Toyota Dukung Proyek Bioetanol, Siap Perkuat Transisi Energi hingga E10

Wait 5 sec.

SVPTechnology & Innovation Pertamina, Oki Muraza melakukan pengisian secara simbolis bahan bakar Bioethanol pada acara Pengisian Perdana Bioethanol Sorgum Pertamina & Toyota yang diselenggarakan di ICE BSD, Tangerang pada Rabu (24/7/2024). Foto: PertaminaPemerintah melalui Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM mulai mengakselerasi pengembangan bioetanol nasional sebagai bagian dari strategi transisi energi. Langkah ini dilakukan lewat kerja sama dengan Toyota untuk memperkuat bauran energi terbarukan di sektor otomotif.Wakil Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus Wakil Kepala BKPM, Todotua Pasaribu, menyampaikan bahwa pihaknya telah bertemu dengan CEO Toyota Motor Asia, Masahiko Maeda, guna membahas kelanjutan proyek tersebut. Pertemuan ini menjadi tindak lanjut dari komunikasi yang sudah terjalin sejak tahun lalu.“Tentunya ini adalah tindak lanjut yang kedua kali. Sebelumnya waktu itu tahun kemarin kami ada ke Tokyo bertemu dengan Mr. Maeda,” ujar Todotua disitat dari Antara, Kamis (24/42026).Peluncuran BBM RON 95 E5 (Bioethanol) Pertamax Green 95 di SPBU MT Haryono, Senin (24/7/2023). Foto: Fariza Rizky Ananda/kumparanIa menjelaskan, bioetanol menjadi salah satu komponen penting dalam peta jalan energi nasional. Pemerintah menargetkan penerapan mandatori campuran bahan bakar, termasuk skema E10 dalam beberapa tahun ke depan.“Etanol ini adalah salah satu energi bauran terbarukan yang kita rencanakan untuk develop. Pemerintah sudah menetapkan kita maksimal mandatori di tahun 2028,” katanya.Menurutnya, bioetanol memiliki keunggulan dibanding biodiesel karena sumber bahan bakunya lebih beragam. Mulai dari tebu, singkong, sorgum, hingga aren, yang dinilai dapat memperkuat ketahanan energi sekaligus mendorong sektor pertanian.Dalam tahap awal, proyek ini akan dimulai dengan pembangunan pabrik bioetanol di Lampung. Wilayah ini dipilih karena memiliki ketersediaan bahan baku yang melimpah untuk mendukung produksi etanol.“Rencananya ini akan dilakukan untuk pertama kali pembangunan plan bioetanolnya itu di wilayah Lampung. Kenapa Lampung? Karena Lampung adalah salah satu provinsi yang sangat kuat untuk feedstock supply-nya terhadap etanol ini,” jelas Todotua.Logo Toyota. Foto: Kazuhiro Nogi / AFPProyek ini merupakan kolaborasi antara Pertamina New Renewable Energy dengan mitra Jepang, di mana Toyota Tsusho direncanakan menjadi partner utama. Selain itu, dukungan riset dan pengembangan juga akan melibatkan lembaga dari Jepang.Pembangunan pabrik ditargetkan dimulai pada kuartal III hingga IV 2026 dengan kapasitas awal sekitar 60 ribu kiloliter per tahun. Pemerintah menargetkan fasilitas ini dapat mulai beroperasi paling lambat pada 2028.“Kalau berjalan sih seharusnya maksimal 2028 sudah bisa produksi,” ujarnya.Dari sisi otomotif, ia menegaskan bahwa kendaraan Toyota pada dasarnya sudah siap menggunakan bahan bakar berbasis etanol hingga 100 persen. Hal ini membuka peluang besar bagi implementasi energi alternatif di Indonesia ke depan, tergantung pada kesiapan pasar dan kebijakan harga.