Ilustrasi ikan sapu-sapu. Foto: Joan Carles Juarez/ShutterstockIkan sapu-sapu mendadak menjadi artis ibukota selama sepekan terakhir. Mulai dari pemengaruh, masyarakat biasa bahkan hingga pemerintah turut memberi perhatian lebih pada spesies ikan ini. Semuanya berawal dari aksi seorang pemengaruh bernama Arief Kamarudin yang rutin melakukan pembasmian ikan-ikan ini di daerah sungai ibu kota. Kisah ini kemudian terekskalasi dengan pengakuan penggiat kuliner yang menyatakan bahwa ikan ini adalah salah satu bahan baku untuk membuat produk kuliner di Jakarta. Pengakuan tersebut kontras membuat hal ini ramai diperbincangkan di kalangan masyarakat.Ikan sapu-sapu terkenal sangat adaptif dengan kondisi tempat tinggalnya. Sehingga jika ikan tersebut hidup di daerah yang tercemar, maka tubuh ikan tersebut juga akan memiliki kandungan yang sama. Pada beberapa penelitan, telah terbukti bahwa daging ikan sapu-sapu mengandung timbal, merkuri dan kadmium. Selain itu, ikan sapu-sapu juga memiliki sifat invasif yang mengancam populasi ikan asli. Hal ini lantas memicu gerakan berantas ikan sapu-sapu di berbagai wilayah.Ikan sapu-sapu hanyalah satu dari banyak penyebab krisis lingkungan di Indonesia. Melihat timbangan kerusakan alam, manusia jelas menjadi penyebab perusak lingkungan terbesar di Indonesia. Mulai dari penebangan hutan liar, penangkapan satwa dilindungi hingga penghasil emisi dan polusi alam terbesar di dunia. Di tengah kondisi kondisi alam yang semakin kritis, kesadaran manusia akan hal tersebut justru semakin menipis. Semua terlalu peduli dengan diri sendiri hingga lupa pada alam sekitarnya.Alam yang BerubahSadarkah anda bahwa daerah-daerah yang dahulunya di Indonesia tidak pernah terjadi banjir dan longsor, kini menjadi sangat rentan? Tidak tanggung, BNPB mencatatkan bahwa pada tahun 2025 terjadi sebanyak 4.727 kejadian bencana. Bencana paling banyak terjadi tentunya tidak lain dan tidak bukan yaitu banjir dengan total kejadian sebanyak 2.009 kejadian. Jumlah ini sendiri meningkat tajam dari tahun 2024 dengan total kejadian banjir sebanyak 1.420 kejadian dari total 3.420 kejadian bencana.Dampak kerusakan bencana alam yang ditimbulkan tidak main-main. Pada tahun 2025, tercatat sebanyak 12 juta penduduk harus mengungsi dan 1.666 orang meninggal dunia. Total kerusakan rumah yang terjadi adalah 281 ribu rumah. Langkah yang kemudian dilakukan pemerintah adalah melakukan realokasi penduduk ini ke daerah baru yang tidak terkena bencana. Pembukaan hutan kembali dilakukan dengan dalih menolong yang terluka. Alih-alih berdamai dengan alam, yang dilakukan sejauh ini justru hanya lari dari masalah dengan masalah baru.Sejauh mata memandang, belum ada pergerakan yang reformatif dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kementerian Kehutanan di Indonesia. Sebaliknya, deforestasi terus terjadi di seluruh wilayah Indonesia. Global Forest Watch mencatat setiap tahun, Indonesia paling sedikit kehilangan 250 ribu hektar hutan. Mengingat ini, tentu merasa wajar jika alam semakin murka pada kehidupan manusia.Pemerintah yang HijauSejak Indonesia merdeka hingga kini, Indonesia belum pernah rasanya punya pemimpin yang memang menjadikan perbaikan alam sebagai prioritas utamanya. Begitu pun pada pemerintahan saat ini, terlihat bahwa pada tahun 2025, anggaran Kementerian Kehutanan hanya sebesar 5,46 tiliun rupiah dan Kementerian Lingkungan Hidup sebesar 754,6 miliar rupiah. Bertolak belakang tentunya dengan anggaran salah satu program nasional saat ini yang bernilai sebesar 268 triliun rupiah, yaitu Badan Gizi Nasional dengan program Makan Bergizi Gratis (MBG).Selain itu, inisitiatif pemerintah juga dinilai sangat sedikit. Ada begitu banyak program yang bisa digagas untuk memulihkan kondisi alam. Mulai dari pengaturan tata letak kota, perumahan vertikal, penanaman kembali hutan, penghentian hak guna usaha perusahaan dan masih banyak lagi. Tapi semua kegiatan ini tidak pernah menjadi program unggulan. Alasannya adalah program ini dinilai tidak populer di kalangan masyarakat. Fakta namun berbicara hal lain, kini banyak masyarakat yang telah peduli dan memulai gerakan. Tetapi pemerintah seolah mengambil sikap antipati.Fenomena ikan sapu-sapu mungkin menjadi sebuah awal titik terang bagi pemerintahan yang hijau. Fenomena ini membuktikan bahwa saat ini mulai banyak masyarakat yang peduli dengan lingkungan sekitar. Pemerintah harusnya sadar dan mulai berbenah. Kehidupan manusia masih panjang dan alam harus menjadi sahabat baik manusia untuk bertahan. Sekarang kita hanya bisa menunggu apakah pemerintah akan mulai bergerak, atau memang harus trending dahulu.