Harga Solar Non Subsidi Melejit, Pengamat Sebut Bisa Dorong Peralihan ke PHEV

Wait 5 sec.

Ilustrasi mobilPlug-in Hybrid Electric Vehicle (PHEV). Foto: Dok. Motor1 Kenaikan harga BBM solar non subsidi dinilai berpotensi mengubah perilaku konsumen di segmen menengah ke atas. Lonjakan biaya operasional membuat pengguna kendaraan diesel mulai mempertimbangkan alternatif yang lebih efisien dalam jangka panjang.Pengamat otomotif sekaligus akademisi dari Institut Teknologi Bandung, Yannes Martinus Pasaribu, menilai kondisi ini bisa menjadi momentum peralihan ke teknologi elektrifikasi seperti hybrid maupun plug-in hybrid electric vehicle (PHEV). Terlebih, karakter PHEV dinilai masih relevan dengan kebutuhan konsumen yang menginginkan performa sekaligus efisiensi.“Kenaikan harga BBM diesel non subsidi secara rasional akan meningkatkan total cost of ownership (TCO) kendaraan diesel sekitar 1,25–1,4 kali dari sebelumnya,” kata Yannes kepada kumparan, Selasa (22/4/2026).Ilustrasi solar. Foto: brodin/ShutterstockIa menjelaskan, kenaikan biaya operasional tersebut sudah cukup signifikan untuk memicu perubahan preferensi konsumen. Dalam teori ekonomi, lonjakan harga pada komponen utama seperti bahan bakar bisa mendorong peralihan ke teknologi lain yang lebih efisien.“Ini cukup signifikan untuk mengubah perilaku konsumen, karena dalam teori ekonomi, kenaikan lebih dari 20 persen pada komponen dominan sudah cukup mendorong substitusi teknologi misalnya beralih ke hybrid atau PHEV,” katanya.Wuling Eksion PHEV di IIMS 2026. Foto: Sena Pratama/kumparanLebih lanjut, ia menilai biaya per kilometer kendaraan diesel kini menjadi kurang kompetitif dibandingkan teknologi elektrifikasi. Hal ini membuat kendaraan hybrid maupun PHEV memiliki daya tarik lebih, terutama bagi pengguna dengan mobilitas tinggi.“Ketika harga solar non subsidi naik, biaya per km kendaraan diesel meningkat, sementara hybrid atau PHEV menawarkan biaya energi per km lebih rendah, menggunakan listrik dan efisiensi mesin,” ujarnya.Pengisian daya baterai mobil listrik Toyota Prius PHEV. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparanMenurutnya, dalam jangka menengah, konsumen rasional akan mulai menghitung ulang total biaya kepemilikan kendaraan. Jika selisih biaya semakin besar, maka peralihan ke teknologi baru menjadi pilihan yang masuk akal.“Sehingga secara rasional menjadi substitusi yang lebih efisien dalam jangka menengah bagi mereka yang tingkat operasionalnya tinggi,” tutupnya.Artinya, kenaikan harga solar tak hanya berdampak pada biaya perjalanan, tetapi juga berpotensi mempercepat transisi pasar otomotif menuju kendaraan elektrifikasi, khususnya di segmen konsumen yang sensitif terhadap biaya operasional.Pengisian daya baterai mobil Toyota Prius PHEV. Foto: Aditya Pratama Niagara/kumparan