Stella Tegaskan Etika AI, Soroti Pentingnya Berpikir Kritis di Era Digital

Wait 5 sec.

BorneoFlash.com, JAKARTA - Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Wamendiktisaintek) Stella Christie menegaskan pengembangan kecerdasan buatan (AI) di Indonesia harus berlandaskan nilai etika.Dalam keterangannya di Jakarta, Kamis, Stella menyatakan manusia memiliki keunggulan utama berupa kemampuan berpikir abstrak yang tidak boleh hilang di era AI. Ia menjelaskan AI sangat bergantung pada data dalam jumlah besar, sementara manusia mampu memahami konsep secara mendalam meski hanya dari pengalaman terbatas.“Kemampuan kita untuk membuat abstraksi dan memahami konsep dari sedikit data tidak boleh hilang. Kita harus menjaganya dalam pendidikan dan kehidupan sehari-hari karena hal ini menjadi keunggulan kita dibandingkan AI,” ujarnya.Ia menekankan sistem pendidikan harus memperkuat kemampuan berpikir kritis dan konseptual, bukan sekadar mengajarkan keterampilan teknis. Stella juga menjelaskan perkembangan AI lahir dari pemikiran kritis, seperti pertanyaan “Bisakah mesin berpikir?” yang diajukan seorang matematikawan.Melalui contoh teknologi seperti GPS yang lahir dari riset fundamental, ia mendorong generasi muda menekuni sains sebagai investasi jangka panjang.“Oleh karena itu, kita harus terus belajar berpikir dan berkontribusi pada pengetahuan baru demi kemanusiaan. Ini menjadi tugas utama pendidikan tinggi,” katanya.Stella juga mengakui penggunaan AI masih memunculkan pro dan kontra di masyarakat. Ia menilai AI memiliki dampak ganda: AI dapat menimbulkan ancaman keamanan siber dan menghasilkan informasi tidak akurat, tetapi juga dapat membantu verifikasi informasi serta memperluas akses, khususnya di bidang pendidikan.Karena itu, Stella menegaskan pengembangan AI harus menjawab kebutuhan Indonesia untuk mengejar ketertinggalan sekaligus menjadi alat untuk menyelesaikan persoalan kompleks berbasis data. (*)