Klimatologi curah hujan periode Agustus menggunakan TRMM satelit (1998-2010). CC BY-ND● Sabuk hujan tropis atau ITCZ adalah sabuk awan tebal dan hujan lebat di wilayah khatulistiwa.● Pergerakan dinamis sabuk hujan tropis menentukan siklus musim hujan dan kemarau Indonesia.● Rekonstruksi data masa lalu membantu ilmuwan memprediksi dampak perubahan iklim bagi penduduk Nusantara.Pernahkah kamu terpikir mengapa Indonesia cuma punya dua musim, dan kenapa musim hujannya bisa begitu awet? Jawabannya, ada di intertropical convergence zone (ITCZ) atau zona konvergensi intertropika.Sederhananya, ITCZ adalah semacam “sabuk hujan” yang melingkar di sekitar wilayah khatulistiwa Bumi (Gambar 1). Di daerah ini, angin dari belahan Bumi utara dan selatan bertemu. Saat mereka bersua, udara yang hangat dan lembap terdorong naik ke atas, mendingin, dan akhirnya membentuk awan-awan badai raksasa yang menghasilkan curah hujan tinggi di wilayah yang dilintasinya. Nah, karena dekat dengan garis khatulistiwa, Indonesia menjadi sering dilalui sabuk hujan tadi. Itulah mengapa musim bisa begitu awet, karena ITCZ “parkir” cukup lama di Indonesia.Singkatnya, sabuk inilah yang menjadi mesin utama penggerak musim hujan. CC BY-NC Gambar 1 ITCZ atau sabuk hujan tropis yang melintasi sepanjang equator bumi periode JJA (panel atas) dan DJF (panel bawah). Kontur kuning 10 mm/hari digunakan mengikuti tengah nilai hujan ringan menurut BMKG. Data dari CMAP periode 1979-2025 (Xie dan Arkin). CC BY-NC Sebagai penyedia curah hujan utama, ITCZ adalah urat nadi bagi kehidupan masyarakat Indonesia yang sangat bergantung pada pertanian, perkebunan, dan ketersediaan air bersih. Kapan dan bagaimana ITCZ terjadi?ITCZ melintasi wilayah Indo-Pacific Warm Pool (IPWP) atau kolam panas Indo-Pasifik yang memiliki suhu permukaan laut rata-rata sekitar 28°C. Indonesia berada tepat di jantungnya. Terbentuknya ITCZ sangat bergantung pada keseimbangan energi matahari dan suhu permukaan laut. Di kolam Indo-Pasifik, laut menyerap panas sangat kuat, sehingga menjadi sangat hangat. Peta kolam panas Indopasifik yang juga menjadi pemantik berkumpulnya hujan di wilayah Nusantara. (NOAA) Pemanasan ini kemudian memicu penguapan air laut secara besar-besaran dan membuat daerah tersebut seperti ‘kosong udara’ sehingga menciptakan area bertekanan rendah. Akibatnya, udara dari wilayah lintang tinggi di utara dan selatan kemudian tersedot masuk ke area tekanan rendah untuk mengisi kekosongan. Saat massa udara berkumpul, mereka terdorong naik ke atas dan secara masif mendingin di atmosfer, lalu uap airnya berubah menjadi awan tebal dan turun kembali ke Bumi sebagai hujan badai tropis. Posisi ITCZ selalu dinamis, bergerak layaknya pendulum mengikuti belahan Bumi mana yang sedang mengalami puncak pemanasan matahari. Oleh karenanya, posisi ITCZ berubah sepanjang tahun.Ia bergerak ke utara dan selatan ekuator menutupi pulau-pulau besar seperti Sumatera, Jawa, hingga Papua, serta laut-laut di sekitarnya (Gambar 1).Dalam skala musiman, pergerakan ITCZ juga terkait erat dengan sistem Monsun Asia - Australia. Pada Desember-Maret, ITCZ berada tepat di atas Indonesia bagian selatan (seperti Jawa hingga Nusa Tenggara) mendatangkan puncak musim hujan. Sementara pada Juni hingga September, ITCZ bermigrasi ke belahan Bumi utara menuju daratan Asia, meninggalkan Indonesia dalam kondisi musim kemarau.Mengapa harus merekonstruksi ITCZ periode lampau?Umumnya ilmu iklim lebih berfokus pada proyeksi iklim mendatang alih-alih mempelajari iklim lampau. Padahal dengan iklim lampau, kita bisa mempelajari, melihat sistem iklim secara holistik, dan memitigasi fenomena berbahaya yang menyertainya.Bila dipaksakan, catatan cuaca modern hanya mampu merekam sejak tahun 1950, bahkan satelit cuaca baru tersedia pada tahun 1979 lewat projek Global Precipitation Climatology Project. Sehingga mempelajari iklim lampau mampu melihat lebih jauh peristiwa-peristiwa besar di dalamnya, salah satunya rekonstruksi ITCZ. Baca juga: Dengan mengamati cangkang, kita tahu bahwa laut menyimpan jauh lebih banyak karbon dibanding hutan Contohnya, dengan merekonstruksi ITCZ ribuan tahun lalu melalui fosil karang, endapan gua (stalagmit), atau sedimen laut, para ilmuwan dapat menguji model iklim dan melihat bagaimana ITCZ bereaksi terhadap perubahan alami ekstrem, seperti naik-turunnya permukaan laut atau letusan gunung berapi. Pada periode lampau, wilayah pergerakan ITCZ di Indonesia sangat dinamis. Pada Zaman Es atau Last Glacial Maximum (sekitar 17.000 tahun lalu), wilayah perairan dangkal Indonesia barat (Paparan Sunda) dan timur (Paparan Sahul) masih berupa daratan kering. Hal ini secara drastis mengubah sumber penguapan air, sehingga ITCZ melemah dan memicu kekeringan luas di sebagian besar Nusantara. Memasuki periode Holosen Awal (sekitar 9.500 tahun lalu), es mencair dan menenggelamkan Paparan Sunda, sehingga pasokan kelembapan kembali melimpah dan ITCZ kembali mendatangkan hujan lebat ke Indonesia. Hal ini menarik, karena perubahan muka air laut periode lampau ternyata berpengaruh terhadap fenomena ITCZ (lihat garis hitam panel bawah Gambar 2). Gambar 2. Pengukuran Stalagmit (δ¹⁸O) di Liang Luar, Flores dan lokasi palaeoklimat lainnya. a-d perbandingan δ¹⁸O Liang Luar di 2 lokasi (biru dan pink) (c) dengan δ¹⁸O di Dongge, China (orange) (a), Gunung Buda, Borneo (merah) (b) dan Botuvera, Brazil (hijau) (d). Umur Th/U pada pengukuran Liang Luar ditunjukkan dengan 2 kali standar deviasi pada bagian atas gambar. e, Liang Luar δ¹⁸O yang disesuaikan dengan SST IPWP dan volume es global. f, rekonstruksi tinggi muka air laut dari δ¹⁸O bentik Foraminifera, Laut Merah (lingkaran abu-abu) dengan rata-rata 5 langkah (garis hitam), dan Barbados (segitiga hijau) dan terumbu karang Tahiti (kotak kuning). Garis merah putus-putus menunjukkan peningkatan muka air laut dan presipitasu di Liang Luar. g, insolasi periode Desember pada 200S. Latar kuning mengindikasikan periode pendinginan Younger Dryas di Greenland. Sumber: Griffiths (2009) CC BY Di sisi lain, sejarah juga mencatat ITCZ dapat terkunci di posisi tertentu selama ratusan hingga ribuan tahun. Misalnya, pada pertengahan periode Holosen (sekitar 6 ribu tahun lalu), ITCZ telah tertahan lebih jauh di utara ekuator. Akibatnya, bagian selatan Indonesia mengalami kondisi yang lebih dingin dan kering. Sebaliknya, pada periode anomali iklim pendinginan utara seperti Younger Dryas (12.900 - 11.700 tahun lalu), ITCZ terdorong jauh ke selatan. Walhasil, daerah Indonesia bagian selatan saat itu kebagian hujan yang berlimpah.ITCZ dan pengaruhnya terhadap manusiaITCZ sebagai sabuk hujan tropis bisa saja mengalami periode tidak normal atau terganggu oleh fenomena iklim lain seperti El Nino dari timur atau Indian Ocean Dipole (IOD) dari barat. Ketika terjadi, dampaknya bisa menjadi bencana alam mematikan. Saat ITCZ gagal membawa hujan yang cukup (bergeser menjauh), Indonesia akan dilanda kemarau panjang yang memicu gagal panen, krisis pangan, krisis air bersih, dan meluasnya kebakaran hutan dan lahan yang parah. Ini terjadi secara ekstrem pada tahun 1994 dan 1997. Sebaliknya, jika ITCZ membawa konveksi curah hujan yang terlalu kuat, hal ini memicu bencana hidrometeorologis berupa banjir bandang dan tanah longsor. Bahkan penelitian terbaru tahun 2025, menunjukkan pembakaran biomassa, seperti pembukaan lahan, kebakaran hutan, pembakaran sampah, rumah tangga dan limbah pertanian dapat mengganggu pergeseran ITCZ ini. Pengetahuan tentang pergerakan sabuk hujan ini sangat penting bagi wilayah padat penduduk seperti kawasan maritim Indonesia untuk memprediksi ancaman kekeringan atau banjir di masa mendatang. Baca juga: Prediksi iklim Jawa tahun 2100: kekeringan di lumbung pangan, hujan ekstrem di hulu sungai Eko Supriyadi terafiliasi dengan BMKG dan IPB University. Eko Supriyadi menerima dana dari BMKG.