Pasangan disabilitas Zaenal Rahman dan Leginah membuat kue rangi dan wingko babat, Senin (27/4/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparanPasutri disabilitas asal Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, Zaenal Rahman (48) dan Leginah (50) menggantungkan nasib dengan berjualan kue Rangi dan Wingko Babat. Meski hidup dengan keterbatasan, keduanya tetap bersemangat.Zaenal dahulunya terlahir normal. Namun, kecelakaan kerja pada 2005 silam membuat kaki kanannya kurang berfungsi normal. Sedangkan istrinya, Leginah mengalami pengapuran tulang sejak 2020, sehingga sulit untuk berjalan.Keduanya berdomisili di Desa Gondoharum, Kecamatan Jekulo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah. Kendati mengalami keterbatasan saat beraktivitas, keduanya tetap bersemangat membuat kue Rangi dan Wingko Babat untuk menyambung hidup."Pada tahun 2005 saya bekerja di Maluku sebagai pemanjat pohon cengkeh. Saya jatuh dari ketinggian sekitar lima meter," katanya kepada kumparan, Senin (27/4).Pasangan disabilitas Zaenal Rahman dan Leginah membuat kue rangi dan wingko babat, Senin (27/4/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparanAkibat kecelakaan kerja itu, kaki kanan Zaenal tak lagi dapat dijadikan tumpuan untuk berjalan. Apabila berjalan jauh, ia harus menggunakan alat bantu jalan atau kruk."Kalau berjalan jarak dekat, masih bisa tetapi tidak bisa digunakan untuk tumpuan. Saya tumpuannya menggunakan kaki kiri. Kalau berjalan jauh harus menggunakan kruk," sambungnya.Rasa frustasi dialaminya selepas jatuh dari pohon. Ia harus rehat selama enam tahun dari aktivitas bekerja. Berjalannya waktu, di tahun 2018 dia membuka usaha jualan kue Rangi dan Wingko Babat bersama istrinya."Karena kaki kanan sudah tidak normal, saya tidak bisa lagi kerja berat. Kemudian saya putuskan untuk buka usaha membuat kue Rangi dan Wingko Babat," terangnya.Kue rangi dan wingko babat yang dibuat pasangan disabilitas Zaenal Rahman dan Leginah, Senin (27/4/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparanKue Rangi merupakan makanan ringan yang bahan bakunya berasal dari ketan, kelapa, gula dan garam. Kue ini rasanya manis dan gurih. Sementara Wingko Babat berbahan dasar ketan, kelapa, gula, vanili, dan air kelapa. Wingko Babat memiliki rasa manis disertai rasa kelapa.Awal pertama membuka usaha berjualan kue Rangi dan Wingko Babat tidak langsung membuahkan hasil. Keterbatasan modal untuk usaha kala itu membuatnya harus memutar otak agar tetap bisa berjualan.Zaenal dan istri menawarkan produk buatannya ke warung di sekitar rumahnya. Akan tetapi kue buatannya tak langsung laku, kadang justru kembali utuh."Sering tidak habis kalau saya titipkan di warung-warung. Kami mencari jalan lain dengan menawarkan ke pasar di daerah Kabupaten Pati. Dari situ mulai banyak pesanan sampai sekarang," jelasnya.Setahun berjalan, keduanya mulai menemukan pasar untuk produk kue Rangi dan Wingko babat. Kini setiap harinya Zaenal selalu mengantarkan pesanan kue Rangi dan Wingko Babat ke Pasar Jambean di Kabupaten Pati menggunakan sepeda motor yang sudah dimodifikasi menjadi roda tiga."Kami berdua masak setiap sore. Kemudian, saya kirim ke pasar setelah subuh sebanyak 150 pcs setiap harinya. Harga per pcs Rp 1100," ujarnya.Sepeda motor yang dimodifikasi oleh Zaenal untuk bekerja menjual kue rangi dan wingko babat di pasar. Foto: Vega Maarijil Ula/kumparanHasil penjualan kue Rangi dan Wingko Babat dapat digunakannya menyambung hidup untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Sisanya digunakan untuk modal dan menabung.Menjalani hidup dengan keterbatasan dan hidup sederhana tak membuat keduanya putus asa. Cibiran kerap ditujukan kepada keduanya. Salah satu bentuknya berupa kalimat "sama-sama cacat memangnya bisa apa".Namun, keduanya tak pernah menyerah dengan keadaan. Setiap sore, dapur menjadi tempat bahu membahu bagi kedua pasangan ini. Di hari ini, Senin (27/4), Zaenal bertugas mengaduk adonan untuk Wingko Babat. Sedangkan istrinya membuat kue Rangi.Wingko Babat buatannya dimasak selama 25 menit. Sedangkan kue Rangi dimasak dengan durasi lebih singkat, yakni 10 menit.Pasangan disabilitas Zaenal Rahman dan Leginah membuat kue rangi dan wingko babat, Senin (27/4/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparanProduk Wingko Babat buatan Zaenal bersama istri mampu bertahan hingga empat hari. Sedangkan kue Rangi relatif lebih cepat, yakni hanya dua hari.Keduanya selalu bekerja sama untuk membuat kue Rangi dan Wingko Babat. Lalu, esok harinya selepas Subuh, Zaenal mulai menjajakan dagangannya."Terkadang ada pesanan juga dari warga sini untuk acara pernikahan. Ya alhamdulillah selalu bersyukur," imbuhnya.Sementara itu, Leginah menceritakan, pengapuran tulang dialaminya sejak 2020. Pada area pinggang hingga kaki kirinya tidak dapat berfungsi normal. Setiap berjalan, ia harus menggunakan alat bantu. Terkadang ia menggunakan kursi plastik sebagai tumpuan."Kalau jalan yang naik turun terkadang tidak kuat dan harus hati-hati. Kalau dibuat jalan yang datar masih bisa berjalan dengan alat bantu," ujarnya.Pasangan disabilitas Zaenal Rahman dan Leginah membuat kue rangi dan wingko babat, Senin (27/4/2026). Foto: Vega Maarijil Ula/kumparanKendati sudah memiliki pekerjaan berjualan kue Rangi dan Wingko Babat, ia masih memiliki keinginan untuk dapat berjualan di atas kendaraan roda tiga seperti Viar maupun Tossa.Ia berpendapat berjualan menggunakan motor Viar atau Tossa lebih enak karena bisa berpindah-pindah tempat. Selain itu dagangannya bisa dipasarkan lebih luas."Ada keinginan bisa jualan es juga menggunakan Viar atau Tossa supaya bisa berpindah-pindah jualannya," imbuhnya.