakhiri hidupnya karena tidak kuat menanggung beban kerja dan ketidakadilan upah.Namun, perlawanan mulai muncul. Sejak 2019, gelombang protes dari generasi muda Tiongkok kian menguat. Mulai dari pembuatan blacklist perusahaan yang mempraktikkan 996 oleh para programmer, hingga acara televisi yang secara berani membahas isu overwork. Pemerintah pun akhirnya mulai mengambil langkah tegas dengan aturan yang lebih berpihak pada pekerja, demi mencegah krisis depopulasi dan menjaga keberlangsungan tenaga kerja di masa depan.Yang paling ironis dari fenomena ini adalah ketika Tiongkok perlahan mulai mencoba membenahi sistem kerja mereka, beberapa investor di Silicon Valley, Amerika Serikat, justru ingin mengadopsi sistem 996. Ini adalah bukti bahwa obsesi terhadap pertumbuhan ekonomi yang cepat sering kali membutakan kita terhadap martabat manusia.Sebagai penutup, kita perlu merenungkan kembali apakah sukses harus dibayar dengan mengorbankan hidup itu sendiri? Kerja keras adalah kebaikan, namun eksploitasi bukanlah sebuah "berkah". Kita harus berhenti mengagungkan budaya lembur yang tidak manusiawi. Produktivitas sejati tidak diukur dari berapa lama seseorang duduk di depan layar, melainkan dari kualitas output dan keseimbangan hidup yang terjaga. Jika dunia ingin maju, kita tidak butuh sistem kerja yang menguras nyawa, melainkan sistem yang menghargai setiap detik waktu manusia di dalamnya.