BorneoFlash.com, KUKAR - Pelaksanaan Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalimantan Timur (Kaltim) kembali membuka persoalan klasik di daerah, yakni lemahnya perencanaan anggaran. Hal ini disoroti Anggota DPRD Kutai Kartanegara (Kukar), Andi Faisal.Ia menilai, munculnya kekurangan anggaran menjelang pelaksanaan kegiatan berskala besar seperti Porprov menunjukkan bahwa perencanaan pemerintah daerah belum sepenuhnya matang sejak awal. “Agenda seperti Porprov ini bukan kegiatan mendadak. Seharusnya sudah bisa diantisipasi jauh-jauh hari,” ucap Andi, pada Jum'at (24/4/2026). Menurutnya, kondisi ini memperlihatkan adanya persoalan dalam penentuan skala prioritas anggaran. Ia menegaskan, kegiatan yang membawa nama daerah seharusnya mendapatkan perhatian serius sejak tahap perencanaan, bukan justru dicarikan solusi ketika waktu sudah mendesak.“Jangan sampai terkesan kegiatan besar baru dipikirkan ketika sudah dekat pelaksanaan,” tegasnya.Andi juga mengingatkan bahwa keterbatasan anggaran tidak boleh terus dijadikan alasan tanpa diikuti evaluasi menyeluruh terhadap pola pengelolaan keuangan daerah.Ia menilai perlu ada keberanian untuk menata ulang prioritas, terutama terhadap program-program yang dinilai kurang berdampak langsung bagi masyarakat.“Kalau memang anggaran terbatas, berarti harus ada yang dikorbankan. Tinggal bagaimana pemerintah menentukan mana yang benar-benar prioritas,” ujarnya. Selain itu, ia menyoroti pentingnya transparansi dalam pengelolaan anggaran, agar publik dapat mengetahui arah kebijakan yang diambil pemerintah daerah, khususnya dalam mendukung kegiatan strategis.. Menurutnya, momentum Porprov seharusnya tidak hanya dilihat sebagai kegiatan seremonial, tetapi juga sebagai cerminan keseriusan daerah dalam membangun sektor non-infrastruktur.“Ini soal bagaimana pemerintah menunjukkan keberpihakan pada pembangunan yang lebih luas, bukan hanya fisik,” bebernya. Ia menegaskan, DPRD akan terus mengawal agar kebijakan anggaran ke depan lebih terarah dan tidak lagi menimbulkan persoalan serupa setiap kali menghadapi agenda besar daerah.“Ke depan, perencanaan harus lebih disiplin. Jangan sampai selalu ada cerita yang sama setiap tahun,” pungkas Andi. (*)