Program Populis Jalan Terus, Fisika Makin Terpojok

Wait 5 sec.

Ilustrasi siswi di depan papan tulis dengan rumus matematika, merepresentasikan pembelajaran sains di sekolah. Foto: UnsplashDi tengah hiruk pikuknya berbagai program populis pemerintah, perhatian terhadap sains dasar seperti fisika justru terus merosot. Fenomena ini muncul di saat wacana pengembangan teknologi nasional semakin gencar, tetapi minat generasi muda khususnya Gen Z terhadap ilmu fisika menunjukkan tren penurunan yang mengkhawatirkan menurut pejabat pemerintah.Direktur Desimasi dan Pemanfaatan Sains dan Teknologi Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains dan Teknologi (Kemendiktisaintek), Yudi Darma dalam diskusi media di Jakarta, menyatakan bahwa, minat di program studi seperti fisika kini menurun cukup signifikan. Bahkan, beberapa universitas disebut telah menutup jurusan fisika karena sepinya peminat."Interested in STEM fields, particularly physics, is waning. Several universities have even closed their physics programs".Fenomena yang MengkhawatirkanMenurut Yudi, penurunan ini bukan sekadar tren sementara, tetapi mencerminkan sebuah masalah struktural dalam minat ilmiah generasi muda. Ia menunjukkan bahwa sains, terutama fisika, adalah pondasi yang menjadi dasar dari berkembangnya teknologi masa depan mulai dari teknologi digital hingga riset inovasi tinggi.Fenomena ini juga terasa di tingkat pendidikan tinggi, di mana Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) mengalami penurunan peminat terbesar di prodi fisika dibandingkan program lain. "Sains teknologi itu mungkin agak kaku ya, peminatnya menurun sekarang" tambah Yudi dalam pernyataannya.Minat rendah terhadap fisika dipandang bukan sekadar hasil preferensi personal siswa, tetapi juga cerminan tantangan sistem pendidikan yang belum berhasil mengaitkan fisika dengan kebutuhan nyata kehidupan dan industri.Penyebab Utama: Sistem Pendidikan dan Persepsi PublikPengamat pendidikan menilai bahwa salah satu penyebab utama turunnya minat adalah karena metode pembelajaran yang dianggap kurang menarik dan terlalu kaku. Wakil Dekan FMIPA Universitas Gadjah Mada, Dr. Wiwit Suryanto, menyebut bahwa pendekatan pembelajaran yang lebih menekankan hafalan ketimbang eksplorasi nyata membuat fisika jauh dari jangkauan minat banyak siswa.Hal ini mengindikasikan bahwa sebagian pengajar belum memanfaatkan media pembelajaran atau aplikasi demonstratif untuk menjelaskan keterkaitan rumus fisika dengan fenomena nyata. Kondisi tersebut diperparah oleh pendekatan pengajaran yang kurang interaktif dan cenderung monoton.Bahkan dalam sejumlah diskusi pendidikan, muncul ungkapan satir yang menyebut bahwa "guru yang membuat fisika membosankan adalah kriminal", sebagai bentuk kritik terhadap praktik pembelajaran yang dinilai gagal membangun rasa ingin tahu.Selain itu, kurangnya promosi sains di media populer dan minimnya role model ilmuwan yang bisa menginspirasi generasi muda turut memperlemah daya tarik fisika sebagai pilihan studi.Dampak Terhadap Kemajuan TeknologiMinat belajar fisika yang menurun tidak bisa dipandang sebelah mata. Sebagai landasan dari hampir semua inovasi teknologi modern dari semikonduktor hingga komunikasi digital, kekosongan pada minat ini dapat menjadi momok bagi daya saing nasional di era teknologi tinggi.Yudi Darma bahkan menyebut bahwa Indonesia berisiko hanya menjadi pemakai teknologi, bukan produsen atau pencetus ide, jika tren ini terus berlanjut.Upaya Pemerintah untuk Mengubah TrenMenanggapi masalah ini, Kemendiktisaintek kini merancang berbagai strategi untuk memulihkan minat terhadap fisika. Salah satunya adalah menggabungkan seni dan sains dalam pembelajaran, agar fisika tidak lagi dipandang sebagai ilmu yang "kaku" dan sulit didekati siswa.Strategi ini diharapkan dapat menciptakan pengalaman belajar yang lebih atraktif serta relevan dengan kehidupan sehari-hari generasi muda tanpa harus menurunkan kualitas ilmiah.Tantangan ke DepanNamun, mengubah budaya pendidikan bukan tugas yang terbilang mudah. Para pengamat menilai bahwa tanpa perubahan sistemik di kurikulum, metode pengajaran dan dukungan media, upaya pemerintah mungkin hanya berdampak sementara.Di saat program-program populis terus mendapat perhatian publik, isu daya saing ilmiah seperti fisika justru sering kali terpinggirkan dari agenda utama diskusi pendidikan nasional.